Sementara itu, harga bawang merah turun sekitar 30 persen di Pasar Sukomoro. Itu terjadi sejak sepekan terakhir. Seminggu lalu masih di kisaran Rp 18 ribu per kilogram (kg), kemarin (15/1), turun jadi Rp 14 ribu. Salah satu yang memengaruhi karena pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM).
Jumirah, 38, pedagang bawang merah asli Sukomoro, mengungkapkan, harga dagangannya turun sejak satu minggu lalu. “Selasa lalu (12/1) padahal masih lumayan mahal,” ungkap perempuan yang ditemui di lapaknya kemarin.
Dia mengaku, mendapat pasokan bawang merah dari petani lokal. Harga minggu lalu masih mencapai Rp 18 ribu per kg. Namun saat ini hanya berkisar Rp 11 ribu hingga Rp 13 ribu per kg. “Anjloknya harga kalau tidak salah ya mulai Rabu (13/1) ini Mas,” keluhnya.
Di antara penyebab turunnya harga, menurut Jumirah, karena adanya PPKM. Mayoritas pembeli dari luar Jawa Timur berkurang drastis. Terutama dari Jakarta. Hanya sedikit yang membeli.
“Iya Mas katanya ada lockdown itu jadi yang beli berkurang,” imbuh perempuan dengan kerudung warna merah muda tersebut.
Apalagi kini, Jumirah mengatakan, bawang merah sedang berlimpah stok di Pasar Sukomoro. Pasokan tidak hanya dari petani lokal Nganjuk. Namun juga beberapa petani seantero Jawa Timur.
Hanya saja, rata-rata pasokan brambang tersebut memiliki kualitas yang lebih buruk. Itu bila dibanding hasil panen petani lokal Nganjuk. Akhirnya penjual di Pasar Sukomoro harus menjual murah agar bisa bersaing dengan bawang merah dari luar. “Harus bisa atur biar tidak kalah jual,” papar perempuan kelahiran 1982 ini.
Hal serupa dialami Katirah, 58, penjual brambang asal Sukomoro. Pedagang yang memiliki lapak di Pasar Sukomoro itu juga mengakui harga bawang merahnya turun. “Terlebih satu minggu ini Mas harganya turun,” ujarnya.
Di lapaknya, Katirah menjual seharga Rp 12 ribu per kg. Bahkan, ia mengaku, hanya mengambil untung seribu dari petani lokal. “Ini yang beli sudah terhitung sepi,” keluhnya.
Karena kondisi pasar sepi pembeli, berdampak stok yang mampu dijualnya. Dengan kondisi ini, dagangannya sering tidak habis terjual. “Jadi jualnya harus sampai sore,” katanya.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Nganjuk Judi Ernanto mengatakan, turunnya harga bawang merah disebabkan beberapa faktor. Pertama, kualitas bawang tidak sebaik saat musim kemarau. Kini, bawang merah cenderung berukuran kecil. Selain itu, banyak yang sedikit berair karena terkena penyakit lodoh. “Soalnya, saat ini tanahnya berair. Karena masuk musim penghujan,” imbuh pria berumur 50 tahun tersebut.
Selain itu, Judi meneruskan bahwa masyarakat sedang mengalami penurunan daya beli. “Pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat itu juga bisa jadi alasan,” tutupnya.
Editor : adi nugroho