Ada rute yang batal dilewati tim Ekspedisi Selingkar Wilis beberapa waktu silam. Yaitu jalur yang melalui Desa Parang di Kecamatan Banyakan. Masalahnya adalah, jalan dari Desa Joho, di Kecamatan Semen, terlalu curam. Apalagi, saat itu baru saja turun hujan lebat. Akhirnya, tim pun memilih melewati rute yang lain.
Padahal, banyak hal menarik di desa ini. Ada wisata religi yang sangat populer. Yakni makam Kanjeng Eyang Gusti Prabu Pandu Pragolopati. Yang diyakini sebagai sosok yang membuka tanah di daerah tersebut. Sosok ini disebut punya kaitan dengan kerajaan Islam yang berpusat di Jogjakarta.
Kompleks makamnya berbeda dengan tempat pemakaman umum lainnya. Unik karena seperti makam berundak. Undakannya terbuat dari batu andesit. Sebagian lagi terbuta dari bata kuno.
“Dari bentuk makamnya sudah ada akulturasi budaya,” terang Ketua Pelestari Sejarah dan Budaya Kadhiri (Pasak) Novi Bahrul Munib.
Lebih menarik, makam ini berada di puncak bukit. Dari perkampungan warga berjarak sekitar setengah kilometer. Bagi yang ingin mendatangi makam ini bisa berkendara sepeda motor. Karena jalan yang dilalui hanya selebar satu meter.
Berdasarkan ciri-ciri makam, Novi menduga kompleks makam itu peninggalan sebelum era kolonial Belanda. Antara masa kerajaan Demak dan Mataram Islam. Bisa dicermati dari beberapa benda yang ada di kompleks makam itu. Yakni batu andesit dan bata kuno yang biasa dipakai membuat candi.
Yang memperkuat dugaan tersebut adalah bentuk nisan. Ada batu putih yang digunakan pada masa Demak-Mataram dari Keraton Surakarta. Lalu, bentuk nisannya berupa pedang dengan ujung runcing.
Dari sisi arkeologi, nisan yang ada di kompleks makam tersebut memiliki motif seperti bulan purnama. “Biasanya ada motif seperti matahari dan bulan sabit. Motif-motif tersebut pertanda kududukan saat masih hidup,” kata penyuluh Dirjen Kebudayaan di Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) ini.
Dia menduga bahwa Pragolopati adalah seorang bangsawan. Karena tempatnya berada di puncak bukit, Novi menganggap makam yang ada di lereng Wilis ini sebagai bentuk akulturasi budaya. Kenapa di pucak bukit dan dibuat makam berundak? Novi menyebut bahwa puncak gunung atau bukit adalah tempat yang paling baik untuk menuju ke nirwana.
Itu pula alasan kenapa pada masa lampau banyak bangunan diletakkan di puncak bukit. Tempat ketinggian itu menjadi simbol kedekatan kepada dewa atau tuhan yang disembah. Konsep masyarakat Jawa, orang yang punya kedudukan mulia akan dimakamkan di tempat yang mulia. Salah satu tempatnya adalah puncak gunung atau bukit.
Dari konsepnya, kompleks makam itu menempatakan makam Pragolopati berada di tempat tinggi dengan model berundak. Makamnya bersanding dengan Eyang Putri Sutro Kenongo. Sejauh ini, warga dari luar daerah datang ke lokasi untuk melakukan wisata religi. Editor : Anwar Bahar Basalamah