Pegiat Komunitas Budayawan Eling Handarbeni Hangrungkepi Upaya Madya (Edhum) Kota Kediri Achmad Zainal Fachris mengungkapkan, kisah Boncolono pada masa penjajahan Belanda itu cukup panjang. Ini tak lepas dari kiprahnya merampas harta mereka untuk kemudian dibagikan kepada warga.
Meski pernah berhasil ditangkap, Robin Hood versi Jawa itu selalu berhasil meloloskan diri. Suatu kali, Boncolono yang tertangkap hendak dieksekusi mati. Tetapi, senapan tidak bisa membunuhnya.
Penjajah Belanda yang frustrasi konon mencari cara lain untuk membunuhnya. Dari sana mereka mendapat informasi jika Boncolono memiliki kesaktian. “Ia (Boncolono, Red) memiliki ilmu pancasona,” terang Fachris.
Orang yang menguasai ilmu tersebut tidak bisa mati dengan mudah. Agar bisa mati, setelah dieksekusi tubuh orang yang menguasai ilmu pancasona tidak boleh menyentuh tanah. Cara itu dianggap mustahil untuk dilakukan.
Karenanya, penjajah memilih metode lainnya. Yakni, memisahkan tubuh Boncolono menjadi dua bagian. “Ketika dipisah, tubuhnya harus melewati sungai. Sekarang dibatasi Kali Brantas,” urai Fachris.
Bagian leher sampai kakinya dimakamkan di bukit Maskumambang. Sedangkan bagian kepalanya dibawa ke tempat di timur Sungai Brantas. Dimakamkan di bawah pohon beringin yang sekarang disebut Ringin Sirah. Di samping pusara ada tulisan Ki Ageng Gentiri.
Berbeda dengan makam Boncolono, makam Ki Ageng Gentiri di Ringin Sirah ini tertutup. Menurut Ahli Muda Bidang Sejarah dan Kepurbakalaan Dinas Pariwisata, Pemuda, Olahraga dan Kebudayaan (Disparporabud) Kota Kediri Endah Setyowati, lahan makam merupakan milik swasta. “Itu asetnya punya GG (PT Gudang Garam Tbk, Red),” katanya.
Sementara itu, makam Boncolono yang fasilitasnya dibangun Pemkot Kediri pada 2004 lalu, sekarang sudah mulai rusak. Kerusakan terlihat di beberapa anak tangga, hingga besi pembatas di tengah anak tangga.
Kerusakan juga terlihat di papan gerbang makam. Begitu juga pagar keliling di bagian dalam banyak yang sudah pecah. Editor : Anwar Bahar Basalamah