Setelah melakukan observasi dan penelitian di sejumlah titik sungai dan anak sungai di Kota Kediri, kini saatnya melakukan upaya konservasi.
Tahapan itu menjadi bagian dari langkah penyelamatan sungai Kota Kediri yang semuanya bermuara di Sungai Brantas.
Salah satu yang akan dilakukan adalah dengan restocking ikan lokal.
Restocking atau penebaran ikan lokal menjadi bagian dari upaya konservasi sungai. Dari enam titik sungai dan anak sungai di kawasan urban yang diteliti tim Kediri River Expedition 2026, ada satu kesamaan yang hampir ditemui di semua sungai.
Bahwa keberadaan ikan lokal semakin terancam. Entah itu karena faktor pencemaran maupun ikan non-endemik yang mulai banyak mendominasi sungai.
Dari situ, tim berupaya membantu pemulihan ekosistem perairan dengan cara menebar benih ikan lokal.
Langkah itu dinilai mampu membantu mengembalikan keseimbangan rantai makanan serta menjaga keanekaragaman hayati di sungai-sungai Kota Kediri.
Direktur Operasional Radar Kediri Institute (RKI) Andhika Attar Anindita mengatakan, restocking ikan lokal akan dilakukan di aliran Sungai Kedak.
Yakni, di titik penyelenggaraan clean up atau bersih sungai oleh relawan lingkungan hidup.
“Dari hasil ekspedisi, Sungai Kedak dianggap masih memiliki modal kondisi kesehatan lingkungan yang lebih baik dibanding lokasi observasi lainnya. Dan ikan-ikan lokal juga masih cukup banyak ditemui di sana,” ujarnya.
Artinya, aliran sungai yang bermuara di Sungai Brantas itu masih mendukung bagi ikan-ikan endemik.
Rencananya, restocking ikan lokal akan dilakukan dengan menebar ribuan benih ikan tawes.
Beberapa benih ikan itu juga akan disumbangkan oleh relawan lingkungan hidup sebagai bentuk kepedulian dan dukungan terhadap upaya konservasi. Salah satunya dari komunitas Wild Water Indonesia (WWI) Kediri.
Koordinator Wild Water Indonesia (WWI) Kediri Bima Nuryawan mengatakan, ikan tawes termasuk jenis ikan lokal di Kediri.
Pemilihan jenis ikan ini untuk kegiatan restocking juga karena benih ikannya yang relatif mudah didapatkan di wilayah Kediri.
“Ikan ini juga punya daya hidup di alam dan cukup cepat perkembangannya. Gampang menyesuaikan diri atau adaptasi dengan lingkungannya,” kata Bima.
Selain perkembangannya yang cepat, ikan jenis ini juga dianggap lebih cepat beranak-pinak. Sehingga meskipun ikan ini punya nilai ekonomi yang tinggi karena sering dikonsumsi masyarakat, jumlahnya di alam juga diharapkan terus tinggi.
“Jadi ikan ini punya peluang untuk memulihkan ekosistem sungai di Kediri. Tidak hanya di Sungai Kedak sebenarnya, tapi juga di sungai-sungai lainnya yang bermuara di Sungai Brantas,” tandas Bima, terkait ikan endemik Kediri tersebut.
Seperti diberitakan, Radar Kediri Institute– lembaga litbang milik Jawa Pos Radar Kedir– bersama akademisi dari Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri melaksanakan ekspedisi selama 2 - 4 Juni lalu.
Dalam ekspedisi itu, tim mengunjungi enam titik sungai dan aliran anak sungai di kawasan urban Kota Kediri.
Lokasi ekspedisi itu adalah aliran Sungai Kedak di wilayah Kelurahan Mojoroto, anak Sungai Kedak di Jalan Tambora.
Kemudian, Sungai Parung di Kelurahan Kaliombo dan Kampungdalem, anak Sungai Tawang di Kelurahan Singonegaran. Serta Sungai Kresek yang melintas di Lingkungan Ngadisimo, Kelurahan Dandangan dan di Kelurahan Banjaran.
Hasilnya, seluruh titik yang didatangi tim memiliki status antara tercemar sedang hingga tercemar berat.
Jejak pencemaran dan degradasi lingkungan itu juga ditemukan hampir merata dari hulu hingga ke hilir.
Temuan tersebut menjadi sinyal merah pelestarian sungai yang harus semakin digencarkan. Jika tidak, sungai-sungai yang bermuara di Sungai Brantas itu semakin rusak.
Editor : Ayu Ismawati