Hal itu dialami Sulikah, 41, pedagang takoyaki. Dia mengaku, saat hujan penghasilannya turun hingga 50 persen. Hal tersebut dipengaruhi kondisi cuaca yang sering hujan. Akibatnya pembeli menurun. "Kalau cuaca cerah penghasilannya bisa Rp 300 ribu per hari. Kalau hujan seperti ini turun Rp 150 ribu bahkan sampai Rp 100 ribu," terangnya.
Warga Pare itu menambahkan, membuka lapak sejak pukul 08.30 hingga 15.00. Namun saat hujan, terpaksa harus menutup lebih awal. "Kalau hujan nggak sampai jam 15.00, biasanya pulang lebih awal," paparnya.
Hal senada diungkapkan Yuni, 42, pedagang es jeruk peras. Saat hujan hasil jualanya menurun hanya 50 cup. Padahal biasanya mampu menjual 70 hingga 80 cup. Ia mengaku, buka mulai pukul 08.00 hingga 15.00. Namun saat musim hujan tutup lebih awal, baru setelah hujan mereda kembali berjualan di Kampung Inggris. “Sekarang sering hujan, jadi 50 cup itu paling banyak,” ungkapnya.
Selain itu, Neisira Olla, 28, pedagang sempol, mengaku, musim hujan sangat mempengaruhi hasil jualannya. Selama 2 bulan ini yang didapat hanya Rp 50 ribu sehari. Padahal biasanya, jika cuaca normal, bisa mencapai Rp 100 ribu per hari. “Dapat Rp 50 ribu itu sudah banyak Mbak kalau hujan, biasanya malah kurang dari itu,” katanya.
Berdasarkan pantauan koran ini kemarin, PKL di Jalan PB Sudirman, Pare terpantau sepi saat kondisi cuaca mendung. Hanya terlihat beberapa pembeli. “Hujan memang sangat berpengaruh bagi pedagang,” pungkasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah