KEDIRI, JP Radar Kediri- Tantangan pasar tradisional semakin berat. Pertahanan pedagang akibat gempuran pasar modern dan perkembangan dunia digital mulai rapuh. Mereka harus menerima kenyataan, minat masyarakat ke pasar semakin menurun. Membuat penjualannya terus merosot.
Lesunya penjualan itu sebenarnya mulai terjadi sejak 2018. Namun, yang lebih parah terjadi pada saat badai Covid-19 menerjang. Pasar tradisional menjadi lumpuh karena menurunnya jumlah pembeli. Kemunculan e-commerce pasca pandemi Covid-19 juga mengalami perkembangan pesat. Membuat pedagang pasar tradisional semakin terpuruk.
Salah satu pasar di Kota Kediri yang mengalami penurunan sangat signifikan adalah Pasar Setonobetek. Salah satu pedagangnya, Juwariyah, 56, mengatakan, pendapatannya semakin menurun sejak Covid-19. Dia mengaku kesulitan mendapatkan Rp 300 ribu sehari. Bahkan, dia hanya mengantongi uang hanya Rp 50 ribu sehari berjualan.
Pada masa kejayaannya, Juwariyah bisa dengan mudah mendapatkan Rp 500 ribu per hari. Dia mengatakan, penjualannya berkurang setelah dirinya pindah ke bangunan baru. Namun, paling parah terjadi sejak Covid-19 lalu. Sebagai pedagang pasar tradisional, dia benar-benar belum pulih total.
Baca Juga: Harga Bawang Merah di Pasar Induk Pare Mulai Terkerek, Tembus Rp 22 Ribu per Kilogram
Pendapatan yang rendah membuatnya semakin khawatir. Jika tidak ada perubahan, usaha Juwariyah bisa bangkrut. Apalagi pengeluarannya di Pasar Setonobetek terbilang tinggi. Untuk ke kamar mandi saja paling tidak Rp 5 ribu sehari.
“Setiap harinya bayar (retribusi, red) Rp 3,5 ribu, parkir Rp 2 ribu. Tinggal dikalikan,” katanya sembari menyebut dirinya juga harus membayar pajak Rp 200 ribu setiap tahunnya dan Rp 10 ribu setiap satu bulan untuk listrik.
Dia mendambakan kondisi Pasar Setonobetek yang dulu. Sebab, kondisi saat ini mengalami penurunan dan tidak seramai dulu. Jika sudah di atas pukul 08.00 WIB, pengunjung yang datang sudah berkurang. Apalagi ketika siang hari, kondisi pasar menjadi begitu lengang.
Kondisi Pasar Setonobetek ini benar-benar sepi. Apalagi di siang hari. Kebanyakan pedagang hanya duduk menunggu pengunjung. “Kalau pagi masih ramai, tapi setelah jam tujuh sepi. Pedagang sayur keliling kan wis muter,” tambah Juwariyah.
Situasi semakin sulit justru dialami pedagang pakaian. Salah satunya adalah Iis, 60, warga Kota Kediri yang mengaku dagangannya kerap tidak laku sama sekali dalam sehari. Membuatnya harus mempersingkat jam buka kiosnya. Sekarang, hanya sampai pukul 16.00 WIB.
“Dulu ya sampai habis Maghrib. Kalau bukanya pukul 08.00 WIB,” ujarnya sambil menyebut pembeli tetap ramai meski sore hari.
Saat ini, pengunjung yang melintasi kiosnya bisa dihitung dengan jari. Menyebabkan penjualan pakaiannya menurun drastis. Apesnya, Iis tidak tertarik untuk berjualan daring. Mengingat dia juga sudah lanjut usia (lansia).
“Ya kalau belajar mungkin bisa, tapi saya ogah (berjualan online, red),” akunya. Meski penjualannya tidak laku setiap hari, dia mengaku masih bisa menjual sepuluh potong baju dalam satu bulan.
“Saya juga tidak menambah stok,” tandasnya.
Terpisah, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri Subagyo mengatakan, perilaku ekonomi di masyarakat telah berubah. Sebagian besar masyarakat mulai beralih ke supermarket untuk berbelanja. Sebagian lagi, mereka ada yang sudah berbelanja daring.
“Pasar tradisional tidak hanya bersaing dengan pasar modern, tetapi juga e-commerce,” jelasnya.
Menurutnya, pasar modern memberikan fasilitas kenyamanan berbelanja kepada masyarakat. Salah satunya lebih bersih. Faktor itulah yang membuat sebagian masyarakat beralih ke pasar modern. “Kalau e-commerce memberikan kemudahan,” tambahnya.
Meski begitu, Subagyo masih yakin pasar tradisional masih bisa hidup. Pasalnya, pasar tradisional memiliki keunikan tersendiri. Contohnya, terjadi tawar-menawar harga. “Ada interaksi sosial selain transaksi,” lanjutnya.
Yang saat ini perlu dilakukan pasar tradisional adalah melakukan penyesuaian. Menurut Subagyo, para pedagang harus bisa mengikuti selera masyarakat. Contoh sederhananya, para pedagang bisa menawarkan pembayaran melalui QRIS. Lalu melakukan promosi di sosial media.
“Pemerintah bisa memberikan pelatihan kepada pedagang. Bagaimana menata dagangannya, melakukan promosi. Mungkin bisa mengadakan bazar untuk menarik masyarakat datang ke pasar. Selain itu juga perbaikan-perbaikan fasilitas,” tandasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah