Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Sempat Menguat di Pembukaan, IHSG Justru Berbalik Melemah

Shinta Nurma Ababil • Selasa, 14 Juli 2026 | 07:47 WIB
Karyawan berada di dekat layar pergerakan IHSG di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (7/7/2026). Indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup menguat 1,19% ke posisi 5.986,50. Sepanjang hari, indeks diperdagangkan pada level 5.987,01—5.890,44. Sebanyak 450 saham menguat, 222 melemah, dan 289 saham stagnan.(Salman Toyibi/Jawa Pos)
Karyawan berada di dekat layar pergerakan IHSG di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (7/7/2026). Indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup menguat 1,19% ke posisi 5.986,50. Sepanjang hari, indeks diperdagangkan pada level 5.987,01—5.890,44. Sebanyak 450 saham menguat, 222 melemah, dan 289 saham stagnan.(Salman Toyibi/Jawa Pos)

JP Radar Kediri – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan Senin (13/7/2026) dengan penguatan, di tengah sentimen global yang masih diselimuti ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Mengacu data Bursa Efek Indonesia (BEI), pada pembukaan pukul 09.00 WIB, IHSG naik 10,36 poin atau 0,17% ke level 5.934,72. Sebanyak 223 saham menguat, 96 saham melemah, dan 340 saham lainnya bergerak stagnan, dengan nilai transaksi mencapai Rp161,45 miliar yang melibatkan 447,22 juta saham dalam 62.926 kali transaksi.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Melonjak Drastis Buntut Konflik AS-Iran di Selat Hormuz

Namun, hanya berselang beberapa menit setelah pasar dibuka, IHSG terpantau berbalik arah dan justru bergerak ke zona merah.

Fokus Pasar Pekan Ini: Deretan Data Makroekonomi

Memasuki pekan perdagangan ini, pelaku pasar global maupun domestik akan memusatkan perhatian pada serangkaian rilis data makroekonomi penting. Data-data tersebut diyakini akan memberi petunjuk lebih jauh soal arah kebijakan moneter bank-bank sentral utama dunia, efektivitas langkah pemulihan ekonomi, serta dampak eskalasi konflik geopolitik Timur Tengah terhadap stabilitas harga komoditas global.

Indikator yang dinanti mencakup data neraca perdagangan, inflasi tingkat konsumen dan produsen, pertumbuhan ekonomi, hingga posisi utang luar negeri.

Bursa Asia Kompak Menguat di Pagi Hari

Sementara itu, bursa saham kawasan Asia-Pasifik dibuka menguat pada perdagangan Senin, kendati ketegangan geopolitik masih membayangi sentimen pasar. Di jepang, indeks Nikkei 225 naik 0,28% dan Topix menguat 0,72%. Di Korea Selatan, Kospi bertambah 0,58% sementara indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq melonjak 1,84%. Indeks S&P/ASX 200 Australia dibuka relatif datar.

Pendiri Fed Watch Advisors, Ben Emons, menyebutk potensi penutupan Selat Hormuz masih menjadi factor pembayang sentiment pasar. Namun selama belum ada indikasi nyata penutupan jalur pelayaran strategis tersebut dalam beberapa bulan mendatang yang dapat memicu krisis energi global, perhatian investor dinilai akan lebih tertuju pada data inflasi AS, arah kebijakan moneter, dan musim laporan keuangan perbankan.

Baca Juga: Harga Emas Pegadaian Hari Ini 13 Juli 2026, Cek Antam, UBS, dan Galeri24

Musim Laporan Keuangan Bank Besar AS Dimulai

Sorotan utama Wall Street pekan ini datang dari sejumlah bank raksasa yang dijadwalkan merilis kinerja keuangan kuartal II-2026, di antaranya JPMorgan Chase, Goldman Sachs, Morgan Stanley, Bank of America, Citigroup, dan Wells Fargo bagian dari 28 emiten anggota indeks S&P 500 yang akan mengumumkan hasilnya pekan ini.

Selain sektor perbankan, laporan keuangan Netflix, Johnson, dan UnitedHealth juga dinantikan pasar sebagai gambaran  kondisi ekonomi dan daya tahan konsumsi masyarakat AS. Berdasarkan data FactSet, analis memproyeksikan laba emiten S&P 500 pada kuartal II-2026 tumbuh lebih dari 23% secara tahunan.

Tren Investasi AI Diyakini Berlanjut hingga 2028

 Chief Investment Officer Raymond James, Larry Adam, memperkirakan sektor teknologi tetap akan jadi pusat perhatian investor, terutama terkait keberlanjutan dorongan kecerdasan buatan (AI) terhadap pertumbuhan laba perusahaan .

Meski sempet muncul kekhawatiran perusahaan hyperscaler akan memangkas belanja modal AI, Adam meyakini rencana investasi tersebut justru akan dipertahankan bahkan berpotensi meningkat hingga 2028. Ia mencatat penyebut AI dalam paparan kinerja perusahaan di seluruh 11 sektor industri melonjak 98% secara tahunan dan mencetak rekor tertinggi, mencerminkan makin meluasnya adopsi teknologi tersebut di dunia usaha.

Data Inflasi AS Jadi Penentu Arah Suku Bunga

Selain laporan keuangan, pelaku pasar juga akan mencermati rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS periode Juni yang dijadwalkan terbit Selasa waktu setempat salah satu acuan penting bagi arah kebijakan suku bunga Bank Sentral AS, Federal Reserve, ke depannya.

Baca Juga: Siap-siap! Ini Panduan CPNS 2026: Prediksi Formasi dan Jadwalnya

Editor : Shinta Nurma Ababil
#ihsg melemah #pasar global #saham #geopolitik