JP Radar Kediri – Saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sempat tertekan akibat sentimen negatif yang menyeruak dari isu penundaaan transaksi rekening donasi terkait aksi demo Pati, sebelum akhirnya kembali diselamatkan aksi beli investor institusi menjelang penutupan pasar.
Pada perdagangan Senin (24/8/2026), saham BMRI ditutup melemah 0,47 persen ke level Rp4.200 per saham, turun Rp20 dari penutupan sebelumnya di Rp4.220. Sepanjang sesi perdagangan, harga saham ini sempat bergerak dalam rentang Rp4.170 hingga Rp4.220.
Baca Juga: Blokir Rekening Aktivis Pati, Nasabah Ramai-ramai Serukan Boikot dan Pindah Dana dari Bank Mandiri
Investor ritel terpantau melakukan aksi jual panik atau panic selling pada sesi pertama perdagangan, menyusul beredarnya isu terkait penundaan transaksi rekening donasi yang digunakan untuk membiayai aksi demo warga Pati di depan Gedung DPR/MPR RI. Namun, tekanan jual tersebut berhasil diredam oleh aksi beli investor institusi menjelang penutupan pasar, sehingga pelemahan saham tidak berlanjut lebih dalam.
Fundamental Perseroan Dinilai Masih Kokoh
Meski sempat tertekan sentimen, kinerja fundamental Bank Mandiri sejatinya masih menunjukkan tren positif. Pada kuartal kedua 2026, perseroan mencatatkan pendapatan sebesar Rp31,59 triliun, meski turun 5,4 persen secara tahunan. Sementara itu, laba per saham (EPS) tercatat melampaui ekspektasi pasar hingga 10,32 persen, dengan imbal hasil dividen yang masih tergolong tinggi di angka 11,36 persen.
Secara konsolidasi, laba bersih Bank Mandiri hingga Juni 2026 tercatat sekitar Rp30,4 triliun, tumbuh 24,4 persen secara tahunan, sementara laba bersih bank only tercatat sekitar Rp28,5 triliun atau tumbuh 25 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Analis pasar menilai, pelemahan harga saham yang terjadi lebih dipicu sentimen sesaat ketimbang perubahan mendasar pada kinerja perusahaan.
Terkoreksi Cukup Dalam Sejak Awal Tahun
Meski demikian, jika dilihat dari pergerakan jangka panjang, tekanan terhadap saham BMRI sebenarnya cukup signifikan. Sejak awal 2026 hingga akhir Juni, saham Bank Mandiri tercatat terkoreksi sekitar 24,5 persen, tak jauh berbeda dengan koreksi yang dialami saham BBRI sebesar 25,4 persen dan BBNI sebesar 27,7 persen pada periode yang sama.
Baca Juga: Rekening Aktivis Pati Diblokir Bank Mandiri, Berisi Donasi Rp80,9 Juta
Mulai Bangkit Bersama Saham Bank Himbara Lainnya
Kabar baiknya, tren saham-saham bank milik negara (Himbara) mulai menunjukkan geliat positif sejak Juli 2026. Penguatan ini ditopang sejumlah faktor, mulai dari valuasi saham yang sudah tergolong murah, kembalinya minat investor asing, likuiditas domestik yang membaik, meredanya ketidakpastian arah suku bunga, hingga nilai tukar rupiah yang semakin stabil.
Sepanjang periode 1–24 Agustus 2026, saham BBRI tercatat melesat 4,61 persen, melanjutkan penguatan 11,36 persen pada Juli. Saham BBNI turut melonjak 4,25 persen pada Agustus, setelah naik 11,71 persen pada bulan sebelumnya. Sementara itu, saham Bank Mandiri sendiri tercatat menguat tipis 0,24 persen sepanjang Agustus, meski sempat melonjak 8,8 persen pada Juli.
Menariknya, di tengah tren beli investor asing terhadap saham-saham Himbara dengan BBRI mencatat net buy sekitar Rp1,4 triliun dan BBNI sebesar Rp177 miliar sepanjang Agustus saham Bank Mandiri justru masih mencatatkan net sell sebesar Rp731 miliar dari investor asing pada periode yang sama.
Valuasi Dinilai Masih Menarik bagi Investor Jangka Panjang
Sejumlah analis menilai valuasi saham BMRI saat ini justru menarik bagi investor dengan horizon jangka panjang. Pada level harga sekitar Rp4.150, saham ini diperdagangkan pada rasio price to earning (PER) sekitar 6 kali dengan price to book value (P/BV) sekitar 1,2 kali dinilai relatif murah untuk bank dengan return on equity (ROE) di atas 20 persen dan dividend yield sekitar 11 persen.
Dengan kombinasi antara sentimen jangka pendek yang masih fluktuatif dan fundamental perusahaan yang tetap solid, pergerakan saham Bank Mandiri ke depan diperkirakan akan sangat bergantung pada bagaimana pasar merespons perkembangan isu-isu non-fundamental, di samping tren pemulihan sektor perbankan secara keseluruhan.
Baca Juga: Bank Mandiri Edukasi Pentingnya Investasi, Layani Pembukaan Rekening di Kediri Beauty Fest 2026
Editor : Shinta Nurma Ababil