Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Lapak Pasar Sawo Sepi Ditinggal Pedagangnya

Anwar Bahar Basalamah • Senin, 27 Februari 2023 | 17:29 WIB
MASIH EKSIS: Pedagang menawarkan buah sawo yang dijual di salah satu lapak Pasar Sawo, Desa Bringin, Kecamatan Badas. (Foto: Emil Susanti)
MASIH EKSIS: Pedagang menawarkan buah sawo yang dijual di salah satu lapak Pasar Sawo, Desa Bringin, Kecamatan Badas. (Foto: Emil Susanti)
BADAS, JP Radar Kediri– Banyak kios pasar sawo di Desa Bringin, Kecamatan Badas kosong. Lapak itu ditinggalkan pemiliknya. Dari belasan hanya lima pedagang yang masih bertahan. Padahal jumlah sebelumnya pernah mencapai 50 orang.

“Dahulu tahun 1980-an ada 12 orang, terus nambah sampai 50,” ungkap Abdul Wahab, 73, salah satu pedagang sawo Bringin.

Pria yang berjualan sejak 1980 itu mengatakan, pasar sawo mengalami masa jaya pada 1985. Waktu itu penjualnya terus bertambah karena memberikan banyak keuntungan. Saat akhir pekan atau tanggal merah, penjualan bisa sampai satu kuintal per hari. “Dulu itu nggak sempat duduk soalnya pelanggan terus berdatangan,” ujar bapak empat anak ini.

Kondisi itu juga diakui Rindu’ah yang mulai jual sawo pada 1990. Kala itu, dia membuka dua kios. Namun, kini sepi. Selain sedikitnya pedagang, penjualan sawo menurun. Sekarang, 25 kilogram baru bisa terjual dua sampai tiga hari. Bahkan Rin pernah mengalami sawonya tidak terjual sama sekali.

“Pernah nggak laku sama sekali, tapi kadang Mbak. Hari biasa bisa dapat Rp 100 ribu sudah alhamdulillah,” ujar wanita asal Dusun Bunut tersebut.

Sepinya pasar sawo di desa ini bermula saat wafatnya Gus Dur. Banyak penjual yang berpindah lokasi jualan. Di sana, penjualan sawo tinggi lantaran banyak peziarah yang membeli. Abdul mengungkapkan, menantunya termasuk yang pindah ke lokasi dekat makam Gus Dur.

Camat Badas Prasetya Iswahyudi mengaku, selama ini belum ada pembahasan mengenai potensi pasar sawo di Desa Bringin. Dari pihak desa pun belum ada perbincangan terkait kondisi pasar yang sepi. “Setelah ini bisa kita bahas, mohon diingatkan,” kata pria yang memiliki tiga anak tersebut.

Pras menilai, pasar sawo sangat berpotensi dikembangkan. Menurutnya, ketersediaan pasokan perlu dipikirkan mengingat saat ini para penjual memasok sawo dari desa lain. Hal ini yang menyebabkan harga sawo di Bringin tergolong mahal. Sehingga menyebabkan pembeli mencari tempat lain yang menawarkan sawo dengan harga murah.

Kedua, memberikan keterangan harga yang pasti pada sawo yang dijual. Sehingga masyarakat tidak takut membeli lantaran penjual menawarkan harga yang berbeda-beda. Satu tumpuk sawo yang disusun dari 10 buah tersebut, ada yang menjual dengan harga Rp 12 ribu dan Rp 15 ribu.

“Kalau ada keterangan harga kan pembeli nggak takut lagi ditawarkan harga yang mahal. Soalnya sekarang sudah banyak yang nggak suka tawar-menawar,” tandasnya.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. Editor : Anwar Bahar Basalamah
#ekonomi #harga buah #pasar #harga pasar #perekonomian