KOTA, JP Radar Kediri-Satuan Tugas (Satgas) Pangan Kota Kediri menindaklanjuti temuan beras oplosan oleh Kementerian Pertanian. Kemarin, tim gabungan dari beberapa organisasi perangkat daerah (OPD) Kota Kediri melakukan sidak bersama perwakilan Polres Kediri Kota dan Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Kediri.
Hasilnya, mereka menemukan beras terindikasi dioplos masih beredar. Bahkan, bukan hanya di toko modern, melainkan juga di pasar tradisional.
Pantauan jawapos.radarkediri.com, sidak dimulai sekitar pukul 09.00. Tim gabungan menyasar Pasar Bandar, Pasar Setonobetek, dan Pasar Pahing.
Di tiap pasar mereka menyasar kios dan toko kelontong. Terutama yang menjual sembako, seperti beras.
Kepala Bidang Pengembangan Perdagangan Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) Kota Kediri Rice Oryza Nusivera mengatakan, dari sidak kemarin diketahui jika ada beberapa pelanggaran. Yaitu beras premium yang harganya melebihi harga eceran tertinggi (HET).
Bahkan, tim juga mendapati hal baru. Berupa beras kualitas medium dengan harga premium.
“Kami juga menemukan beras yang tidak memenuhi standar premium. Masih ditemukan kutu beras di dalam kemasan,” jelas wanita yang akrab dipanggil Riris ini.
“Harganya juga melebihi HET beras premium sebesar Rp 74.500 (untuk kemasan lima kilogram),” lanjutnya.
Tiga merek beras yang harganya melebihi HET, menurut Riris, adalah beras merek Koi, Sania, dan Lahap Lele. Harga jual tiga beras itu mencapai Rp 76 ribu atau jauh di atas HET.
Tim juga mendapati ada beras merek Koi Biru yang di dalam kemasan ada kutunya.
Selain beberapa temuan tersebut, tim juga menemukan beras merek Sri Putih kualitas medium. Faktanya, beras di toko Jalan Cendana itu dijual seharga beras premium.
“Beras merek Sri Putih ini baru ditemukan di sini (toko Jalan Cendana, Red). Harga seharusnya di angka Rp 62 ribu. Namun dijual mendekati harga beras premium Rp 73 ribu,” terang Riris.
Terkait hal itu, Riris meneruskan, pihaknya akan mengambil sampel beras. Agar nanti bisa ditindaklanjuti oleh Satgas Pangan.
Masih menurut Riris, harga beras yang di atas HET itu karena beberapa faktor. Di antaranya pedagang membeli dari grosir bukan dari produsen langsung.
Hal itu membuat rantai distribusi lebih panjang. Sehingga harga yang didapat konsumen cenderung lebih tinggi.
Berbeda dengan toko modern yang membeli dari produsen. Mereka bisa mendapatkan harga lebih murah.
Seperti sidak di toko modern, dalam sidak di pasar tradisional kemarin mereka juga mengecek keberadaan beras oplosan. Tim mengecek takaran, mutu, dan izin edarnya.
Terkait temuan beras merek Sania yang terindikasi oplosan, Riris menyebut pihaknya tidak melakukan penarikan. Meskipun secara nasional beras yang sedang dalam penyelidikan lebih lanjut itu sudah ditarik.
“Dari Pusat masih melakukan penyelidikan. Kepastian apakah beras (Sania, Red) oplosan atau tidak belum keluar,” tandas Riris terkait temuan dua kantong beras Sania di Pasar Bandar kemarin.
Terpisah, Wahyu Edrawansari, pedagang di Pasar Bandar mengaku menjual beras Sania karena tidak tahu. Dia tak mengerti jika beras tersebut sudah ditarik akibat dugaan beras oplosan.
“Saya hanya menghabiskan stok yang ada. Terakhir belanja di grosir 2 minggu yang lalu dengan harga beli Rp 74 ribu,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Kediri.
Ketidaktahuan juga diungkapkan oleh Imroatul, pedagang di Jalan Cendana. Di tokonya dia menjual beras merek Sri Putih.
Dia mengaku mendapat beras itu dari sales yang keliling.
“Beras Sri Putih ini bagus. Tidak ada label premium tetapi kualitasnya sama dengan merek Lahap,” ujarnya sembari menyebut beras itu asli dari Kediri dan diminati pembeli.
Terkait kualitas beras, dia tidak tahu apakah tergolong medium atau premium.
“Tahunya hanya beras (IR) 64 begitu. Dan, ternyata laris di pasaran,” tuturnya.(*)
Editor : Mahfud