Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Profil Desa Manyaran, Banyakan, Kabupaten Kediri: Jadi Sentra Genting untuk Meningkatkan Taraf Hidup Perajin

Habibaham Anisa Muktiara • Jumat, 2 Februari 2024 | 18:13 WIB
Photo
Photo

Desa Manyaran sudah lama dikenal sebagai desa pembuat genting. Tantangan pun berdatangan seiring perkembangan zaman. Membuat pemdes turun tangan untuk  memberikan dukungan.

KEDIRI, JP Radar Kediri- Bicara soal pengrajin genting, mereka terkonsentrasi di Dusun Kradenan. Nyaris setiap rumah di dusun ini adalah pembuat atap rumah berbahan tanah liat itu. Jangan heran bila sepanjanag mata memandang, yang ada adaah hamparan genting mentah yang sedang dijemur. Keahlian warga dusun yang seperti itu mereka dapatkan secara turun-temurun.

“Sudah ada sejak sebelum saya lahir,” ucap Kepala Desa Manyaran Budi Harjo.

Karena hampir satu dusun tingkat produksi genting pun tinggi. Menjadi potensi besar untuk meningkatkan taraf hidup warga. Hal inilah yang memacu pemdes lebih memaksimalkan potensi tersebut dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi.

Salah satunya dengan membawa para pengrajin melakukan studi banding. Mempelajari teknik pembuatan genting di tempat lain. Terutama soal  teknik penjemuran. Yang masih kurang efektif dan efisien.

Selama ini, pengrajin di desa ini menjemur dengan cara diletakkan begitu saja di halaman. Cara ini punya kelemahan ketika musim hujan. Ketika turun hujan mereka kesulitan mengambili satu per satu.

“Berbeda jika menggunakan teknik dengan ditutup menggunakan terpal,” terang Kades Budi, yang berusia 60 ini.

Dengan teknik penutup terpal, saat hujan tidak lagi bingung memindah genting yang sedang dijemur. Mereka hanya tinggal menutupkan terpalnya saja. Teknik tersebut sebagian sudah diaplikasikan oleh pengrajin.

Hanya saja, lambat laun, jumlah pengrajin genting mengalami penurunan. Dari data yang dimiliki Pemdes Manyaran, dari semula  ada 140 pembuat genting, kini 120 pengusaha saja. Ketika ditelusuri, salah satu penyebab berkurangnya jumlah pengrajin adalah persoalan bahan baku.

“Jika dulu bahannya diambil dari lahan sendiri, sekarang harus beli dari daerah lain,” ujar Budi.

Salah satu pengrajin yang bertahan adalah Ginarsih. Perempuan 58 tahun ini sudah menekuni usaha ini sejak 1995. Tentu saja bersama dengan sang suami, Abdul Karim. “Usaha ini meneruskan dari mertua saya,” cerita Ginarsih.

Genting buatan Ginarsih dan Abdul ini kualitasnya tergolong bagus. Yang disebabkan proses pembuatanya yang tidak serampangan. Agar kokoh, pembuatan genting melewati proses pengeringan yang cukup. Jika musim kemarau selama dua hari. Sedangkan saat musim hujan bertambah menjadi empat hari.

“Untuk pembakaran ini memerlukan waktu dua hari dua malam,” terangnya.

Ginarsih mengakui, problem mereka saat ini adalah bahan baku. Mereka harus membeli tanah liat dari pengepul. Bahan baku genting itu sudah dalam bentuk balok seharga Rp 250 ribu per 10 ribu balok. Bahan baku sebanyak itu bisa menghasilkan 750 keping genting. 

 

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#produksi genteng #genteng #genting #Pembuatan