Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Ketum PERBANAS Hery Gunardi Beberkan Strategi Perbankan Hadapi Ketidakpastian Ekonomi Global

Anwar Bahar Basalamah • Sabtu, 7 Maret 2026 | 12:35 WIB

Photo
Photo

Jakarta,JP Radar Kediri - Di tengah dinamika ekonomi global yang semakin kompleks, industri perbankan Indonesia dinilai tetapmenunjukkan resiliensi yang kuat. Namun demikian, sejumlahstrategi antisipatif perlu dipersiapkan guna menjaga stabilitas sektor keuangan serta keberlanjutan pertumbuhan ke depan.

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Umum PERBANAS yang juga Direktur Utama BRI, Hery Gunardi dalam forumCFO PERBANAS bertema Driving Acceleration withAccountability yang diselenggarakan di Jakarta, Jumat (6/3/2026). Acara tersebut turut dihadiri oleh Deputi Komisioner Pengaturan, Perizinan dan Pengendalian KualitasOJK Deden Firman Hendarsyah, Ketua Dewan Kehormatan PERBANAS Agus Martowardojo, serta Ketua Badan Pengawas PERBANAS Kartika Wirjoatmodjo.

Dalam paparannya, Hery Gunardi menjelaskan bahwa fundamental industri perbankan nasional hingga awal 2026 masih berada pada level yang solid. Hal ini tercermin dari pertumbuhan kredit per Januari 2026 yang mencapai 9,96%secara tahunan (YoY), meningkat dibandingkan posisi 2025 yang berada di kisaran 9,63% YoY.

Baca Juga: Rajut Kebersamaan di Bulan Ramadan, BRI Gelar Buka Bersama Pemimpin Redaksi Media untuk Dukung Jurnalisme Berkualitas

Pada saat yang sama, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh sebesar 10,8% (YoY). Rasio kredit bermasalah atau NonPerforming Loan (NPL) juga masih terjaga di kisaran 2,14%.Sementara itu, ketahanan permodalan industri perbankan puntetap kuat dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) sekitar 25,9%.

“Beberapa indikator profitabilitas menghadapi tekanan moderat seiring meningkatnya biaya operasional. Namun demikian, perbankan tetap perlu waspada. Walaupun outlookindustri perbankan secara umum masih cukup baik, tapi kitaharus tetap antisipatif terhadap berbagai potensi risiko ke depan,” ucapnya.

Menurut Hery, ketegangan geopolitik global yang berkepanjangan berpotensi mendorong inflasi energi dan harga pangan, menekan daya beli masyarakat, serta memperlambat aktivitas ekonomi. Di saat yang sama, ketidakpastian ekonomi juga menekan kinerja sektor usahasehingga berpotensi meningkatkan risiko NPL, yang padaakhirnya menuntut perbankan untuk lebih selektif dalam penyaluran kredit serta memperkuatpengelolaan risiko dan kualitas aset.

Baca Juga: Transaction Banking BRI Tumbuh Impresif, DorongPenguatan Dana Murah

Untuk itu, Hery menyebutkan bahwa industri perbankan perlumemperkuat berbagai langkah mitigasi risiko guna menjaga stabilitas sektor keuangan. Beberapa protokol mitigasi spesifik harus dipersiapkan oleh perbankan.

Pertama, penguatan manajemen risiko dengan melakukan stress test sektoral padaportofolio di sektor transportasi, logistik, dan manufaktur yang sangat bergantung pada BBM,melakukan early warning system terhadap potensi pemburukan NPL, serta pengetatandisiplin kredit dan risk-based pricing.

Kedua, perbankan perlu memastikan ketersediaan likuiditasyang memadai untuk menghadapi potensi volatilitas arus dana dengan memperkuat Liquidity Coverage Ratio (LCR) dan Net Stable Funding Ratio (NSFR). Tak ada pilihan lain, perbankan harus memiliki bantalan arus kas yang cukup.

Baca Juga: Dedikasi Rumiatun, BRILink Agen di Grobogan yang Sigap Melayani Warga Desa di Garis Depan

Ketiga, perbankan Indonesia harus mengelola risiko nilai tukar dan likuiditas valuta asing dengan menjaga posisi devisa neto(PDN) tetap konservatif, memperkuat strategi lindung nilai (hedging) untuk eksposur valas, serta mengelola maturitymismatch valuta asing.

Menurut Hery, langkah tersebut menjadi penting untuk memastikan ketersediaan likuiditas valuta asing bagi sektor-sektor strategis, termasuk eksportir dan importir, guna menjaga kelancaran aktivitas perdagangan nasional.

Senada dengan Hery Gunardi, Deputi Komisioner Pengaturan, Perizinan dan Pengendalian Kualitas OJK Deden FirmanHendarsyah menuturkan bahwa kondisi perbankan nasionaldinilai masih cukup resilien, terutama dari sisi indikator permodalan. Industri perbankan memiliki bantalan permodalan yang kuat untuk menghadapi dinamika global.

“Demikian pula dari sisi likuiditas, kondisinya masih ampledan seluruh indikator utama berada di atas threshold minimal yang ditetapkan regulator,” pungkas Deden.

Keywords: BRI, BBRI, PERBANAS, Kinerja Keuangan,Strategi Perbankan

 

 

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#strategi perbankan #perbanas #bri #kinerja keuangan