Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Purbaya Genjot Ekspektasi dan Stimulus: Strategi Mengejar Target Pertumbuhan 8%

Jauhar Yohanis • Jumat, 21 November 2025 | 12:51 WIB

Purbaya saat menjadi keynote speaker di peluncuran Bloomberg Business Week di Jakarta, 20 November 2025
Purbaya saat menjadi keynote speaker di peluncuran Bloomberg Business Week di Jakarta, 20 November 2025

Menteri Keuangan Purbaya Yudi Sadewa menggambarkan peta jalan ekonomi pemerintah dengan gaya langsung, teknis, dan sarat optimisme saat berbicara di peluncuran Bloomberg Businessweek Indonesia, Kamis 20 November 2025.

Di hadapan para eksekutif dan pelaku industri, ia memaparkan bagaimana pemerintah berupaya menarik kembali momentum pertumbuhan setelah gejolak sosial dan perlambatan ekonomi pada pertengahan 2025.

Purbaya menilai dinamika ekonomi Indonesia dalam dua dekade terakhir menunjukkan peran krusial kebijakan yang langsung menyentuh masyarakat.

Beda Jaman SBY dan Jokowi

Ia membandingkan dua periode pemerintahan sebelumnya: era SBY yang menikmati pertumbuhan rata-rata 6% namun kurang populer karena minim program langsung.

Era Jokowi yang tumbuh lebih lambat tetapi tetap memiliki tingkat penerimaan publik yang tinggi akibat berbagai program pro-rakyat. “Popularitas itu muncul ketika masyarakat merasakan manfaat pembangunan secara langsung,” ujarnya.

Ia kemudian memaparkan penyebab perlambatan ekonomi yang sempat memicu ketidakpuasan publik. Pengetatan kondisi moneter sejak 2023 hingga 2025 membuat jumlah uang beredar menurun dan aktivitas ekonomi melemah.

Dampaknya, tekanan pada kelompok berpenghasilan rendah meningkat dan demonstrasi besar muncul di berbagai kota pada pertengahan 2025.

Untuk memulihkan kepercayaan dan mendorong percepatan, Purbaya mengatakan dirinya menerapkan pendekatan yang ia sebut sebagai "self-fulfilling prophecy" ekonomi—mengelola ekspektasi untuk menghasilkan kinerja riil.

Dua hari setelah menyampaikan janji memulihkan ekonomi di DPR, pemerintah mengeksekusi injeksi dana Rp200 triliun ke sistem perbankan, diikuti penambahan Rp76 triliun beberapa bulan kemudian.

“Ekspektasi tidak boleh berdiri sendiri. Harus ada tindakan cepat agar kredibilitas tidak hilang,” kata Purbaya.

Selain injeksi likuiditas, pemerintah meluncurkan paket stimulus fiskal yang lebih langsung menyasar rumah tangga. Program BLT Rp33 triliun diberikan selama tiga bulan untuk keluarga miskin ekstrem, disertai kebijakan diskon tiket angkutan publik.

Pemerintah juga memulai program magang nasional berskala besar dengan uang saku setara UMK. Kuota awal 20.000 peserta disebut dapat diperluas hingga ratusan ribu jika permintaan tinggi.

Purbaya memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 2024 berada pada kisaran 5,6–5,7%, dan mendorong percepatan ke 6% pada 2025 melalui penguatan simultan mesin fiskal, moneter, dan sektor swasta.

Ia menyebut target jangka menengah Presiden Prabowo —pertumbuhan 8%— sebagai hal yang “menantang tetapi dapat dikejar,” asalkan hambatan industri dihilangkan dan pasar domestik dilindungi dari banjir barang ilegal.

“Jika mesin fiskal, moneter, dan sektor swasta berjalan serempak, mencapai 6% tidak terlalu sulit. Tinggal kita naikkan lagi setiap tahun,” ujarnya. Upaya itu, menurutnya, akan menentukan apakah Indonesia dapat memasuki fase pertumbuhan tinggi yang berkelanjutan dan membuka jalan menuju status negara maju. (*)

Baca Juga: Menkeu Purbaya Optimistis Ekonomi Indonesia Melesat pada 2025–2026

 

Editor : Jauhar Yohanis
#Purbaya Yudi Sadewa #menteri keuangan #pertumbuhan ekonomi #stimulus