Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Jalur Jolotundo ke Pura Bisa Lebih Singkat

Anwar Bahar Basalamah • Senin, 18 Juli 2022 | 18:07 WIB
TAKLUKKAN MEDAN: Tim Ekspedisi Jalur Selingkar Wilis saat memutar  lewat patung Panglima Sudirman di Bajulan setelah lintasi jalur Jolotundo. (Foto: M. Arif Hanafi)
TAKLUKKAN MEDAN: Tim Ekspedisi Jalur Selingkar Wilis saat memutar lewat patung Panglima Sudirman di Bajulan setelah lintasi jalur Jolotundo. (Foto: M. Arif Hanafi)
Setelah bermalam di Kalipang, Grogol, Rabu (6/7) pukul 06.30 perjalanan tim ekspedisi lanjut ke Kabupaten Nganjuk. Tak sampai 30 menit, tiga personel dari JP Radar Kediri sampai perbatasan. Merambah Desa Bajulan, Kecamatan Loceret.

“Sambil menunggu tim dari Pemkab Nganjuk, kita eksplorasi dulu di Desa Bajulan ini,” kata Ketua Ekspedisi Selingkar Wilis M. Arif Hanafi. Tim Pemkab Kediri diwakili dua orang dari dinas pekerjaan umum dan penataan ruang (PUPR) dan satu dari badan perencanaan pembangunan, penelitian dan pengembangan daerah (Bappda).
Meski tak butuh waktu lama, perjalanan menuju Desa Bajulan, Loceret tidaklah mudah. Sebab, para rider ekspedisi ini harus menaklukkan jalan makadam sejauh dua kilometer. Jalan rusak itu sampai di depan wisata andalan Desa Kalipang, Grogol. Yakni air terjun Ngleyangan.
“Kalau mau ke air terjun (Ngleyangan, Red) masih jauh. Sekitar empat kilometer, jalannya licin karena habis hujan,” ujar warga Kalipang.
Pagi itu, bebatuan kecil di jalan yang tim lintasi masih basah kena tetes embun. Tetapi aktivitas warga di lereng Wilis sudah ramai. Tim kerap berpapasan dengan pengendara motor bebek yang telah dimodifikasi. Ada yang baru berangkat ke hutan, ada pula yang membawa rumput hasil ngarit.
Menurut warga, jalan makadam itu dulu beraspal. Dibangun lewat program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD). Kerusakan jalannya kurang dari satu tahun. Penyebabnya adalah banyaknya aktivitas kendaraan yang angkut material untuk membangun penahan plengsengan.
Infrastruktur jalannya sedikit lebih baik setelah berada di perbatasan Desa Kalipang dengan Desa Bajulan, Loceret. Di sana penanda bertuliskan: Route Gerilya Panglima Besar Jendral Soedirman. Tim menyempatkan turun ke lokasi untuk meninjau kondisi di lokasi perbatasan tersebut.
Longsor di tepi jalan jadi ancaman terputusnya akses jalan. Selain itu, rumput di tepi jalan kini mulai tumbuh dan menghalau pengendara. Kondisi itu pula menyebabkan jalan menuju ke Dusun Magersari, Desa Bajulan, Loceret terkesan menyempit. “Kalau ada hujan lebat dari gunung, tebing di tepi jalan ini sering longsor karena air dari atas (gunung, Red) deras sekali,” kata Jumadi, 53, petani asal Desa Bajulan.
Rombongan JP Radar Kediri lebih dulu sampai ke Dusun Magersari, Desa Bajulan, Kecamatan Loceret. Sambil menunggu tim dari Pemkab Nganjuk, tiga personel mencari warung sekaligus sarapan. Ketika itu, makanan yang tersedia hanya nasi pecel. Tak lupa menikmati kopi di desa yang ketinggiannya mencapai 523 meter di atas permukaan laut (mdpl) itu.
Baru saja hendak menyeruput kopi, Hanafi mengeluh kesulitan sinyal. Selain sulit berkomunikasi dengan tim Pemkab Nganjuk yang menyusul ke Bajulan, ia juga tidak bisa mengaktifkan aplikasi tracking perjalanan. “Saya harus cari sinyal dulu,” ucapnya lalu tancap gas bersama videografer JP Radar Kediri M. Afwan.
Satu orang bertugas menunggu kabar tim Pemkab Nganjuk. Sial, akibat sinyal buruk tim itu sudah berada di pintu masuk air terjun Ngleyangan. Lokasi yang sekitar 30 menit lalu disudah dilewati. Beruntung, sinyal bisa terdeteksi meski hanya dua garis di gawai. Momen itu dipakai untuk mengirim lokasi lewat pesan singkat WhatsApp (WA).
Setelah bertemu dan menyantap sarapan, tim ekspedisi kemudian melanjutkan perjalanan meninjau trase di Bajulan. Perjalanan dimulai dari Dusun Magersari dekat pos izin Gunung Limas Sekartaji.
Dari sana perjalanan menuju ke wahana Jolotundo. Jalan beraspal membelah hutan pinus. Supriyanto dari PUPR Nganjuk berhenti di dekat gubuk tempat warga berjualan makanan ringan. “Dari sini (jalan di wahana Jolotundo) bisa, akses alternatif. Tapi belum bisa dilewati karena harus buka jalan baru,” paparnya.
Henry Sujatmiko dari Bappeda Nganjuk menambahkan, akses alternatif itu tidak mungkin bisa dilalui mobil. Selain curam, jalannya masih makadam. Selain itu, ada pula jembatan kecil melintang di atas Sungai Jolotundo. Menurutnya, ada keuntungan bila akses itu dibuka. Jaraknya lebih singkat menuju ke Pura Kerta Bhuwana Giri Wilis. “Paling hanya 500 meter saja,” ucapnya.
Karena tidak melewati jalur Jolotundo, tim harus memutar lebih jauh. Jaraknya hingga tujuh kilometer. Yakni melintasi depan Kantor Desa Bajulan, patung bersejarah Jenderal Soedirman hingga mengakses jalan menanjak ke Pura Kerta Bhuwana Giri Wilis.
Desa ini tidak hanya tinggi tetapi juga paling luas. Menurut data Badan Pusat Statistik Kecamatan Loceret dalam angka 2021 memaparkan, luas Desa Bajulan 22,10 kilometer persegi. Paling luas dibanding 22 desa di Loceret. Sedangkan jumlah penduduknya 5.541 jiwa. Terdiri atas 2.783 laki-laki dan 2. 758 perempuan.
Dari jumlah tersebut, umat Hindu sebanyak 265 jiwa dan Protestan ada 11 jiwa. Sedangkan 5.445 jiwa adalah Islam. Desa ini terbagi menjadi enam dusun dengan jumlah perangkat desa cukup banyak mencapai 14 orang. Rata-rata bekerja sebagai petani. Editor : Anwar Bahar Basalamah
#gunung wilis #kediri #loceret #desa kalipang #wilis #selingkar wili #nganjuk #kabupaten nganjuk