Paradoks akibat Gengsi dan Validasi
Fenomena sound horeg di tengah masyarakat desa tak semata-mata berkaitan dengan selera hiburan. Di balik suara musik yang menggelegar, ada fenomena sosial yang lebih kompleks. Mulai dari gengsi, validasi atau pengakuan, hingga tekanan sosial.
Kondisi tersebut menjadi paradoks ketika terjadi di tengah situasi ekonomi masyarakat yang tidak selalu baik. Sebagian masyarakat masih harus memenuhi kebutuhan pokok dan menghadapi tekanan ekonomi.
Namun, ketika ada gelaran sound horeg, tak sedikit yang tetap rela mengeluarkan uang untuk ikut patungan.
Dosen Sosiologi Universitas Brawijaya Lolita Puspa Siwi menilai, fenomena tersebut memperlihatkan adanya paradoks sosiologis. Yakni, ketika konsumsi simbolik dan tekanan sosial mengalahkan kebutuhan esensial.
Masyarakat tidak hanya membeli sebuah hiburan. Melainkan juga simbol status dan pengakuan di lingkungan sosialnya.
Baca Juga: Lipsus Melihat Dancer Sound Horeg, Antara Hobi, Tuntutan Ekonomi, dan Obat Pereda Nyeri (1)
“Ada perasaan gengsi terhadap lingkungan yang sudah terkontaminasi dengan fenomena tersebut. Ada jiwa kompetisi yang tidak mau kalah dengan orang lain atau daerah lain dalam mengadakan kegiatan,” jelasnya.
Situasi itu kemudian diperkuat dengan fenomena fear of missing out (FOMO). Masyarakat merasa perlu mengikuti tren yang sedang berkembang agar tidak dianggap tertinggal.
Menurutnya, tekanan semacam itu sebenarnya bukan fenomena baru. Sejak dahulu, masyarakat hidup dalam tekanan tatanan sosial. Itu membuat seseorang sangat mempertimbangkan penilaian dari lingkungan sekitarnya.
“Mereka takut untuk dibicarakan dan menjadi stigma. Di mana masyarakat sebenarnya hanya ingin hidup tenang bermasyarakat. Namun, untuk pergeseran nilainya belum separah sekarang,” ungkapnya.
Baca Juga: Lipsus Melihat Dancer Sound Horeg, Antara Hobi, Tuntutan Ekonomi, dan Obat Pereda Nyeri (2)
Dalam konteks sound horeg, tekanan sosial tersebut dapat terlihat dari budaya patungan. Kegiatan yang pada awalnya dimaknai sebagai bentuk kebersamaan dan gotong royong, perlahan berubah menjadi kewajiban sosial.
Sebab, tak semua warga yang diminta berkontribusi adalah penikmat sound horeg. Namun, mereka tetap merasa perlu menyumbang karena khawatir dianggap tidak kompak atau bahkan dikucilkan dari lingkungan.
“Adanya nilai yang tidak tertulis mengatakan bahwa ini merupakan acara dan hiburan bersama, sehingga seperti memaksa semua lapisan masyarakat harus ikut berkontribusi dalam acara ini,” sambung Lolita.
Kondisi itu bisa menjadi persoalan saat kemampuan ekonomi setiap warga berbeda. Tekanan untuk berpartisipasi bisa membuat sebagian orang mengeluarkan biaya yang sebenarnya tidak masuk prioritas kebutuhan mereka.
Baca Juga: Lipsus Melihat Dancer Sound Horeg, Antara Hobi, Tuntutan Ekonomi, dan Obat Pereda Nyeri (3)
Di sisi lain, maraknya sound horeg di kawasan rural atau pedesaan juga tidak dapat dilepaskan dari kebutuhan masyarakat akan hiburan. Termasuk minimnya hiburan yang dianggap proper atau layak turut membuka ruang bagi sound horeg untuk berkembang.
“Ada gengsi yang membuat sound horeg ini langgeng di masyarakat desa karena kurangnya hiburan. Beberapa orang menganggap dengan glamornya sound horeg ini merupakan aktualisasi diri,” tandasnya.
Penyelenggaraannya pun jadi pembuktian bahwa masyarakat desa juga bisa menikmati hiburan ‘modern’. Yang mana biayanya juga mahal sehingga dianggap tidak kalah dengan kehidupan modern di kota.
Pada titik tersebut, ukuran kesenangan tidak lagi semata-mata berada pada pengalaman menikmati musik. Besarnya biaya dan kemegahan acara juga dapat menjadi bagian dari kepuasan sosial.
Baca Juga: Ulama Melarang Sound Horeg, Ini yang Akan Dilakukan Pemerintah Kabupaten Kediri
“Mereka mencari kesenangan, pembuktian, dan validasi. Semakin mahal dan megah maka mereka akan merasa dianggap dan merasa terpandang,” ungkap Lolita.
Menurutnya, pada dasarnya semua lapisan masyarakat ingin divalidasi. Namun, pada konteks fenomena sound horeg, kebutuhan itu berkaitan dengan keinginan masyarakat desa untuk menunjukkan bahwa mereka juga dapat mengikuti perkembangan hiburan modern.
Persoalan muncul ketika hiburan yang awalnya jadi simbol gotong royong dan kebersamaan, justru tidak dapat dinikmati semua orang.
Apalagi, pementasan sound horeg umumnya berlangsung di ruang publik yang digunakan bersama.
Kebisingan, cahaya yang menyilaukan, hingga aktivitas lain yang menyertai acara dapat membuat sebagian warga merasa terganggu. Kondisi tersebut menunjukkan adanya pergeseran nilai sosial dan norma kesopanan di masyarakat.
Baca Juga: MUI-Muhammadiyah-NU Sepakat Tolak Sound Horeg!
“Kegiatan gotong royong yang dulu ini merupakan kegiatan yang dimaksudkan untuk saling membantu satu sama lain di masyarakat, menjadi sesuatu keharusan berpartisipasi secara finansial dan atau tenaga,” ujarnya, mencontohkan bentuk pergeseran nilai sosial yang terjadi.
Akhirnya, label ‘kebersamaan’ kemudian digunakan untuk menutup biaya kegiatan. Yang sebenarnya tidak selalu dinikmati seluruh warga.
Belum lagi nilai kesopanan yang juga dipertaruhkan. Kebisingan dan cahaya yang menyilaukan sudah melanggar nilai tersebut.
Jika fenomena tersebut terus berlangsung tanpa ada batas yang disepakati bersama, Lolita menilai terdapat sejumlah dampak yang perlu diwaspadai.
Mulai dari pergeseran prioritas ekonomi, ancaman kesehatan, potensi kriminalisasi, hingga perubahan nilai sosial dan norma di masyarakat.
Editor : Ayu Ismawati
Sumber : Radar Kediri