KEDIRI, JP Radar Kediri - Bagi sebagian besar masyarakat, desil dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) bak status keramat. Menjadi ‘senjata’ mereka untuk mendapatkan ‘fasilitas’ seperti bansos maupun akses ke barang subsidi. Ketika status mereka bergerak ‘naik’ yang datang justru kecemasan kehilangan kemudahan-kemudahan itu.
Siti mengernyitkan dahinya. Wanita warga Kelurahan Dandangan, Kecamatan Kota, Kota Kediri merasa aneh. Dia tidak lagi menerima bantuan sosial (bansos) yang biasa diterima tiga bulan sekali. Segera Siti mengakses situs Kementerian Sosial (Kemensos). Mencoba mencari tahu apakah status desilnya berubah, dan menjadi sebab hal itu.
Benar saja, ternyata Siti masuk desil tinggi. Menjadi keluarga yang tidak masuk dalam skema penerima bansos.
Baca Juga: Anggaran Bansos Kota Kediri Tembus Rp 19 Miliar, Meningkat Banding Tahun Sebelumnya
"Sempat kaget waktu tahu posisi desil kami naik dari empat jadi delapan. Padahal kalau dibilang kaya banget ya tidak," keluh Siti.
Kasus serupa dialami Soekarno. Warga Desa Grogol, Kecamatan Grogol, Kabupaten Kediri ini juga melonjak pesat di DTSEN. Dari desil empat menjadi delapan. Juga berdampak pada penerimaan bansos.
“Dulu dapat bansos PKH (program keluarga harapan, Red). Dua bulan ini belum dapat lagi,” aku pria 76 tahun ini.
Kehilangan bansos karena naik status desil juga dialami Wati, warga Kelurahan Semampir, Kecamatan Kota, Kota Kediri. Kasusnya juga sama, desilnya naik dari empat ke delapan.
Baca Juga: Cara Daftar Bansos PKH, BPNT, dan Beras Tahap 4 Mandiri via Aplikasi Cek Bansos Kemensos
Sedikit berbeda dengan yang terjadi pada desil Tn, perempuan satu kelurahan dengan Siti yang enggan namanya ditulis lengkap. Dia memang belum kehilangan bansos. Namun, desilnya naik dari tiga menjadi enam.
“Takutnya kalau ndak diurus nanti bantuannya jadi hilang,” ucapnya khawatir.
Lalu, mengapa posisi desil mereka naik? Apakah penghasilan keluarga memang meningkat?
Tn menggelengkan kepala. Menurutnya, suaminya hanya pekerja serabutan. Penghasilannya paling banyak Rp 80 ribu sehari. Sedangkan dua anaknya masih duduk di bangku sekolah.
“Pendapatan suami memang ada tapi pas-pasan. Kalau tak dapat bantuan ya susah,” akunya.
Baca Juga: Cara Cek Penerima Bansos PKH 2026 Pakai NIK di Situs Kemensos
Sedangkan Wati mencurigai perbaikan fisik rumah menjadi penyebab pergeseran data itu. Meskipun pendapatan suaminya tak melonjak.
“Kemarin sempat renovasi kecil pada lantai dan dinding rumah, dari tabungan. Mungkin dianggap asetnya sudah meningkat,” duganya.
Niko Julian juga menduga sedikit perubahan pada keluarganya menjadi penyebab perubahan desil, dari empat menjadi 6-10. Menurut pemuda 20 tahun ini kakaknya diterima kerja di perusahaan swasta dan baru saja beli motor.
“Terpaksa saya mengurus pemutakhiran data. Karena bisa mempengaruhi status saya sebagai penerima KIP (Kartu Indonesia Pintar, Red),” ujarnya.
Baca Juga: Cara Cek Penerima Bansos PKH 2026 Pakai NIK di Situs Kemensos
Pertanyaannya sekarang, mengapa terjadi seperti itu? Apakah kenaikan posisi desil memang berdasar data valid ataukah terjadi error?
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Kediri Emil Wahyudiono mengatakan, desil dalam DTSEN bukanlah ukuran mutlak menentukan status kemiskinan seseorang. Melainkan indikator relatif kesejahteraan keluarga dibandingkan dengan keluarga lain.
“Desil itu menunjukkan posisi relatif keluarga atau rumah tangga dibandingkan dengan keluarga atau rumah tangga lainnya, berdasarkan kondisi sosial ekonomi yang diukur,” jelas Emil.
Istilah desil, menurutnya, karena data dibagi dalam sepuluh kelompok sama besar. Dia mengilustrasikan, jika satu wilayah dihuni oleh semua keluarga pra-sejahtera, atau sebaliknya diisi keluarga mampu semua, tetap terbagi menjadi 10 desil. Maka pergeseran peringkat desil dari empat ke enam tidak otomatis menjadikan ekonomi keluarga tersebut mengalami peningkatan drastis.
“Bisa saja itu terjadi karena data yang lebih baru menunjukkan posisi relatif keluarga atau rumah tangga tersebut berubah dibandingkan rumah tangga lainnya,” terangnya.
Baca Juga: Cara Usul Jadi Penerima Bansos 2026, Sebanyak 4,5 Juta Keluarga Sudah Ajukan ke Kemensos
Emil menambahkan, pemeringkatan desil berdasarkan banyak variabel komprehensif. Mulai soal identitas keluarga, status kepemilikan tempat tinggal, kondisi tempat tinggal itu, luas, nilai sewa, hingga pengeluaran kebutuhan listrik dan kebutuhan sehari-hari.
Lalu, bagaimana bila ada masyarakat yang tidak puas dengan penetapan posisi desilnya? Emil menyebut mereka bisa menggunakan kanal perbaikan data yang tersedia, dengan pemutakhiran akurat sesuai fakta riil.
“Semangatnya bukan untuk mengubah desil. Melainkan bagaimana perubahan data itu ketika dilakukan pengecekan oleh masing-masing masyarakat memang sudah sesuai dengan kondisi yang ada,” tandasnya.
Baca Juga: Bansos Digital Meluncur Oktober 2026 untuk 50 Juta Rakyat Miskin, Saldo Awal Rp50 Ribu
Hal sama juga dikatakan Kepala BPS Kabupaten Kediri Bambang Indarto. Menurutnya, mereka dan pihak terkait telah memastikan setiap pembaruan data selalu melalui tata kelola yang ketat. Meliputi pengolahan, pencocokan, validasi, dan evaluasi statistik. Sebelum hasil pemutakhiran tersebut dimanfaatkan untuk berbagai program intervensi kebijakan Pemerintah. Termasuk untuk pengurusan yang terkait KIP.
“Khusus untuk pengurusan KIP, sudah ada aturan dan perintah dari kementerian untuk dipercepat. Pengurusannya sekitar dua pekan,” tegas Bambang.
Editor : Andhika Attar Anindita
Sumber : Radar Kediri