KOTA, JP Radar Kediri – Kenaikan harga sejumlah bahan pangan mulai dirasakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kota Kediri. Harga bahan baku yang terus meningkat membuat pedagang makanan harus menghadapi margin keuntungan yang semakin tipis.
Kondisi tersebut salah satunya dirasakan pedagang warung makanan. Harga daging ayam kini berada di kisaran Rp 43 ribu per kilogram. Sementara harga cabai rawit bahkan menembus Rp 60 ribu per kilogram.
Andriyani, 62, penjual warung makanan mengatakan kenaikan harga bahan baku otomatis memengaruhi biaya operasional. Sebab, ayam dan cabai merupakan bahan yang hampir setiap hari dibutuhkan untuk memasak. “Sekarang bahan-bahan banyak yang naik. Padahal itu (daging ayam dan cabai, red) bahan pokok yang hampir setiap hari harus dibeli,” ujarnya.
Baca Juga: Pertamina Sebut Harga Pertamax Bakal Naik Kisaran Rp18.00-20.000 Akibat Konflik Timur Tengah
Menurut dia, kenaikan harga bahan baku tidak mudah langsung dibebankan kepada konsumen. Pasalnya, pedagang harus mempertimbangkan kemampuan pelanggan agar tidak kehilangan pembeli. “Kalau harga makanan langsung dinaikkan, takut pelanggan keberatan. Jadi sementara ini keuntungan yang berkurang,” katanya.
Kondisi serupa dirasakan Afriza Rozak, 25, penjual warteg. Kenaikan harga bahan baku membuat dirinya harus lebih selektif dalam menentukan jumlah belanja dan stok makanan.
“Kalau bahan baku mahal, kita tidak bisa belanja sebanyak biasanya. Sekarang lebih dihitung, mana yang memang harus dibeli dan berapa banyak yang dibutuhkan,” ungkap Afriza.
Dia menyebut, pengurangan stok dilakukan untuk menghindari bahan makanan tersisa dan menambah beban biaya. Terlebih, harga jual makanan relatif sulit dinaikkan secara cepat.
“Daripada stok terlalu banyak tapi tidak habis, sekarang dikurangi. Harga jual juga tidak bisa sembarangan dinaikkan karena pembeli pasti mempertimbangkan harga,” akunya.
Baca Juga: 25 Merek Beras Fortifikasi Terindikasi Melakukan Penipuan, Harga Rp13.000 Dijual Rp57.000 per Kilo
Kenaikan harga bahan baku tersebut membuat pelaku UMKM berada di antara dua pilihan. Di satu sisi, biaya produksi meningkat. Di sisi lain, pedagang harus menjaga harga jual agar tetap terjangkau konsumen.
Jika kondisi tersebut berlangsung dalam waktu panjang, tekanan terhadap margin keuntungan berpotensi semakin besar. Pedagang pun dituntut melakukan penyesuaian. Mulai dari mengatur stok, memilih pemasok, hingga menyesuaikan menu yang dijual.
Kondisi ini juga menjadi perhatian karena makanan dan minuman merupakan salah satu kebutuhan konsumsi harian masyarakat. Kenaikan biaya bahan baku pada akhirnya tidak hanya berdampak kepada pelaku usaha. Tetapi juga dapat memengaruhi harga jual dan pola belanja konsumen.
Para pelaku UMKM berharap harga bahan pangan dapat kembali stabil sehingga biaya produksi lebih mudah diprediksi. Dengan begitu, pedagang tetap dapat mempertahankan harga jual. Sekaligus memperoleh margin yang cukup untuk menjaga keberlangsungan usaha. (him/tar)
Editor : Andhika Attar Anindita