Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Lipsus Kopinang 1, Dulu Sepi, Kawasan Pecinan Kini Jadi Pusat Keramaian Baru Kota Kediri, Ini Omset Pedagang

Hilda Nurmala Risani • Senin, 2 Februari 2026 | 15:27 WIB

 

 

Suasana Sabtu pagi di Kopinang, Kelurahan Pakelan, Kota Kediri.
Suasana Sabtu pagi di Kopinang, Kelurahan Pakelan, Kota Kediri.

Kawasan Pecinan di Sabtu pagi, kini jadi sentra baru ekonomi kreatif warga kota. Deretan penjual makanan bisa menjadi santapan. Warga pun diajak bernostalgia, mengingat nilai historis kawasan yang merangkai dengan Jalan Dhoho ini.

“Karena setiap hari saya berjualan di daerah Pakelan, melihat Jalan Dr Wahidin ini termasuk jalanan yang paling sepi dibandingkan jalan yang lain. Bisa dikatakan ini daerah matilah.”

Kata-kata itu diucapkan oleh Oryza Sativa. Sosok yang menjadi koordinator pengelola Kopi Pagi Pecinan Ngangeni.  Event yang kemudian diakronimkan menjadi Kopinang.

Kopinang berlangsung hanya seminggu sekali. Di Sabtu pagi, mulai pukul 06.00 pagi hingga 10.00. Lokasinya di sepanjang Jalan Dr Wahidin, masuk kawasan pecinan.

Baca Juga: Wali Kota Vinanda Resmikan Sentra Kuliner Pasar Banjaran, Puluhan PKL Jl Joyoboyo dan Jl Patiunus Senang Bisa Berjualan Lagi

Awalnya dari ide sederhana. Para pegiat kopi jalanan yang sering kumpul, berpikiran membuat acara menarik. Tanpa harus membebankan anggaran ke pemerintah daerah.

Lalu, tercetuslah ide berjualan kopi di satu jalanan tertentu. Tentu saja dicari yang tidak menganggu arus lalu lintas.

“Saya mencoba untuk mengajukan izin sekaligus menyodorkan konsep kepada pihak kelurahan. Akhirnya kelurahan pun juga menembusi ke kecamatan. Kebetulan camatnya sangat support dan dibantu percepatan izin serta sosialisasi kepada warga sekitar,” terang Riza, panggilan sang penggagas, sambil melempar senyum.

Menurut Riza, konsep Kopinang menguatkan nuansa pecinan di kawasan itu. Mereka tidak menggelar live music. Berganti dengan back sound musik mandarin. Agar vibes pecinan kian terasa kental. Juga, agar warga di kawasan itu tidak terganggu.

Baca Juga: Sentra Kuliner Pasar Banjaran Kota Kediri Segera Beroperasi, Ini Target Waktunya

“Kalau pedagang ini awalnya memang mayoritas pegiat kopi jalanan. Tapi saya lihat-lihat kurang greget akhirnya mencoba untuk mengundang UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah, Red). Baik penjual makanan maupun barber dan tarot,” tandas lelaki asal Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri itu.

Kini pelaku UMKM yang ada di Kopinang mencapai 15 orang. Mereka didatangkan berdasarkan undangan saja dan menyesuaikan dengan konsep. Jadi tidak sembarangan orang yang bisa berjualan di lokasi ini.

Misalnya untuk pedagang makanan yang tersedia ada lontong Cap Go Meh. Ini masih ada keterkaitan dengan konsep pecinan. Karena masuk dalam hidangan tradisional Indonesia hasil akulturasi budaya Jawa dan Tionghoa. Berisi lontong yang disajikan dengan aneka lauk kaya rasa seperti opor ayam, sayur lodeh, sambal goreng, telur pindang, abon, bubuk koya, dan kerupuk.

Baca Juga: Kebut Persiapan Sentra Kuliner Pasar Banjaran Kota Kediri, Ini Aturan Mainnya

Tak hanya itu, juga ada pedagang bakpao dengan aneka isian. Yang tentunya masih menyatu dengan suasana pecinan.

“Sekarang di sini (Kopinang, Red) sudah ada 15 pedagang. Belum ada rencana menambah karena kami juga ingin tetap menyediakan space untuk warga Pakelan. Kecuali kalau ada yang mundur berjualan maka bisa digantikan yang lain,” paparnya sembari menyebut jika pedagang semua berasal dari wilayah Kota Kediri saja.

Lebih lanjut Riza menjelaskan, pedagang yang berjualan di Kopinang setiap kali datang diminta untuk membayar biaya iuran sebesar Rp 25 ribu. Itu untuk biaya kebersihan sekaligus lain-lain. Seperti pemasangan umbul-umbul hingga pengadaan event di momen tertentu.

“Kami usahakan ada event di momen tertentu. Agar pengunjung yang datang semakin ramai. Juga untuk memperkenalkan kepada khalayak yang lebih luas,” bebernya.

Kopinang sudah bergulir sejak dua bulan yang lalu. Awalnya hanya ada 10 pedagang dan puluhan pengunjung. Kini, sudah ada belasan pedagang dan ratusan pengunjung dalam kurun waktu hitungan jam saja.

Baca Juga: Kafe Menjamur, Kediri Jadi ‘Medan Tempur’ Brand Kopi Lokal dan Nasional

Tentu, ini tidak lepas dari usaha dan kerja keras yang dilakukan oleh pengelola dan pihak terkait. Salah satu upaya yang dilakukan yaitu dengan menyebarluaskan kegiatan Kopinang di media sosial.

“Kenapa bisa ramai ya karena kami dibantu teman-teman yang ahli di media sosial untuk memasarkan. Beberapa dari mereka secara sukarela membuat konten saat sedang berkegiatan di Kopinang. Kami pun juga sering live menunjukkan aktivitas masyarakat. Ada yang berkuliner hingga sekadar bercengkrama dengan orang terdekatnya,” urainya, lagi-lagi dengan melempar senyum.

Ramainya kunjungan ini juga berdampak positif kepada para pedagang. Setiap harinya mereka bisa mendapat omzet jutaan rupiah.

“Kalau di Kopinang saja untuk penjualan kopi dan roti bisa sampai Rp 2 juta,” ujar Zidni, salah satu pedagang yang ramai dikunjungi oleh masyarakat.

Lelaki yang berdomisili di Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri itu menyebut jika konsep jualannya ini menyesuaikan dengan pasar. Yaitu dengan menjual kopi seduh lengkap dengan hidangan roti. Baik roti panggang asin maupun yang manis.

Baca Juga: Misteri 'Coffee Shop Effect' yang Bikin Lebih Produktif di Kafe meskipun Berisik?

“Saya menjual kopi seduh dan roti panggang kekinian. Bukan roti panggang bandung yang menggunakan beragam selai. Tapi ini ada keju, telur, dan smoke beef. Kalau yang manis ada rasa coklat,” bebernya.

Tak hanya Zidni, pedagang bakpao juga merasakan berkah dari keberadaan Kopinang. Dimana omsetnya dalam hitungan jam saja mencapai ratusan ribu. “Buka dalam kurun waktu 5 jam. Kalau lagi ramai omsetnya bisa mencapai Rp 1 juta. Kalau hari biasa tidak ada event sekitar Rp 500 ribu sampai Rp 600 ribu saja,” terang Dandy, warga asli Kelurahan Pakelan itu.

Pantauan wartawan koran ini, memang mayoritas masyarakat yang berkunjung selalu membawa teman. Mereka tak hanya mengabadikan momen kebersamaan tetapi juga membangun komunikasi yang mungkin sudah lama hilang.

Baca Juga: Ini Manfaat Kopi pada Kesehatan Mental

“Janjian sama teman udah lama tidak bertemu. Waktu di sini enjoy karena suasananya tenang dan mayoritas tidak bermain handphone. Jadi kami pun ikut-ikutan ngobrol ngalor-ngidul nggak habis-habis,” terang Risa disertai gelak tawa.

Perempuan asal Kecamatan Pesantren, Kota Kediri itu mengaku senang berkunjung ke Kopinang karena dapat melihat aktivitas-aktivitas yang mungkin jarang ditemui di tempat lain. Contohnya penjual susu murni dengan menggunakan botol kaca bening hingga warga yang mengantre untuk melihat kehidupan di masa depan melalui kartu tarotnya.

“Sekarang kayaknya jarang sekali bisa ditemui aktivitas seperti itu. Buat nostalgia jaman SD (sekolah dasar, Red) yang semuanya serba jadul. Secara tidak langsung ini juga kembali mengingatkan tentang historis wilayah sekitar. Pasti mau tidak mau pengunjung akan penasaran dan kepo terkait sejarah lokasi Kopinang,” pungkasnya.

Untuk mendapatkan berita-  berita terkini   Jawa Pos   Radar Kediri  , silakan bergabung di saluran WhatsApp "  Radar Kediri  ". Caranya klik link join  saluran WhatsApp Radar Kediri.  Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.

Editor : rekian
#Omset Jutaan #Ngangeni #Kelurahan Pakelan Kota Kediri #Kopinang Kota Kediri #kota kediri