Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Bukit Batu itu Disebut Selo Gajah

Anwar Bahar Basalamah • Senin, 12 September 2022 | 17:27 WIB
MASIH ALAMI: Choirul Anam menyaksikan Selo Gajah dari kaki bukit. (Foto: Rekian)
MASIH ALAMI: Choirul Anam menyaksikan Selo Gajah dari kaki bukit. (Foto: Rekian)
Batu besar di ujung Dusun Babatan, Desa Tiron ini merupakan potensi wisata di Kecamatan Banyakan. Bentuknya seperti gajah berbaring. Karena itulah batu itu disebut Selo Gajah.

Selo Gajah ini berada tak jauh dari Balai Desa Tiron. Sekitar tiga kilometer. Namun, jalannya belum mulus. Bila ditempuh dengan kendaraan bermotor, sepuluh menit baru sampai.

Memang, sepeda motor bisa menjangkau lokasi ini. Meskipun harus melewati jalan setapak, yang dibuat oleh warga. Jalan ini bukan semata-mata ditujukan untuk mencapai Selo Gajah. Melainkan upaya warga agar bisa menjangkau lahan pertanian di dekat batu itu.

Karena kondisi seperti itu, wajar bila jarang pengunjung ke Selo Gajah. Apalagi, karena jadi akses petani ke lahannya, setiap kali harus berpapasan dengan  mereka. Padahal, jalannya hanya setapak yang lebarnya hanya 1,5 meter. Sehingga, agar bisa lewat, salah satu kendaraan harus mengalah. Berhenti lebih dahulu untuk memberi kesempatan yang lain melintas.

“Masyarakat di desa kami rata-rata petani,” terang Khoirul Anam, pria yang menjadi kasi Pelayanan Masyarakat.

Perangkat desa yang masih berusia 23 tahun itu mengatakan, belum banyak pengunjung yang datang ke Selo Gajah. Padahal, dari sisi eksotisme, Selo Gajah tergolong memikat. Bukit batu itu masih alami. Pemandangannya tidak kalah cantik dengan wisata Watu Lawang di Nganjuk, yang juga berada di lereng Wilis. Jika di Watu Lawang disuguhi pemandangan pegunungan yang hijau maka di Selo Gajah wisatawan dimanjakan dengan kecantikan hamparan padi. Pemandangan itu bisa dinikmati dari dasar bukit Selo Gajah.

Sayangnya, batu yang tingginya mencapai 30 meter dengan panjang 100 meter itu belum didukung sarana sebagai tempat wisata. Saat terik, tidak ada tempat berlindung bagi pengunjung yang kepanasan.

Wajar bila kemudian tempat ini hanya dimanfaatkan oleh petani. Seperti salah satu tempat yang sangat datar. Tempat ini biasa dipakai untuk menjemur panenan, terutama singkong. Warga pun menyebut bagian ini sebagai memean yang maknanya tempat menjemur.

Di Memean ini banyak bongkahan batu berdiameter setengah hingga satu meter. Di atasnya ada pecahan batu merah yang lebih besar, yang diperkirakan adalah bata kuno. Konon, batu itu dibawa dari bukit yang tak jauh dari Selo Gajah.

“Dulu katanya ada bangunan rumah tapi kena longsor,” terang Khoirul.

Sementara itu, untuk  pengelolaan tempat wisata, pemerintah desa saat ini sedang mempersiapkan. Setidaknya, lokasi itu nanti akan dikelola oleh karang taruna.

Sigit Widiatmoko, pemerhati sejarah sekaligus dosen Universitas Nusantara PGRI Kediri mengatakan, batu raksasa itu merupakan batu vukanik. Yang dihasilkan dari aktivitas gunung pada masa lampau. “Hampir semua gunung di Jawa adalah gunung aktif, tapi sekarang sedang istirahat,” katanya. Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #ekspedisi selingkar wilis #seputar berita terbaru #kediri hari ini #kabar kediri terkini #seputar info kediri #info kediri raya #seputar berita kediri #kediri terbaru #kediri lagi #kabar kediri #selingkar #update kediri #kediri news #kediri terkini #selingkar wilis