KOTA, JP Radar Kediri– Kota Kediri punya pekerjaan rumah (PR) besar untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Kota Tahu ini mencatatkan pertumbuhan paling kecil dibanding daerah lain di wilayah mataraman. Berdasarkan catatan Bank Indonesia (BI) Kediri, pertumbuhan di Kota Kediri hanya sebesar 1,86 persen.
Kepala Perwakilan (KPw) BI Kediri Yayat Cadarajat mengatakan, Kota Kediri selama ini masih bergantung pada industri pengolahan. Dalam hal ini adalah PT Gudang Garam Tbk. Oleh karenanya, saat bisnis dari perusahaan rokok tersebut terguncang maka memengaruhi produk domestik regional bruto (PDRB) Kota Kediri.
“Kinerjanya PT Gudang Garam Tbk di tahun kemarin dan tahun ini kan masih belum terlalu baik ya. Tahun lalu penurunan keuntungannya cukup besar, jadi itu salah satunya yang mendorong belum terlalu baik,” ujar pria yang akrab disapa Yayat itu.
Seperti yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Kediri, sektor industri pengolahan memang memiliki kontribusi besar dalam struktur PDRB di Kota Kediri. Berdasar data 2024, industri pengolahan memiliki share sebesar 79,64 persen terhadap PDRB. Sehingga, ketika bisnis industri pengolahan, dalam hal ini PT Gudang Garam Tbk., maka akan berdampak langsung terhadap PDRB Kota Kediri.
“Basis perhitungan PDRB sebetulnya wilayah, area, karena pusatnya di sini (Kota Kediri, Red) otomatis laporan keuangan PT Gudang Garam Tbk langsung menjadi bagian dari perekonomian Kediri,” jelas Yayat kepada awak media.
Oleh karenanya, Yayat berpendapat bahwa Kota Kediri perlu mendongkrak pertumbuhan ekonomi dari sektor yang lain. Ada beberapa hal yang bisa menjadi daya ungkit perekonomian di Kota Kediri. Salah satunya adalah dengan menggenjot event olahraga tingkat nasional. Sebuah event yang mampu membawa orang mendatangi Kota Kediri ini.
“Kota Kediri kan sudah sering mengadakan event olahraga nasional. Misalnya Proliga ada, basket ada, bola ada Persik Kediri. Dan ada potensi-potensi lain misalnya kejuaraan karate nasional, catur, lari,” bebernya.
Dengan kata lain, Yayat menilai Kota Kediri mampu menjadi penyelenggara event olahraga tingkat nasional. Dia pun melihat hal tersebut sebagai peluang besar untuk menutup sedikit ketergantungan terhadap industri pengolahan. Bukan tanpa sebab. Pasalnya, setiap kegiatan olahraga tersebut akan membawa multiplier effect tersendiri.
“Pernah lihat event olahraga push bike, itu yang hadir 600 anak, kalau ditambah dua orang tuanya saja, yang datang ke Kediri itu udah 600 kali tiga (1.800 orang, Red). Nginepnya ya di penginapan-penginapan. Artinya hanya push bike aja, itu bisa mendatangkan ratusan orang,” ujarnya.
Oleh karenanya, Pemerintah Kota (Pemkot) Kediri perlu serius dalam penyelenggaraan event olahraga. Di sisi lain, belum semua daerah lain mampu menyelenggarakan event olahraga tingkat nasional.
“Celahnya saya lihat itu. Kota Kediri siap menjadi penyelenggara event olahraga nasional. Itu salah satu yang menurut saya prospektif. Tapi ya itu fasilitasnya harus mendukung,” ingatnya
Data Pertumbuhan Ekonomi Wilayah Kerja BI Kediri Semester I 2025 (yoy)
Kabupaten Pacitan 6,84 persen
Kabupaten Ngawi 6,38 persen
Kota Madiun 6,11 persen
Kabupaten Trenggalek 5,91 persen
Kabupaten Madiun 5,80 persen
Kabupaten Ponorogo 5,29 persen
Kabupaten Tulungagung 5,22 persen
Kabupaten Kediri 5,10 persen
Kabupaten Nganjuk 5,01 persen
Kabupaten Magetan 4,87 persen
Kota Blitar 4,75 persen
Kabupaten Blitar 4,65 persen
Kota Kediri 1,86 persen
Editor : rekian