Penyelamatan sungai butuh aksi nyata, yang harus dilakukan banyak pihak. Jawa Pos Radar Kediri Rivers Expedition bisa jadi momentum untuk hal tersebut. Menghimpun data lapangan dan mencari solusi yang bisa ditawarkan untuk menghindarkan sungai dari kerusakan.
Selama melaksanakan ekspedisi tiga hari di enam titik sungai dan aliran anak sungai di Kota Kediri, RKI–lembaga litbang milik Jawa Pos Radar Kediri–bersama akademisi Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri menggali fakta-fakta yang jarang tersuarakan.
Tim berbincang dan berdiskusi dengan warga. Khususnya mereka yang hidup berdampingan dengan aliran sungai.
Melalui penggalian informasi itu, tim merangkum keluhan hingga usulan.
Anwar– bukan nama sebenarnya– mengaku kerap menyaksikan sungai di depan rumahnya tiba-tiba mengeluarkan bau menyengat di waktu-waktu tertentu.
Sering kali di malam hari. Warga Kelurahan Kampungdalem itu menduga memang ada aktivitas pembuangan limbah cair di waktu-waktu tertentu itu.
“Hari ini pas airnya tinggi karena di ujung sana ditutup sebagian untuk pembangunan jembatan. Jadi nggak terlalu bau. Kalau airnya nggak tinggi gitu terasa baunya,” akunya.
Kondisi air yang keruh dan banyak ditemui sampah mengapung di atasnya itu juga membawa masalah tersendiri. Banyaknya nyamuk sering dikeluhkan masyarakat yang tinggal di dekat sungai.
“Nyamuknya pasti banyak,” sambungnya.
Meski masih banyak masyarakat yang kerap membuang sampah maupun limbah domestik tanpa pengolahan langsung ke badan sungai, tak sedikit pula yang mulai sadar.
Bahwa sungai tak bisa terus menerus menjadi tempat sampah panjang dan tak terbatas bagi masyarakat.
Ari–juga bukan nama sebenarnya– ikut mendukung upaya pemulihan sungai-sungai di Kota Kediri. Utamanya sungai yang berada di dekat rumahnya, di Kelurahan Kaliombo.
Dia pun menyambut baik upaya penyelamatan sungai yang diinisiasi melalui ekspedisi tersebut.
“Seperti ini bagus. Karena terus terang, sungai itu kesannya seperti diabaikan karena kan memang nggak ada yang ngurusi. Coba kalau ada petugas khusus yang memantau rutin,” katanya.
Warga Kelurahan Kaliombo itu pun mengusulkan solusi yang cukup unik. Yakni, semacam petugas sapu jalan, tetapi untuk sungai.
Dia melihat, di setiap jalan protokol selalu ada tim sapu yang rutin menyapu jalan. Menurutnya, petugas yang serupa juga seharusnya dihadirkan, khusus untuk sungai.
“Harusnya ada tim sapu sungai. Misalnya untuk mengendalikan kangkung-kangkung liarnya ini. Karena sebenarnya sungai ini pernah beberapa kali dibersihkan, termasuk sama warga. Tapi ya sebentar saja sudah penuh lagi sama tanaman liar dan sampah,” terangnya, terkait upaya preventif maupun kuratif yang dapat dilakukan.
Untuk diketahui, Kediri River Expedition 2026 digelar di enam titik sungai dan aliran anak sungai yang melintasi kawasan urban Kota Kediri.
Lokasinya meliputi aliran Sungai Kedak di wilayah Kelurahan Mojoroto, anak Sungai Kedak di Jalan Tambora, Sungai Parung di Kelurahan Kaliombo dan Kampungdalem, anak Sungai Tawang di Kelurahan Singonegaran, serta Sungai Kresek yang melintas di Lingkungan Ngadisimo, Kelurahan Dandangan dan di Kelurahan Banjaran.
Dalam ekspedisi itu, tim melakukan pengujian terhadap kualitas kesehatan sungai dari berbagai aspek. Mulai dari biologi, fisika, hingga kimia.
Pendekatan ilmiah itu akan menjadi dasar pelaksanaan aksi penyelamatan sungai yang digagas dengan konsep data-driven action.
Aksi tersebut akan dilakukan pada Juni ini sebagai pemantik semangat pelestarian sungai yang lebih luas dan berkelanjutan. (ayu isma/fud)
Editor : Andhika Attar Anindita