“Lucu dan menggemaskan melihat bocah-bocah menari jaranan seperti itu,” ucap Tami, warga Desa Sambiresik, Kecamatan Gampengrejo, yang asyik dengan kamera HP-nya untuk merekam aksi para peserta kemarin.
Pujian salah seorang penonton itu memang wajar. Sebab, festival yang merupakan kerja bareng antara dinas pariwisata dan kebudayaan (disparbud) dengan Jawa Pos Radar Kediri itu berlangsung meriah. Ratusan peserta menampilkan performa terbaiknya. Tak ayal, ajang ini mendapat apresiasi tinggi dari berbagai pihak.
Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana membuka langsung festival pukul 10.30 WIB. Didampingi dengan Direktur JPRK Kurniawan Muhammad, Sekda M. Solikin, dan Kepala Disparbud Kabupaten Kediri Adi Suwignyo.
“Festival Jaranan Jawa ini bukti komitmen kita bersama dalam merawat kebudayaan,” ujar Mas Dhito.
Ayah dua anak tersebut mengaku sangat mengapresiasi acara ini. Menurutnya, sinergi antara organisasi perangkat daerah (OPD) dan JPRK harus terus ditingkatkan. Terutama dalam hal pelestarian kesenian dan kebudayaan. Bahkan, Mas Dhito menegaskan bahwa event serupa akan kembali digelar tahun depan.
“Tahun depan harus semakin berkembang lagi,” tegas pria kelahiran 31 Juli 1992 tersebut.
Terlebih, kesenian tari tradisional ini sudah masuk dalam arsip Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkum HAM). Sebagai salah satu kekayaan intelektual komunal (KIK) Indonesia dari Kabupaten Kediri. Bersanding dengan kesenian Tiban dan wayang Krucil.
“Kesenian dan kebudayaan ini harus kita lestarikan dan jaga bersama. Jaranan Jawa milik Kabupaten Kediri,” ucapnya mantap.
Setelah melakukan pembukaan, sebanyak 96 peserta dari berbagai SMP menampilkan pertunjukan jaranan secara massal. Mereka membentuk berbagai formasi. Salah satunya formasi yang membentuk angka 1.219, sesuai dengan umur dari Kabupaten Kediri.
Selanjutnya, para peserta bergantian menampilkan pertunjukkan terbaiknya. Dimulai dari kategori SD, SMP, hingga SMA. Mereka menampilkan aksi yang memukau dewan juri dan tamu undangan. “Saya sangat melihat anak-anak bersemangat dan antusias menampilkan pertunjukan terbaiknya,” aku Mas Dhito.
Bahkan, dia melihat adanya potensi besar untuk memasukkan kesenian Jaranan Jawa ke dalam kurikulum pendidikan di Kabupaten Kediri. Menurutnya, kesenian ini harus ditanamkan dalam benak generasi penerus sedari dini. “Tidak menutup kemungkinan masuk kurikulum atau menjadi muatan lokal di sekolah,” tandasnya.
Sementara itu, Abid Fadlurohman, 15, salah satu peserta asal SMPN 2 Pare mengaku senang dan bangga dapat berpartisipasi dalam acara ini. Terlebih, dia bisa tampil langsung di hadapan orang nomor satu di Kabupaten Kediri. Baginya, hal tersebut merupakan sebuah pencapaian tersendiri.
“Senang dan bangga rasanya dapat melestarikan budaya asli Kabupaten Kediri. Apalagi bisa tampil di depan Mas Dhito,” ungkap Abid.
Lebih lanjut, proses penjurian dilakukan oleh dewan juri yang telah berkompeten di bidangnya. Penjurian berlangsung sangat ketat. Pasalnya, penampilan yang ditunjukkan para peserta sangat memukau. Sehingga cukup menyulitkan dewan juri dalam menentukan pilihan.
“Ada beberapa aspek yang kami nilai. Meliputi wiraga, wirama, dan wirasa. Semuanya bagus-bagus,” tutur Ammy Aulia Renata, salah satu dewan juri. Renata berharap, Festival Jaranan Jawa dapat dijadikan event tahunan di Kabupaten Kediri. Karena dapat mendorong kreativitas dan kecintaan pelajar terhadap budaya lokal.
Sementara itu, Kepala Disparbud Kabupaten Kediri Adi Suwignyo menyampaikan selamat kepada para juara yang terpilih. Dia berharap, penghargaan tersebut dapat menjadi tambahan semangat untuk lebih giat lagi dalam berlatih. “Jangan pernah bosan untuk melestarikan budaya asli Kabupaten Kediri,” pungkasnya.
Ada yang menarik saat Bupati Dhito memberikan sambutan. Dia sempat meminta seorang penonton maju. Penonton itu, Putri Budyaning Rah Utami, 37, langsung mendapat hadiah berupa beasiswa untuk anaknya dan satu laptop dan HP. Penyebabnya, Bupati Dhito mengapresiasi sikap Putri yang berdiri ketika menyanyikan lagu Indonesia Raya. Sementara, banyak penonton yang bertahan duduk ketika prosesi itu berlangsung.
“Saya hanya mengingat warga kabupaten, bagaimana kita mau memiliki tagline Kediri berbudaya kalau lagu kebangsaan njenengan semua duduk,” kata suami dari Eriani.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. Editor : Anwar Bahar Basalamah