KEDIRI, JP Radar Kediri- Harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi mengalami kenaikan sejak Minggu (1/3) kemarin.
Kenaikan yang terjadi secara mendadak di pertengahan bulan Ramadan itu menjadi perbincangan publik. Mereka mempertanyakan terkait faktor yang menyebabkan harga menjadi naik.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun mengatakan, penyesuaian harga yang dilakukan berkala itu untuk produk BBM non subsidi.
“Pertamina melalui Pertamina Patra Niaga melakukan penyesuaian harga berkala untuk produk BBM non-subsidi yang berlaku mulai Maret 2026 untuk produk Pertamax Series dan Dex Series,” ujar Robert.
Menurutnya, penyesuaian harga tersebut dilakukan dengan mengacu pada formula harga yang ditetapkan oleh pemerintah.
Juga mengikuti perkembangan tren harga rata-rata publikasi minyak dunia. Seperti Argus atau Mean of Platts Singapore (MOPS).
Baca Juga: Harga BBM Terbaru Mulai Maret 2026, Pertalite dan Pertamax Kini Berapa?
Tak hanya itu, penyesuaian harga juga mempertimbangkan pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
“Penyesuaian harga BBM non-subsidi dilakukan secara berkala dan tetap menjadikan harga Pertamax dan Dex Series sebagai yang paling kompetitif,” imbuhnya. Terkait harga tersebut juga berbeda di setiap daerah. Itu sesuai dengan besaran PBBKB yang ditetapkan oleh masing-masing pemerintah daerah.
Untuk diketahui, meskipun BBM non subsidi mengalami kenaikan, BBM subsidi masih belum mengalami perubahan. Pertalite tetap Rp 10 ribu per liter dan Solar subsidi bertahan di Rp 6.800 per liter.
Baca Juga: Harga BBM per 1 Januari 2025, Pertamax Turun Jadi Segini
Di lain sisi, kenaikan harga ini dikeluhkan oleh sejumlah pengendara di wilayah Kota Kediri. Salah satunya adalah Rina, 40, warga Kelurahan Dandangan, Kecamatan Kota.
“Dampaknya cukup terasa. Terutama bagi pengguna kendaraan harian dan pelaku usaha kecil dengan mobilitas tinggi. Meskipun selisihnya tidak terlalu besar, akumulasi biaya operasional bulanan tetap bertambah,” tutur Rina.
Selain resah harga BBM yang mengalami kenaikan, warga juga khawatir dengan stok yang diperkirakan cukup untuk 20 hari ke depan.
“Kemarin pernyataan menteri itu juga cukup buat khawatir. Beberapa pengendara sepertinya juga berbondong-bondong memenuhi kendaraannya. Biar stok aman, ini yang bahaya kalau sampai terjadi panic buying,” tandasnya.
Baca Juga: Harga BBM Pertamina Per 1 Februari 2026, Pertamax Turun Jadi Rp11.800 per liter
Pantauan wartawan Jawa Pos Radar Kediri, beberapa SPBU di pusat kota memang terlihat panjang antreannya. Itu tidak hanya pada BBM subsidi, melainkan juga BBM non subsidi.
Daftar Harga BBM Non Subsidi
- Pertamax dari Rp 11.800 menjadi Rp12.300 per liter
- Pertamax Green 95 dari 12.450 menjadi Rp12.900 per liter.
- Pertamax Turbo dari 12.700 meenjadi Rp13.100 per liter.
- Dexlite dari Rp 13.250 menjadi Rp14.200 per liter.
- Pertamina Dex dari 13.500 menjadi Rp14.500 per liter.