KEDIRI, JP Radar Kediri- Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) terus mempromosikan wisata Kabupaten Kediri. Di stan Festival Kuno Kini 2025, disparbud menawarkan berbagai informasi terkait tourism, culture, dan local wisdom.
Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri Puspita Dwi Andamsari mengatakan, daya tarik wisatawan bukan hanya ke lokasi wisata saja.
Tapi juga culture atau kebudayaannya. Apalagi saat ini banyak generasi muda yang ingin terkait dengan sejarah atau asal usul suatu daerah.
Baca Juga: Buka Lapak di Festival Kuno Kini 2025, Warga Kabupaten Kediri Bebas Tulis Kritik untuk Dewan
Di wilayah Kabupaten Kediri ada legenda yang menjadi pembeda dengan daerah lain. Yaitu legenda Gunung Kelud. Dengan cerita percintaan hingga kemistisannya.
“Setia ada event seperti ini. Kisah yang selalu kami angkat terkait dengan legenda Gunung Kelud. Kisah tentang pengkhianatan cinta antara Dewi Kilisuci dan Lembu Suro,” imbuhnya sembari menceritakan detail legenda terbentuknya Gunung Kelud itu.
Cerita-cerita lisan inilah yang mampu menarik kunjungan wisatawan. Seperti contohnya adalah Bali. Wilayah Bali tidak hanya tourismnya saja yang bagus tapi juga kebudayaannya. “Orang kesana ingin melihat tarian dan kebudayaannya. Baru lokasi wisatanya,” ucapnya.
Orang datang ke sebuah daerah yang dilihat dulu adalah kuliner. Kemudian sejarah dan budaya. Berlanjut pada event dan promo yang ditawarkan. Dan kelima baru tourism atau destinasi wisatanya itu sendiri.
Baca Juga: Berburu Minuman Khas Era Kerajaan Kediri di Festival Kuno Kini 2025
Selain berupaya memberikan informasi terkait wisata, pihaknya juga menawarkan games bagi para pengunjung. Itu untuk menguji seberapa dalam pengetahuannya terkait sejarah dan kebudayaan di Kabupaten Kediri.
“Ini untuk melatih daya ingat pengunjung dan menambah wawasan untuk anak-anak muda,” aku Wiwie.
Baca Juga: Jenang Debog Jadi Primadona di Kuno Kini Fest 2025, Penjual sebut ini dibuat dengan gula asli
Wiwie mengaku, Festival Kuno-Kini 2025 ini dapat membantu memperkenalkan sejarah dan kebudayaan kepada khalayak luas. Sebab di zaman yang serba canggih ini pengetahuan mengenai sejarah daerah asalnya mulai tergerus.
“Padahal lahir dan tinggalnya di sini (Kabupaten Kediri, Red). Tetapi ketika ditanya siapa raja Kediri tidak tahu sama sekali,” pungkasnya sembari menunjukkan foto Raja Sri Aji Jayabaya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : rekian