Ada alasan khusus mengapa bunga mawar sebaiknya dipanen pada pagi hari. Salah satunya adalah untuk menjaga kesegaran dari bunga mawar. Karena jika terlalu siang, kelopak bunga mawar akan mudah rontok. “Pagi adalah waktu yang pas untuk memanen bunga mawar,” ujar Toben, 62, petani bunga mawar.
Karena banyaknya bunga mawar tersebut membuat Desa Ngliman dikenal sebagai sentra bunga mawar. Sehingga, tengkulak selalu datang ke desa tersebut untuk membeli bunga mawar ke petani dan pengepul. “Kami jualnya tidak ke mana-mana karena pembeli selalu datang setiap hari,” ujar Toben.
Yang menarik, petani bunga mawar ini bisa panen setiap hari. Karena bunga mawar tidak berbunga bersamaan. Ada yang sudah mekar dan ada yang masih kuncup. Sehingga, pendapatan petani bunga mawar.
Saat panen, Toben mengaku bisa mendapatkan 11 timba. Itu karena bunga mawarnya hanya di pekarangan rumah. Uang yang didapat sekitar Rp 33 ribu. Karena harga bunga mawar dari petani hanya Rp 3 ribu per timba.
Menurut bapak satu anak ini, bunga mawar merupakan salah satu tanaman yang mudah ditanam di Desa Ngliman. “Di sini tanahnya subur dan udaranya dingin. Bunga mawar sangat cocok tumbuh di sini,” ujarnya.
Untuk perawatan bunga mawar juga cukup mudah. Hanya perlu dipupuk beberapa minggu sekali. Selain itu, tanaman mawar hanya butuh mendapat perawatan pemotongan ranting. Hal tersebut dilakukan sekitar 2 bulan sebelum memasuki hari besar. Ini dilakukan agar saat hari besar seperti Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adha bisa panen. “Bunga mawar di Ngliman ini dijual ke Kediri, Jombang hingga Surabaya,” ujar Toben. Editor : Anwar Bahar Basalamah