Bagi Pemerintah Kota Kediri, Hari Kunjung Perpustakaan jadi momentum menghidupkan paham. Bahwa perpustakaan tak lagi sekadar tempat menyimpan dan meminjam buku.
Juga harus mampu menjawab dan memenuhi kebutuhan pengetahuan warga kota.
Maka, mencari tahu apa kebutuhan masyarakat menjadi kuncinya. Perpustakaan di bawah kewenangan pemkot pun secara berkala menggali informasi itu. Menyebarkan kuesioner ke beberapa titik baca.
“Tema-tema apa yang warga kota inginkan, kami nanti akan cari bukunya. Misalkan buku tentang memasak, tentang olahraga, tentang pendidikan pranikah. Itu semua nanti setiap hampir satu bulan sekali kami mengedarkan kuesioner,” kata Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disarpus) Zachrie Ahmad.
Baca Juga: Membangun Literasi Masyarakat di Hari Kunjung Perpustakaan (1) Anak-Anak Suka, Buku Tak Selalu Ada
Menurut pria yang akrab disapa Ayik itu, pembaruan koleksi menjadi bagian penting. Sebagai upaya menjaga minat masyarakat berkunjung ke fasilitas literasi.
Sebab, masyarakat cenderung tertarik datang ketika keinginan mereka terpenuhi. Ketika perpustakaan mampu menyediakan bacaan yang relevan dengan kebutuhan mereka.
“Jadi kami berusaha memenuhi kebutuhan masyarakat,” ungkapnya.
Dia mencontohkan, Pojok Baca di Taman Sekartaji menjadi perpustakaan di bawah Pemkot Kediri dengan tingkat kunjungan paling tinggi. Selain berada di ruang terbuka hijau yang bisa diakses semua orang, koleksi bukunya terus diperbarui.
“Koleksi bukunya up date. Jadi apa yang mereka cari bisa ditemukan di sana,” jelasnya.
Dalam setahun, pembaruan koleksi buku dilakukan setidaknya dua kali. Mempertimbangkan hasil kuesioner yang dihimpun dari masyarakat.
Baca Juga: Kebut Rehab Perpustakaan Umum Daerah Kota Kediri, Proyek Ditargetkan Rampung Oktober
Artinya, penambahan koleksi tidak sekadar memperbanyak jumlah buku. Melainkan pada tema yang benar-benar dibutuhkan pembaca.
Konsep serupa juga diterapkan dalam layanan perpustakaan keliling. Buku yang dibawa petugas disesuaikan dengan karakteristik masyarakat maupun kegiatan di lokasi yang dikunjungi.
Ketika melayani titik yang mayoritas dihadiri anak-anak, misalnya, koleksi yang dibawa menyesuaikan. Yaitu buku dengan kebutuhan pembaca usia tersebut.
“Jangan ketika nanti di sana acaranya anak-anak muda yang kita bawa buku-buku yang untuk orang tua. Jadi kan mereka nggak akan melirik sama sekali. Begitu dia datang, aduh bukunya begini. Jadi kita berusaha memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap kebutuhan membaca, atau kebutuhan ilmunya yang akan dicari di perpustakaan,” papar Ayik.
Saat ini ada dua pojok baca di Kota Kediri. Di Taman Sekartaji dan Rusunawa. Di luar itu, juga ada beberapa armada layanan keliling.
Selain mendatangi sekolah, layanan perpustakaan keliling ini juga menyesuaikan permintaan masyarakat dan kebutuhan di lapangan.
Baca Juga: Kamar, Kafe, atau Perpustakaan, Mana yang Lebih Mendukung Fokus Belajar?
Selain memperbarui koleksi bacaan, Disarpus Kota Kediri juga mulai memperkuat sisi kearsipan sebagai sumber pengetahuan masyarakat.
Salah satu fokusnya adalah menggali dan menyelamatkan dokumen-dokumen lama. Khususnya yang berkaitan dengan sejarah lokal Kediri.
Melalui upaya restorasi yang dimasifkan itu, Ayik menyebut sejumlah dokumen kuno sudah mulai diselamatkan. Beberapa masih dalam kajian untuk direstorasi tahun ini. Sehingga bisa memperkaya sumber literasi di Kota Kediri.
Dengan begitu, arsip kuno tidak hanya disimpan saja. Melainkan informasi atau pengetahuan di dalamnya dapat disampaikan kepada masyarakat dalam bentuk yang lebih aman untuk diakses.
Termasuk dokumen yang berkaitan dengan penetapan cagar budaya maupun berbagai catatan penting mengenai sejarah Kota Kediri.
“Tugasnya itu memang tidak hanya menyimpan. Tapi ada tugas yang juga diamanatkan ke kami yaitu menyelamatkan. Menggali dan menyelamatkan,” tegasnya.
Langkah tersebut dinilai penting agar sejarah lokal Kediri tidak hanya diwariskan lewat penuturan secara lisan. Sebab, informasi yang hanya bersumber dari tuturan berpotensi mengalami distorsi dari waktu ke waktu.
Bahkan, kebenarannya pun bisa jadi diperdebatkan.
Karena itu, pihaknya berupaya menghimpun bukti-bukti tertulis dari masyarakat maupun pemilik koleksi sejarah yang memiliki keterkaitan dengan Kediri.
Ke depan, pemkot–lanjut Ayik–akan berkoordinasi dengan sejarawan, budayawan, hingga masyarakat yang menyimpan dokumen-dokumen bersejarah.
“Jadi akhirnya kita punya arsip tidak hanya tutur. Tidak hanya kata-kata omongan saja. Tapi ada buktinya,” tandas Ayik.
Baca Juga: Lipsus Hari Buku Nasional (2) : Koleksi Jadul Milik Ibu pun Ikutan Dipajang
Lewat cara itu, dia berharap perpustakaan daerah bisa menjadi salah satu rujukan bagi masyarakat maupun peneliti yang ingin mempelajari sejarah lokal Kediri.
Dokumen sejarah tidak sekadar disimpan, tetapi diselamatkan dan dimanfaatkan sebagai sumber literasi.
“Harapan saya, Dinas Kearsipan juga harus bisa menjadi rujukan bagi orang-orang yang mau melakukan penelitian di sini,” pungkasnya.
Editor : Ayu IsmawatiSumber : Radar Kediri