Pantauan Jawa Pos Radar Kediri, antrean pembeli di antaranya terlihat di toko seragam Jl Stasiun. Demikian juga dengan beberapa toko alat tulis yang tersebar di sejumlah lokasi di Kota Kediri. Mengajak anaknya, sejumlah orang tua terlihat fokus memilih berbagai jenis buku dan alat tulis.
Di sisi lain, tidak sedikit yang langsung mencoba seragam di toko untuk memastikan tidak kebesaran atau kekecilan. “Toko mulai ramai sejak ada kepastian tahun ini kembali dilakukan pembelajaran tatap muka 100 persen,” kata Muasih Setiawati, pemilik toko seragam Monalisa di Jl Stasiun.
Selama libur akhir semester, menurut Muasih puncak keramaian tokonya terjadi selama dua minggu terakhir. Mayoritas pembeli mencari seragam pramuka dan kemeja putih. Adapun bawahan yang banyak diburu adalah celana atau rok merah, dan celana dan rok biru untuk SMP.
Dalam sehari Muasih mengaku bisa menjual sekitar 900 pasang seragam. “Terutama untuk ukuran siswa baru. Mulai kelas 1 SD, kelas VII SMP, dan kelas X SMA,” lanjutnya.
Muasih menyebut, pembelajaran tatap muka 100 persen tahun ini menjadi berkah bagi dirinya. Sebelumnya, dia bersama para pedagang seragam lainnya harus “berpuasa” selama dua tahun karena sepi pembeli. Pembelajaran online membuat orang tua tidak perlu lagi membeli seragam baru bagi anak-anak.
“Dua tahun usaha morat-marit, alhamdulillah sekarang kembali ada jalan,” terangnya sembari menyebut tidak sedikit pembeli yang langsung memborong tiga pasang seragam sekaligus. Dia senang karena setiap harinya ada ratusan pembeli yang bertransaksi di tokonya.
Harga yang dipatok menurut Muasih bervariasi. Tergantung ukurannya. Yakni, mulai Rp 125 ribu hingga Rp 130 ribu per pasang. “Stok tetap ada karena dua tahun kemarin tidak keluar sama sekali. Jumlahnya melimpah,” tutur Muasih tak kewalahan melayani pembeli.
Senada dengan pemilik toko seragam, General Manager Toko Sahabat Baru Shofwan Jauhari menyebut beberapa minggu terakhir terjadi peningkatan penjualan yang signifikan. “Paling banyak membeli alat tulis seperti buku, pensil, dan perlengkapan lainnya,” tutur pria yang mengelola toko di Jl Hayam Wuruk tersebut.
Setiap hari, sedikitnya ada sekitar 500 pembeli yang datang ke tokoknya. Akibatnya, kenaikan omzet pun mencapai 100 persen alias dua kali lipat. “Kalau hari biasa, yang banyak ke sini pembeli grosir. Sekarang pembeli eceran juga banyak,” paparnya.
Pemandangan serupa juga terjadi di Toko Alief Jl Letjend Suprapto. Omzet toko di Kelurahan Burengan ini naik hingga 300 persen. “Yang banyak dicari juga buku dan alat tulis,” kata Agus Bachtiar, pemilik toko Alief. Editor : Anwar Bahar Basalamah