Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Candi Grogol Jadi Bukti Peradaban Masa Lalu

Anwar Bahar Basalamah • Rabu, 31 Agustus 2022 | 18:14 WIB
TERANCAM HILANG: Situs Candi Grogol yang kini berada di area proyek bandara, pemerhati budaya meminta agar bangunan bersejarah itu dipertahankan. (Foto: Rekian)
TERANCAM HILANG: Situs Candi Grogol yang kini berada di area proyek bandara, pemerhati budaya meminta agar bangunan bersejarah itu dipertahankan. (Foto: Rekian)
Candi Grogol baru terekspos secara luas 2020. Sayangnya, candi di Dusun Tanjung, Desa/Kecamatan Grogol yang jadi bukti peradaban masa lalu di lereng Gunung Wilis itu terancam tergusur karena ada di lokasi bandara.

Candi Grogol terbuat dari struktur batu bata merah. Tak ubahnya pemandian atau kolam tua dari sejumlah pada masa silam. Ketua Pelestari Sejarah dan Budaya Kadhiri (Pasak) Novi Bahrul Munib  menyebut situs yang terletak di area proyek bandara itu belum diketahui masa pembangunannya.

Meski demikian, dari struktur bangunannya, mirip dengan situs Brumbung. Karenanya, Novi menengarai bangunan itu dibuat di masa Kerajaan Kadhiri hingga Majapahit. “Ini menandakan peradaban di lereng Gunung Wilis ini sudah sangat bagus,” kata Novi.

Apa fungsi bangunan yang mayoritas strukturnya terpendam di tahan itu? Novi mengaku baru bisa menganalisa dari model bangunan. Diduga, struktur tersebut merupakan patirtan atau sebagai saluran air untuk mengaliri sawah.

Instalasi pengairan yang ada di lereng Wilis itu sekaligus memperkuat kesimpulan jika gunung purba itu banyak sumber airnya. Kondisi tersebut terjaga hingga sekarang. Dimana, area lereng Wilis menjadi daerah pertanian yang subur.

Melihat lokasi yang memiliki nilai sejarah tersebut, Novi mengusulkan agar situs ini tetap dijaga meski terletak di area Bandara Internasional Dhoho. “Setidaknya, di lokasi situs itu bisa disulap menjadi taman. Jadi, keberadaannya tidak akan menganggu proses pembangunan bandara,” pintanya.

Selebihnya, menurut Novi daerah tersebut perlu diteliti lebih lanjut. Sebab, situs yang dibangun menggunakan bata merah itu bisa jadi kekayaan sejarah Kediri. Apalagi, tidak jauh dari tempat itu atau berjarak sekitar 100 meter ada punden. Yakni makam dua sesepuh warga di sana.

Terpisah, Kepala Desa Grogol Suparyono menuturkan punden yang ada di sebelah situs itu diyakini warga Dusun Grogol Etan sebagai makam Pragola Pati. Yakni, orang yang dipercaya menamai daerah setempat sebagai Desa/Kecamatan Grogol.

Pragola Pati merupakan seorang raja dari Bantul, Jogjakarta. Ia dikisahkan sebagai raja Mataram yang menentang pemerintahan Sultan Agung (1627). Perselisihan itu membuat Pragola Pati diburu karena dianggap melawan. Ia pun melarikan diri ke lereng Wilis yang kini bernama Grogol tersebut.

Ada banyak nama yang kemudian lahir dari kisah perjalanan raja Pragola Pati tersebut. “Nama Gringging itu berasal dari Gringgingen. Saat itu Raja Pragola kelelahan dan kakinya kesemutan,” terang Suparyono sembari menyebut dari kisah Pragola Pati juga lahir nama Desa Sembak, Bedrek, dan beberapa desa lainnya.

Terkait keberadaan situs yang terancam pembangunan bandara, Suparyono mengaku masih menunggu musyawarah dengan dinas pariwista dan kebudayaan (disparbud). Saat tim ini situs tersebut ditutup dengan terpal di area bandara. Sayang, saat Jawa Pos Radar Kediri hendak meninjau lokasi, salah seorang pekerja proyek bandara menyebut situs dari batu bata itu sudah tidak ada. Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #ekspedisi selingkar wilis #berita terkini #seputar info kediri #seputar berita terkini kediri #candi grogol #kediri raya #kediri lagi #berita kediri #update kediri #kediri terkini #seputar berita terkini #selingkar wilis