Simak saja data dari Dinas Koperasi Usaha Mikro dan Tenaga Kerja (Dinkop UMTK) Kota Kediri ini. Pada 2020 pelaku UMKM mencapai 5.070 usaha. Kemudian, pada 2021 mengalami kenaikan hingga menjadi 5.808 usaha. Fakta itu menjadi bukti bahwa sektor UMKM menjadi pilar yang menopang ekonomi. Paling handal menjaga stabilitas ekonomi.
Karena itu, pelaku UMKM harus diberi fasilitas. Diberi kemudahan, baik dalam bahan baku, produksi, maupun pemasaran. Termasuk pula peningkatan kualitas melalui model pembayaran.
“Perlu ada digitalisasi atau inklusi keuangan, termasuk keamanannya,” saran Profesor Candra Fajri Ananda.
Anggota Badan Supervisi Bank Indonesia (BI) tersebut juga menyebut birokrasi wajib meningkatkan tata kelola dan pelayanan perizinan. Salah satu yang perlu dilakukan maksimal adalah memberikan perlindungan pada produk lokal. Agar tidak ada peniruan produk yang nantinya bisa merugikan pelaku UMKM.
Bagaimana sikap pemkot terkait sektor usaha itu? Melalui Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) Tanto Wijohari, pemkot mengaku telah melakukan upaya memberi dorongan dan dukungan pada pelaku industri kecil dan menengah (IKM). Tujuannya agar bisa menjadi akselerator pemulihan ekonomi dari dampak pandemi.
Yang mereka lakukan tak sekadar menggerakkan sektor perdagangan. Melainkan juga memberi perlindungan hak konsumen. “Kami juga mendorong pemulihan ekonomi masyarakat terutama bagi pelaku usaha,” aku Tanto.
Para pelaku usaha diberi sosialisasi agar tidak hanya memasarkan produknya dalam negeri. Mereka didorong mengembangkan pasar luar negeri. “Kami berikan sosialisasi tentang aturan produk yang bisa lolos standardisasi ekspor,” terangnya.
Muaranya, tentu peningkatan omzet para pelaku usaha itu. Bila omzet meningkat, keuntungan pun bertambah. Lapangan kerja, secara otomatis, juga bakal terbuka lagi.
Beberapa upaya memudahkan pelaku UMKM juga masih digalakkan. Ketika harga minyak goreng naik tajam seperti beberapa waktu lalu, pemkot pun menggelar operasi pasar. Khusus untuk para pelaku UMKM.
“Kami juga fasilitasi para pelaku usaha ini dalam hal kepengurusan izin usaha agar mereka memiliki legalitas,” imbuhnya.
Upaya gigih itu berbuah. Data dari Dinkop UMTK, ada pertumbuhan UMKM di masa pandemi. Kenaikannya sebesar 14,5 persen. Satu hal yang menggembirakan ketika kelesuan ekonomi global menjadi isu utama seperti saat ini.
Kepala Dinkop dan UMTK Bambang Priyambodo menjelaskan beberapa upaya yang dilakukan dalam mendongkrak pertumbuhan UMKM. "Dengan menyediakan akses literasi keuangan dengan program Kurna (Kredit Usaha Melayani Warga Kota Kediri, Red), menyelenggarakan pelatihan kewirausahaan, menyelenggarakan klinik UMKM baik secara online maupun offline, pendampingan pengurusan legalitas usaha, perluasan pemasaran dan promosi produk," terangnya.
Bertumpu pada peningkatan tersebut Bambang optimistis pada peningkatan pertumbuhan ekonomi itu. Serta mematok target pertumbuhan Usaha Mikro pada 2022 ini mencapai 22,28 persen.
"Kita optimistis target tersebut akan tercapai melihat perkembangan usaha mikro yang sudah pulih kembali serta didukung berbagai program kegiatan yang menjadikan perkembangan iklim ekonomi di Kota Kediri lebih kondusif," akunya.
Lebih jauh Bambang mengungkapkan, beberapa usaha mikro yang mengalami peningkatan ada di sektor makanan minuman, kerajinan, dan yang bergerak dalam hal penyediaan kebutuhan dasar atau primer.
"Kami akan terus mendorong pembangunan dan pertumbuhan ekonomi di daerah, mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat serta para pelaku UMKM agar ke depan mampu lebih mandiri, lebih berinovasi, dan memiliki daya saing baik di tingkat lokal maupun nasional," tandas Bambang. Editor : Anwar Bahar Basalamah