Rupiah Melemah, Pasar Masih Wait and See soal Arah Kebijakan BI

Shinta Nurma Ababil • Dipublikasikan Selasa, 28 Juli 2026 | 13:34 WIB
Karyawan memperlihatkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Selasa (12/5/2026). ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/kye
Karyawan memperlihatkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Selasa (12/5/2026). ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/kye

JP Radar Kediri – Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada perdagangan Selasa pagi (28/7/2026). Rupiah tercatat melemah 61 poin atau 0,34 persen menjadi Rp18.070 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp18.009 per dolar AS.

Baca Juga: Berangkat dari Warisan Keluarga, KAINRATU Kembangkan Tenun Troso hingga Menembus Pasar Global Berkat Pemberdayaan Rumah BUMN BRI

Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menilai pelemahan rupiah kali ini lebih dipengaruhi oleh sikap hati-hati pelaku pasar terhadap arah kebijakan Bank Indonesia di bawah kepemimpinan Gubernur yang baru. Menurutnya, dalam perdagangan hari ini rupiah berpotensi bergerak melemah di kisaran Rp18.000–Rp18.050 per dolar AS, dengan faktor domestik berupa ketidakpastian arah kebijakan BI menjadi pemicu utama.

Sentimen ini muncul menyusul pergantian kepemimpinan di bank sentral. Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti kini menjabat sebagai pejabat sementara Gubernur BI, setelah Perry Warjiyo mengundurkan diri dari jabatannya.

Proses pergantian ini masih akan melalui sejumlah tahapan administratif dan politik. Pemerintah rencananya akan menerbitkan Keputusan Presiden terkait pemberhentian hormat Perry Warjiyo, yang kemudian diikuti masa transisi sebelum Presiden mengusulkan calon Gubernur BI definitif. Sesuai UU Bank Indonesia, nama calon Gubernur BI baru akan diajukan Presiden kepada DPR RI, untuk selanjutnya menjalani uji kelayakan dan kepatutan di Komisi XI sebelum resmi disetujui dan dilantik.

Rully menekankan pentingnya orientasi kebijakan Gubernur BI mendatang. Ia berpendapat bahwa penguatan kelembagaan harus jadi prioritas, khususnya pada kebijakan moneter operasional yang berdampak pada jumlah uang beredar dan ekspektasi inflasi termasuk soal independensi BI dari pembelian langsung obligasi pemerintah di pasar perdana.

Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Ini Turun Jadi Rp2.613.000 per Gram, Cek Rinciannya!

Di sisi lain, kondisi eksternal sebenarnya relatif kondusif bagi rupiah. Indeks dolar AS bergerak stabil, sementara harga minyak dunia menurun seiring meredanya konflik antara Amerika Serikat dan Iran.

Meredanya ketegangan itu terjadi setelah Presiden AS Donald Trump memerintahkan penghentian serangan lanjutan ke Iran, mengakhiri rangkaian serangan yang telah berlangsung selama lebih dari sepekan. Meski begitu, Iran menegaskan belum ada perundingan dengan Washington, dan kelanjutan dialog akan sangat bergantung pada perubahan sikap AS ke depan.

Dengan sentimen global yang cenderung positif namun faktor domestik masih membebani, pergerakan rupiah dalam waktu dekat diperkirakan akan tetap dibayangi ketidakpastian hingga arah kebijakan Gubernur BI yang baru menjadi lebih jelas.

Baca Juga: Harga Emas Pegadaian Hari Ini 28 Juli 2026: Antam, Galeri24, dan UBS Naik atau Turun?

Oleh: Zebita Rizqi Priyangga

Univ: Universitas Negeri Yogyakarta

 

Editor : Shinta Nurma Ababil
IDR to DOLAR mata uang dolar rupiah nilai tukar