JP Radar Kediri - Terkait stok bahan bakar minyak (BBM) disampaikan Menteri Koordinator Hilirisasi dan Transisi Energi/Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.
Bahlil menargetkan stok BBM bisa mencapai 60 hari. Langkah ini dinilai tepat untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
Dikutip dari Jawapos.com, Guru Besar Universitas Ciputra Surabaya, Prof Murpin Josua Sembiring peningkatan cadangan minyak merupakan langkah perlindungan terhadap ancaman ekonomi. Dengan begitu, jalannya industri bisa lebih stabil.
Baca Juga: Cek Harga BBM BP, Shell, dan Vivo per 1 November 2026
"Saya mendukung target pemerintah memperluas kapasitas penyimpanan minyak dari sekitar 20 hari menuju 60 hari," kata Murpin saat dihubungi, Sabtu (7/11).
Sehingga dengan lebih lamanya cadangan minyak yang tersedia, pemerintah memiliki waktu lebih banyak dalam menyikapi persoalan impor.
Namun, ia mengingatkan bahwa target 60 hari tersebut masih berupa rencana yang membutuhkan kesiapan infrastruktur dan pengelolaan stok secara optimal. "Energy security is national security," jelasnya.
Menurutnya, pembangunan fasilitas penyimpanan minyak juga dapat memberikan manfaat ekonomi apabila investasi yang dikeluarkan lebih kecil dibandingkan potensi kerugian akibat gangguan pasokan energi yang berhasil dihindari. Karena itu, pemerintah perlu memperhitungkan biaya pembangunan, pembebasan lahan, pengisian cadangan, pemeliharaan, hingga mekanisme pelepasan stok minyak ketika terjadi keadaan darurat.
"Kedaulatan energi tidak diukur dari berapa 'tangki' diresmikan, melainkan berapa lama ekonomi tetap bergerak ketika dunia alami turbulensi," pungkasnya.
Terpisah, Pakar Kebijakan publik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Tanjungpura (Untan), Dr. Erdi menilai, pembangunan fasilitas penyimpanan minyak mentah crude storage di sejumlah wilayah Sumatra yang bisa mendukung ketersediaan stok BBM hingga 60 hari merupakan strategi yang dibutuhkan di tengah situasi geopolitik yang tidak menentu.
“Pembangunan fasilitas penyimpanan minyak mentah hingga 60 hari merupakan strategi untuk memperkuat ketahanan energi," ujar Erdi.
Dengan kemampuan tersebut, ketahanan energi Indonesia bisa setara negara sejumlah negara ASEAN lainnya seperti Singapura dengan kemampuan cadangan minyak 50 hari, Timor Leste 90 hari, Malaysia 30 hari, Thailand 60 hari, Laos 21 hari, Vietnam 56 hari, dan Brunei Darusallam 31 hari.
Adapun Myanmar dan Filipina masing-masing 40 dan 51 hari. Kendati demikian, berdasarkan statistik penduduk dan jumlah konsumsi BBM harian, Indonesia merupakan negara dengan jumlah konsumsi BBM terbesar di ASEAN.
"Pengembangan E20–E50 dan B50, disertai pembangunan fasilitas penyimpanan minyak mentah hingga 60 hari, merupakan strategi terpadu untuk memperkuat ketahanan energi, menjaga stabilitas ekonomi, dan mengurangi risiko gangguan pasokan," pungkasnya.