Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Kisah Pragolopati Cikal Bakal Desa Grogol dan Desa Parang

Anwar Bahar Basalamah • Rabu, 14 September 2022 | 17:36 WIB
(Foto: Pasak JP Radar Kediri)
(Foto: Pasak JP Radar Kediri)
Ada banyak versi tentang sosok Pandu Pragolopati yang dimakamkan di Desa Parang, Banyakan. Mulai sejarah tentang peperangan antara kerajaan Mataram melawan Kadipaten Pati hingga konflik internal di kerajaan Mataram.

Dari banyak versi yang dihimpun Jawa Pos Radar Kediri, kisah yang terkait dengan Pandu Pragolopati tidak lepas dari konflik. Di Jawa Tengah, konflik terjadi antara Mataram (Panembahan Senopati) dengan Kadipaten Pati (Jayakusuma). Di Kota Atlas itu, makam yang terkenal adalah Pragolapati (bukan Pragolopati) yang terletak di Jalan Raya Gunungpati Jawa Tengah.

Adapun cerita makam Pragolopati di barat sungai Kediri juga tidak lepas dari konflik yang terjadi pada masa kerajaan Mataram. Menurut Sigit Widiatmoko, pemerhati sejarah sekaligus dosen Universitas Nusantara PGRI (UNP), Pandu Pragolopati merupakan salah satu kerabat Mataram. “Pragolopati ini terlibat konflik Mataram pada masa Pemerintahan Sultan Agung,” katanya.

Peristiwa tersebut membuat Pandu Pragolopati harus meninggalkan Mataram dan melarikan diri ke kawasan lereng Gunung Wilis di Kediri. Pragolopati terus dikejar oleh musuh politiknya hingga terjadi pertikaian yang membuat Pragolopati terbunuh.

Selama pelarian itulah, seluruh aktivitasnya banyak menciptakan nama-nama dusun dan desa yang ada di Kecamatan Grogol hingga Kecamatan Banyakan. Menurut Sigit, dalam pelarian ada tujuh orang yang ikut bersama dengan Pragolopati.

Pernyataan Sigit sama dengan keyakinan masyarakat di Desa/Kecamatan Grogol. Kepala Desa Grogol Suparyono mengungkapkan, nama Dusun Gringging di desanya berasal dari peristiwa Pragolopati yang saat itu mengalami kesemutan. Saat itu, Pandu Pragolopati pun memilih beristirahat bersama dengan rombongannya.

“Kesemutan dalam bahasa Jawa dinamakan gringgingen, tempat mereka beristirahat itu kini bernama Gringging,” aku Suparyono. Setelah beristirahat lama, mereka melanjutkan perjalanan. Di tengah perjalanannya itu mereka dihadang.

Mengetahui ada musuh, Pragolopati sempat gemeteran. Dalam bahasa Jawa dinamakan gregeli.  Kelak daerahnya dikenal dengan nama Grogol. Perjalanan itu dilanjutkan ke puncak Desa Parang, Banyakan.

Cerita lain yang dihimpun Jawa Pos Radar Kediri, nama-nama dusun dan desa yang terkait dengan aktivitas Pragolopati tidak hanya di Grogol. Melainkan juga di Kecamatan Banyakan. Misalnya di Desa Tiron, rupanya saat berada di sana sesuai dengan hari lahirnya yang kemudian ditironi oleh pasukan yang ikut bersamanya.

Selanjutnya, nama Dusun Gading di Desa Parang berasal dari cerita fisik Pragolopati yang mulai melemah. Karenanya dia harus digading atau harus digandeng oleh empat orang di rombongannya.

Pragolopati yang mengalami luka parah berhasil menyebrang sungai sambil digandeng empat penggawanya. Mereka membuat selamatan di desa tersebut. Karena cerita itu, di Dusun Peso, Desa Parang kini terdapat watu tumpeng sebagai penanda Pragolopati baru menggelar ritual selamatan di sana.

Perjalanannya sampai ke puncak bukit dengan napas yang sudah tersengal-sengal alias arang-arang. Kondisi itu disebut-sebut mengilhami penamaan Desa Parang yang kemudian jadi tempat pemakamannya. Editor : Anwar Bahar Basalamah
#seputar kediri raya #radar kediri #ekspedisi selingkar wilis #berita terkini #kediri hari ini #info kediri raya #seputar kediri terbaru #berita terbaru #kediri raya #seputar berita kediri #wilis #kabar kediri terbaru #kediri terbaru #kabar kediri #selingkar #update kediri #kediri news #kediri terkini #selingkar wilis