LENGKONG, JP Radar Nganjuk–Wabah Covid-19 membuat para petani tembakau di Nganjuk terpuruk. Pasalnya, selain terhimpit sulitnya ekonomi, harga daun tembakau asal Kota Angin anjlok karena kualitas yang jelek.
Data yang dihimpun Jawa Pos Radar Nganjuk menyebutkan, harga daun tembakau asal Nganjuk di tingkat pengepul sebesar Rp 6 ribu per kilogram. Adapun harga jual di tingkat petani Rp 4 ribu per kilogram. “Harga murah ini sejak Agustus lalu,” ujar Didik Widianto, pengepul tembakau asal Sawahan, Lengkong.
Lebih jauh Didik menjelaskan, sebelumnya harga daun tembakau kering asal Nganjuk laku Rp 23 ribu per kilogram. Tetapi, sejak Agustus lalu terjun bebas hingga hanya Rp 6 ribu per kilogram. Harga tersebut tak kunjung terkerek naik meski akhir Desember ini jumlah panenan di wilayah utara Nganjuk itu sudah hampir habis.
Pria berusia 45 tahun itu mengungkapkan, panenan tembakau tahun ini juga turun drastis. Setiap panen raya, pria yang sudah menekuni bisnis tembakau selama 20 tahun terakhir itu mengaku bisa menyimpan ratusan ton. “Tahun ini hanya 100 ton,” lanjutnya.
Para petani menurut Didik juga tidak lagi punya simpanan tembakau kering. Penurunan produksi tembakau, menurut Didik diperparah dengan kualitas tembakau yang jelek di musim penghujan tahun ini.
Terpisah, Suyut Sumarsono, pengepul tembakau lain di Lengkong menambahkan, saat panen raya dirinya juga hanya bisa mendapat 150 ton tembakau. Seolah kompak dengan Didik, tahun ini dia hanya mendapatkan 100 ton tembakau. “Itu pun kualitasnya jelek,” tutur Suyut.
Berat tembakau di tiap ikatnya jauh lebih ringan dibanding sebelumnya. Satu ikat tembakau kualitas bagus biasanya seberat empat kilogram, tahun ini satu ikat tembakau hanya seberat dua kilogram.
Dari warna daunnya, menurut Suyut juga kurang bagus. Yakni, berwarna kehitaman dengan tekstur kaku. “Tahun ini tidak ada tembakau kualitas super,” bebernya sambil menunjuk tumpukan tembakau di gudangnya.
Kualitas panenan yang jelek membuat omzet pria berkaus putih itu turun drastis. Dalam setahun biasanya dia bisa mengumpulkan Rp 1 miliar. Sedangkan tahun ini hanya Rp 300 juta.
Sementara itu, penurunan omzet ini membuat Suyut dan Didik terpaksa mengurangi karyawannya. Suyut yang sebelumnya memiliki 25 karyawan kini tinggal mempekerjakan lima orang saja. Demikian pula Didik yang sebelumnya punya 140 karyawan, hanya mempekerjakan 40 orang. Puluhan karyawan diberhentikan untuk menyiasati agar biaya produksi tak semakin tinggi.
Untuk diketahui, di Lengkong total ada tujuh orang pengepul tembakau nonbinaan. Dari jumlah tersebut, hanya Suyut yang akhir Desember ini memiliki stok memadai. Sisanya banyak yang kosong atau hanya memiliki stok minim.
Terpisah, Kepala Dinas Pertanian (Dispertan) Nganjuk Judi Ernanto yang dikonfirmasi tentang penurunan produktivitas tembakau di Nganjuk mengatakan, dispertan berencana menggelar sekolah lapang budidaya tembakau. “Agar produktivitas tembakau di Nganjuk bisa naik,” ujarnya.
Sasaran sekolah lapang menurut Judi di empat kecamatan yang merupakan kantong tembakau. Mulai Kecamatan Lengkong, Ngluyu, Gondang, dan Jatikalen.
Dari empat kecamatan tersebut menurut Judi lahan paling luas ada di Kecamatan Lengkong. Yakni, seluas 873 hektare. Adapun Kecamatan Gondang 88,7 hektare, Jatikalen 78 hektare, dan Ngluyu 17,5 hektare. “Total produksi (dari empat kecamatan, Red) sebanyak 1.683 ton setahun,” tutur Judi.
Editor : adi nugroho