Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Pembayaran QRIS di Kota Kediri Diminati Pelajar dan Mahasiswa

Emilia Susanti • Rabu, 12 Juni 2024 | 18:23 WIB
LAGI TREN: Dela, penjual minuman sedang memasang QRIS di outletnya. Keberadaan QRIS jangkau pasar lebih luas hingga ke outlet kecil karena mempermudah transaksi antara penjual dan pembeli.
LAGI TREN: Dela, penjual minuman sedang memasang QRIS di outletnya. Keberadaan QRIS jangkau pasar lebih luas hingga ke outlet kecil karena mempermudah transaksi antara penjual dan pembeli.

KEDIRI, JP Radar Kediri – QRIS menjadi alternatif pembayaran yang mulai digemari warga di Kota Kediri. Banyak pedagang yang memanfaatkan fasilitas layanan pembayaran tersebut. Jangkauannya mulai dari pedagang warung makan, kafe, hingga pedagang kaki lima (PKL).  

Seperti diungkapkan, Dela Aprilia, 19, penjaga outlet minuman di Jalan Penanggungan, Kelurahan Bandarlor, Kecamatan Mojoroto. Di tempatnya sudah tersedia layanan pembayaran dengan QRIS. Menurutnya, warga Kota Kediri mulai memanfaatkan fasilitas itu menggunakan gawainya. 

“Pengguna paling banyak pelajar dan mahasiswa. Ada yang pakai Dana, ada juga yang Shopeepay,” aku perempuan asal Kecamatan Banyakan tersebut.

Dalam sehari, sedikitnya ada sekitar 4 orang yang membayar menggunakan QRIS di outletnya. Kebetulan, tempatnya dekat dengan sekolah. Meski masih sedikit tetap saja ada yang bertransaksi menggunakan QRIS.

“Keuntungannya ya transaksi simpel dan tidak perlu menyiapkan kembalian,” terangnya.

Kemudahan yang dialami oleh Dela ini juga dirasakan Ibnu, 25, pemuda yang menjaga outlet minuman di Jalan Brawijaya Kota Kediri. Menurutnya, beberapa pembeli tidak membawa uang tunai. Sehingga, mereka memanfaatkan pembayaran melalui QRIS.

“Ada yang mau beli tapi nggak bawa duit karena ada QRIS jadinya tetap beli,” terangnya.

Menurutnya, nilai transaksi terbesar yang pernah diterima dari pembayaran QRIS adalah Rp 150 ribu. Namun demikian, kekurangannya adalah pembukuan. Ada sedikit terkendala karena pembayaran melalui QRIS tidak langsung secara real time masuk ke dalam rekening. Untuk mengakalinya, pemilik toko harus mengambil gambar dari bukti transaksi pembayaran melalui QRIS.

Terpisah, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri Subagyo memaparkan, ada keuntungan dari pembayaran  menggunakan sistem digital tersebut. Dengan membayar melalui QRIS, masyarakat tidak lagi harus terbebani membawa uang dalam jumlah besar.

“Dampak positif untuk konsumennya memberi kemudahan, kenyamanan, dan keamanan,” jelasnya.

Sementara, bagi pelaku usaha dapat meningkatkan efisiensi dalam operasional. Selain itu juga dapat mengurangi risiko pencurian. “Serta dapat memperluas jangkauan pasar dan mempercepat proses transaksi,” tambahnya. 

Kediri Menuju Cashless Society

Sementara itu, di era serba digital. Transaksi pembayaran pun kini beralih ke sistem digital. Yakni Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS). Menariknya, pembayaran QRIS ini sudah mulai lekat di masyarakat Kota Tahu. 

Mulai dari membeli barang, membayar parkir, hingga sedekah. Tak menutup kemungkinan, perilaku masyarakat dalam pembayaran ini benar-benar berubah. Bank Indonesia Kediri menyampaikan, ada kenaikan nilai transaksi di wilayah kerja Kediri. 

Per April 2024, nilai transaksi mengalami peningkatan sebesar 22,12 persen. Kemudian, untuk volume transaksinya juga naik sebesar 19,64 persen. Tak hanya itu, merchant QRIS pun naik. Per Mei 2024, meningkat sebesar 34,16 persen.

“Melihat data tersebut, saya kira ada potensi menuju cashless society,” terang Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri, Subagyo.

Namun demikian, potensi itu bisa terwujud dengan beberapa catatan. Menurut Subagyo, harus ada upaya berkelanjutan untuk menuju cashless society. Meliputi peningkatan literasi keuangan digital, perluasan akses dan infrastruktur pembayaran digital, serta menjamin keamanan dan privasi data.

Lebih jauh, Subagyo menuturkan ada beberapa faktor pendukung yang bisa mendorong terwujudnya cashless society. Antara lain pesatnya pertumbuhan ekonomi digital, seperti ecommerce. Lalu, kemudahan  dan dukungan dari pemerintah dan lembaga keuangan.

Hal yang tak kalah penting, pemerintah dan pihak berwenang juga perlu untuk melakukan pengawasan pemakaian QRIS di lapangan. Jangan sampai ada  pelaku usaha yang membebankan biaya QRIS kepada konsumennya. Oleh karenanya, edukasi pun perlu dilakukan.

“Sehingga efisiensi dan kemudahan yang ditawarkan QRIS dapat benar-benar dinikmati konsumen,” tandasnya.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram"Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. 


 

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#pembayaran #pkl #real time #qris #kota kediri