Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Tradisi di Tunglur: Bancakan Seribu Encek Lele

adi nugroho • Jumat, 10 Agustus 2018 | 20:36 WIB
tradisi-di-tunglur-bancakan-seribu-encek-lele
tradisi-di-tunglur-bancakan-seribu-encek-lele

KEDIRI - Desa Tunglur, Kecamatan Badas, Kabupaten Kediri mempunyai tradisi khas yang menarik. Tradisi ini menjadi budaya yang dilestarikan pemerintah desa (pemdes) dan warga. Kegiatannya dikenal dengan sebutan Bancakan Seribu Encek Lele dan Kirab Budaya.


          “Acara ini selalu kami gelar setiap Hari Jadi Desa Tunglur. Tahun ini yang ke-468. Bancakan dan kirab sekaligus untuk memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia (RI),” papar Kepala Desa (Kades) Tunglur Mashudi.


Menurutnya, tradisi encek lele ini sudah turun-temurun. Warga Tunglur rutin menggelarnya di Petilasan Adipati Sengguruh setiap tahun. “Acara selamatan ini diadakan demi menghormati Adipati Sengguruh. Menurut sejarahnya, ia seorang pangeran dari Kerajaan Majapahit,” terang Mashudi.


Di masa kejayaan Majapahit dahulu, kades ini menambahkan, Sengguruh pernah singgah di Desa Tunglur. Konon kala itu sang pangeran sedang dalam perjalanan menyusuri Sungai Brantas. Ketika melintas di Tunglur, Sengguruh tertarik melihat banyak sumber mata air di desa tersebut. Apalagi, air sumber yang jernih tersebut terdapat ikan-ikan.


“Waktu singgah di desa inilah, warga banyak yang mengenalnya. Karena menghormati sosok Sengguruh sebagai pangeran inilah warga mengenang persinggahannya dengan acara selamatan,” urai Mashudi.


Uniknya, lauk yang dihidangkan berbeda dengan acara selamatan di wilayah Kediri umumnya. Bukan lauk seperti daging ayam, kambing, atau sapi. Namun, lauk yang disajikan adalah ikan air tawar. Di antaranya gurami, nila, kuthuk, dan mujair.


Selain lauk itu, menunya ada nasi, sayur urap-urap, dan lalapan segar. Untuk menambah cita rasanya, warga juga menambah sambal pedas. Sambal tomat, sambal goreng tahu dan kentang, sambal terasi. “Dari dulu sejak nenek moyang sudah ada kegiatan ini, tapi memang kemasannya secara sederhana,” ujar Mashudi.


Yang juga menarik, wadah untuk menampung hidangan tersebut warga tidak menggunakan piring atau rantang. Namun, mereka membuat dari encek. Itu wadah makanan yang terbuat dari pelepah batang pisang. Bentuknya seperti bujur sangkar. Ukurannya sekitar 25 x 25 sentimeter (cm), dengan tinggi sekitar 5-8 cm.


Sejak saat itu, menurut Mashudi, tradisi makan bersama ini dilakukan turun-temurun. Bahkan hingga kini dilestarikan. “Tempatnya disatukan di petilasan Pangeran Sengguruh. Ya agar warga bersatu dan guyub rukun,” imbuhnya.


Kemasan tradisi makan bersama dengan lauk ikan air tawar di petilasan tersebut, lanjut Mashudi, juga dikembangkan. Selama dua tahun terakhir, lauk ikannya dikhususkan pada ikan lele. “Ini karena ikan lele memang menjadi potensi Desa Tunglur. Di sini termasuk sentra lele Kediri,” ungkap kades ini.


Warga desa pun banyak yang memiliki kolam ikan lele. Sektor perikanan memang menjadi sumber usaha warga setempat. Hal itu didukung dengan kondisi alam desa yang secara geografis terdapat banyak sumber mata air.


Mashudi mengatakan, acara tradisi makan bersama yang berlangsung turun-temurun tersebut juga dimaksudkan untuk usaha pariwisata desa. Karena itu, namanya lantas disebut dengan Bancakan Seribu Encek Lele. Tak hanya itu, dalam prosesinya juga diiringi dengan kegiatan Kirab Budaya.


Mashudi lantas memaparkan prosesinya. Dimulai dengan kirab yang diberangkatkan dari sekitar Pasar Tunglur. Jaraknya sejauh sekitar tiga kilometer (km) hingga ke petilasan. Sebelumnya, peserta kirab telah membawa encek lele dari rumah. Sampai di tempat tujuan, para peserta kirab menikmati bancakan encek lele bersama-sama.


Dalam prosesi kirab itu, warga mengenakan busana adat. Mereka juga menampilkan seni budaya. Kirab diikuti ratusan peserta dari berbagai elemen masyarakat Desa Tunglur. Di antaranya perwakilan dari lembaga pendidikan, warga per-RT, hingga perangkat desa.


“Bersama masyarakat desa kami kembangkan potensi tradisi ini,” ungkap kades yang hobi tenis meja ini.


Tokoh masyarakat dan para pemuda didapuk menjadi panitianya. Peserta berpakaian adat menggambarkan Adipati Sengguruh ketika berkuda dan melewati Desa Tunglur. Ada pula pertunjukan drumband dari beberapa sekolah. “Drumband ini potensi desa kami. Hampir semua sekolah di desa kami ada drumband-nya,”


Mashudi berharap, kegiatan ini bisa berdampak pada warga sekitar. Terlebih para peternak ikan lele di desanya. Ke depan, targetnya dapat mengangkat ikon ikan lele Tunglur. “Apalagi di sini merupakan SAP (Sentra Aquabis Perikanan, Red) Kabupaten Kediri,” terang kades yang menjabat sejak 2013 ini.


 

Editor : adi nugroho
#badas #budaya #kediri