JP Radar Kediri - Jejak sejarah dan budaya kuno banyak terdapat di wilayah Kabupaten Kediri. Bertebaran di berbagai penjuru, hingga pelosok desa. Sayang, tidak seluruhnya yang bisa dikelola Pemkab Kediri.
Sepintas, batu itu mirip pot bunga tak terpakai. Bentuk bagian atasnya persegi. Masing-masing sisinya sepanjang setengah meter. Sedangkan dari dasar, kira-kira setebal 40-an sentimeter.
Keadaannya mengenaskan, kusam dan tak terurus. Tergeletak begitu saja di tepi jalan di Desa Kampungbaru, Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri. Persis di pinggir selokan. Tumpukan sampah di sekitarnya kian menegaskan batu itu seakan tak bernilai.
“Ya, dari dulu di situ, dibiarkan begitu saja,” terang Waginem, warga setempat.
Nenek yang sudah berusia 77 tahun itu melanjutkan, batu itu seperti peninggalan kerajaan kuno. Sayang, seperti kebanyakan warga, dia juga hanya tahu bahwa batu tersebut peninggalan masa lalu. Bahkan, ada yang mengatakan keberadaan batu terkait asal-usul desa.
“Karena itulah banyak yang menentang kalau akan dipindahkan ke tempat khusus,” jelas sosok yang enggan dicantumkan namanya ini.
Konon, menurut sumber itu, benda di depan Balai Dusun Mulyorejo itu adalah yoni. Objek batu cekung yang jadi simbol kewanitaan. Biasanya ada di candi-candi. Pihak pemerintah desa (pemdes) disebut pernah akan memindah benda itu ke balai desa. Sayang, setahun berselang belum ada tanda-tanda itu akan dilaksanakan.
Beda lagi dengan yang ada di Desa Kandangan, Kecamatan Kandangan.
Ada objek diduga cagar budaya (ODCB) berupa jobong sumur. Orang awam menyebutnya lumpang zaman dulu. Dulu, awalnya juga tidak terawat. Dibiarkan teronggok di halaman, bersama tumpukan sampah.
“Sekarang dimanfaatkan oleh pemdes, jadi bagian pancuran air,” Kepala Urusan Desa Kandangan Seni.
Dua benda bersejarah itu hanya sebagian kecil dari benda-benda serupa di wilayah Kabupaten Kediri. Ironisnya, kebanyakan dari benda ini tidak terawatt dengan baik. Hanya bersandar pada kepedulian warga dan pemdes semata.
Bukti bahwa benda-benda itu sangat penting adalah soal penanggalan. Ada angka tahun di permukaan benda. Lumpang sumur tua itu misalnya, bertuliskan 693. Diperkirakan itu adalah angka tahun yang dicantumkan di ODCB itu.
Meskipun sudah ada di balai desa, pemdes hanya melakukan perawatan sederhana. Yaitu saat kolam dibersihkan, lumpang kuno itu ikut ‘dimandikan’.
Ada pula yang di Desa Kayunan, Kecamatan Plosoklaten. Ada penemuan tugu tapal batas. Ditemukan pada 2024, tugu kuno itu masih tegak dengan tinggi 170 meter. Setelah itu, barang ini dipindah ke balai desa. Ke tempat parkiran motor untuk dijaga dan diamankan.
Baca Juga: Menikmati Panggung Wayang Potehi yang Kian Sunyi (1) Benteng Terakhir Itu Bernama Ritual Agama
Sebetulnya, menurut keterangan Kepala Dusun (Kasun) Kayunan Widodo, dinas pariwisata dan kebudayaan (disparbud) sempat ingin membawa. Namun, warga minta agar tugu tetap di desa.
“Mintanya ditaruh di balai desa. Supaya kami tetap memiliki peninggalan, atau pertanda,” aku Widodo.
Tugu itu memang kental nuansa kuno. Dikaitkan dengan prasasti dari masa Kerajaan Kediri era Raja Kertajaya. Ada tulisan yang menggunakan aksara Saka. Meskipun, perlu penelitian lebih mendalam untuk mengujinya.
Selain tugu, di sekitar lokasi juga ditemukan benda-benda lain. Di antaranya lumpang berdiameter sekitar 90 sentimeter, batu menyerupai meja, batu berpola serta bagian yang diduga berkaitan dengan struktur gapura. Semuanya dikumpulkan di balai desa.
Karena dirawat pemdesa, caranya pun masih minimalis. Sebatas dibersihkan dan dirawat rutin. Juga, belum ada tempat khusus.
“Dulu ada rencana dari dinas (disparbud, Red) akan membangun mini museum. Tapi hingga kini belum terealisasi,” kata Widodo.
Meski belum memiliki fasilitas khusus, keberadaan benda-benda tersebut mulai menarik perhatian. Sejarawan dan mahasiswa beberapa kali datang. Untuk melihat langsung sekaligus menggali informasi mengenai temuan tersebut.
Pemantauan dari disparbud tetap terjadi. Kemudian, pihak desa juga membentuk lembaga adat desa (LAD). Tugasnya adalah menjaga dan melestarikan sejarah serta peninggalan desa. Termasuk menjaga benda-benda yang ditemukan. Agar tidak rusak atau hilang.
Beda lagi dengan kisah cikar di Desa Kandat, Kecamatan Kandat ini. Namanya, Cikar Mbah Gleyor. Konon, kendaraan kuno itu terkait dengan asal-muasal desa.
Kisahnya, pada akhir Abad 18. Bupati Kediri saat itu, RM Kanjeng Adipati Joyohadiningrat, menaiki cikar tersebut ke daerah yang masih berupa hutan lebat. Hingga cikar dari kayu jati yang bentuknya mirip perahu itu kandeg alias tertahan.
Setelah itu, sang bupati ditangkap Belanda. Tuduhannya membunuh administrator Pabrik Gula Ngadirejo. Setelah bupati ditangkap, para pendereknya melanjutkan dengan membuka Kawasan hutan menjadi permukiman.
Baca Juga: Liputan Khusus! Ketika Kursi-Kursi Perangkat Desa di Kediri Banyak yang Kosong, Apa Penyebabnya? (1)
Nama peristiwa cikar kandeg itu yang kemudian menjadi asal-usul Desa Kandat. Sedangkan nama cikar Mbah Gleyor diambil karena jalannya yang gleyar-gleyor.
“Kandat itu dari nama kandeg, artinya berhenti,” terang Miftakhul Haris, ketua RW yang juga ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia Nahdlatul Ulama Kecamatan Kandat.
Sayang, Cikar Mbah Gleyor yang menjadi bagian sejarah itu kini tanpa perlindungan dan perawatan yang memadai. Hanya ditempatkan di pekarangan musala. Sebelumnya bahkan di tempat yang jauh dari permukiman, di area kebun yang kerap digunakan orang mencari pesugihan. Karena itulah Cikar Mbah Gleyor direlokasi.
Kondisinya pun memprihatinkan akibat usia dan paparan cuaca. Cikar berukuran sekitar 2 x 7 meter itu berada di dalam pagar besi berwarna hijau. Dahulu, cikar tersebut memiliki semacam tempat berteduh, tetapi kini bangunan pelindung itu sudah tidak ada.
Meskipun masih kuat tapi sejumlah bagian mengalami kerusakan. Salah satunya karena serangan rayap.
Baca Juga: Liputan Khusus : Apa Kabar Mina Padi, Inovasi Pertanian Double Income yang Pernah Sukses di Kediri?
“Strukturnya masih bagus, tetapi ada beberapa bagian yang dimakan rayap. Ada lubang-lubang kecil,” ujar Haris.
Selama ini biaya perawatannya swadaya warga. Tak ada anggaran khusus. Bangunan pelindung yang pernah dibuat di sekitar cikar disebut merupakan hasil pemugaran pada masa Bupati Kediri Imam Mahmudi.
Haris menyebut pihaknya pernah mengusulkan agar cikar diberi pelindung berupa kaca. Upaya tersebut diharapkan dapat mengurangi paparan debu dan cuaca sehingga kondisi cikar lebih terjaga. Sayang, keinginan itu belum terlaksana.
“Pernah kami memohon supaya dipasang kaca, agar lebih terlindungi dan debu tidak langsung masuk. Harapannya situs ini bisa lebih terawat,” katanya.
Editor : Mahfud
Sumber : Radar Kediri