KABUPATEN, JP Radar Kediri - Ada 40 peternak lebah di Dusun Purworejo, Desa Bringin,Kecamatan Badas. Sebagian penduduk daerah itu menjadikan usaha madu sebagai pendapatan utama.
Tapi bukannya bersaing, mereka justru berkelompok dan bikin paguyuban hingga akhirnya membentuk Kampung Madu. Ini tak lain karena peran Pemerintah Desa Bringin.
“Mulai 2015 terbentuk kelompok yang akhirnya difasilitasi untuk membuat BUMDes dan Kampung Madu,” terang Iwan Faisol, kepala Desa Bringin.
Banyaknya peternak madu akhirnya menjadi peluang usaha. Desa pun jadi sentra kampung madu. Hingga ada festival tahunan Kampung Madu. “Setiap tahun ratusan ton madu dihasilkan peternak. Inilah yang perlu kami promosikan ke masyarakat,” kata Iwan.
Harapannya, penjualan madu meningkat dan Desa Bringin menjadi lokasi wisata edukasi madu. Iwan juga menjelaskan, adanya ragam kegiatan itu juga mengurangi gesekan persaingan antara peternak madu. “Kami juga terus melakukan pendampingan hingga studi banding,” jelasnya.
Keberhasilan menaungi UMKM peternak lebah madu inilah yang akhirnya diajukan pemerintah desa untuk kategori Inovasi Terbaik Bidang Pemberdayaan UMKM pada Anugerah Desa 2019. Menjadi satu dari tiga wakil Kecamatan Badas untuk meraih predikat terbaik. Ketiga desa ini menjadi titik penjurian oleh tim penilai, kemarin (25/7).
Lantas bagaimana dengan desa lainnya? Desa/Kecamatan Badas mengajukan terobosan pengelolaan administrasi pertanahan. Semua lahan sudah didigitalisasi. Sehingga masyarakat yang mengurus surat tanah bisa lebih mudah. “Hanya empat bidang yang belum jelas kepemilikannya, kalau lainnya data sudah lengkap,” terang Atik Fathonah, sekretaris Desa Badas.
Setidaknya ada ribuan bidang yang sudah didata dan disimpan dalam file khusus. Tak hanya disimpan dalam data komputer, pihak desa memindahkan ke ponsel. Harapannya, masyarakat yang membutuhkan sewaktu-waktu bisa cepat mendapat pelayanan. Pendataan yang lengkap ini pula yang membantu desa dalam setiap permasalahan sengketa batas tanah. “Butuh waktu tiga bulan untuk menyelesaikan semua pendataan digitalisasi ini,” jelasnya.
Sedangkan Desa Lamong, Kecamatan Badas menawarkan terobosan bidang pelayanan administrasi masyarakat. Yaitu pelayanan dalam kepengurusan akta kelahiran dan kematian. Pamong desa tak segan membantu warga menguruskan langsung ke Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil. Sehingga tak perlu jauh-jauh ke kannto dinas tersebut. “Kami yang membantu menguruskan. Warga cukup datang ke kantor desa,” terang David, kaur Pemerintahan Desa Lamong, Kecamatan Badas.
Editor : adi nugroho