‘Dulu, Sebelum Karakternya Keluar Penonton Sudah Berteriak’
Sebagaimana kesenian tradisional lainnya, Wayang Potehi juga menghadapi tantangan perubahan zaman yang berat. Anggota Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Kota Kediri sekaligus pegiat wayang potehi Titus Suwandi mengatakan, animo masyarakat menyaksikan potehi juga tak seperti dulu.
Dulu–karena terbatasnya opsi hiburan–masyarakat sering berbondong-bondong setiap ada pertunjukan potehi. Kini, meski masih kerap diselenggarakan, sudah sangat jarang orang yang menyaksikan.
“Dulu itu saking seringnya orang nonton, sebelum karakternya keluar sudah pada teriak semua. Oh habis ini, si ini keluar. Jadi di-spoiler duluan,” kelakarnya.
Kini, penontonnya hanya tinggal hitungan jari. Warga Kelurahan Ringinanom, Kecamatan Kota ini sudah sejak 2020 lalu mulai intens belajar potehi. Sejak kecil hidup di lingkungan yang dekat dengan kultur Tionghoa membuat dia sudah mengenal kesenian ini sejak kecil.
Sebagai praktisi kebudayaan, tantangan terbesar kesenian ini ada pada regenerasinya. Tak seperti barongsai yang mulai banyak diminati dan lebih banyak dikenal masyarakat. Potehi cenderung lebih tertinggal.
Baca Juga: Peringati Malam ke-15, Kelenteng Tjoe Hwie Kiong Siapkan Ratusan Porsi Lontong Cap Go Meh
“Ini kan warisan budaya bangsa, sudah seharusnya memang dikenalkan ke anak-anak. Paling tidak ada kurikulumnya biar bisa dipelajari di sekolah. Harapannya ya wayang potehi ini semakin bisa diterima banyak kalangan masyarakat,” harapnya.
Sementara itu, pengamat sejarah Achmad Zainal Fachris mengatakan, kesenian yang berakar dari tradisi Tionghoa ini sejak awal memang tidak semata-mata ditampilkan untuk menghibur masyarakat.
Pertunjukan tersebut merupakan bagian dari tradisi persembahan bagi para dewa. Karena itu, ada atau tidaknya penonton bukan menjadi ukuran utama dalam sebuah pertunjukan potehi.
"Memang itu pertunjukan untuk para dewa. Dilihat ataupun tidak, tidak ada masalah," terang Fachris.
Fungsi religius tersebut berkaitan dengan harapan orang atau keluarga yang menanggap agar memperoleh kemakmuran, rezeki, dan keberkahan. Di sisi lain, wayang potehi juga memiliki fungsi sosial.
Cerita yang dimainkan membawa ajaran tentang perilaku manusia, hubungan dengan leluhur, serta nilai tentang kebaikan dan keburukan.
Baca Juga: Rayakan Imlek di Kelenteng Tjoe Hwie Kiong, Wali Kota Vinanda Ajak Warga Kediri Jaga Toleransi
Dalam kisah-kisahnya, pertarungan antara kebaikan dan keburukan menjadi salah satu pesan yang terus dipertahankan. Unsur Yin dan Yang juga menjadi bagian dari konteks cerita.
Pada akhirnya, kebaikan selalu ditempatkan sebagai kekuatan yang memenangkan pertarungan.
Seiring berjalannya waktu, potehi juga tidak sepenuhnya terlepas dari lingkungan tempatnya berkembang. Karena merupakan produk budaya, ada pengaruh proses akulturasi dalam cerita yang dimainkan.
Meski bentuk wayangnya masih mempertahankan karakter asli dari Tiongkok, narasi pertunjukannya mulai diakulturasikan dengan cerita dan budaya lokal Nusantara.
"Justru itu memperkaya kebudayaan Tionghoa di luar China," tandas Fachris, menyebut akulturasi yang terjadi bukan ancaman terhadap identitas wayang potehi, melainkan justru memperkaya budaya tersebut.
Kemampuan beradaptasi itulah yang membuat wayang potehi masih memiliki ruang untuk bertahan. Namun, di balik eksistensinya, ada tantangan yang tak mudah.
Salah satunya adalah jarak atau gap antargenerasi di kalangan masyarakat Tionghoa. Gap itu membuat keterlibatan anak-anak muda Tionghoa sebagai pelaku kesenian potehi justru minim.
Karena ironisnya, para pemain potehi saat ini justru banyak didominasi masyarakat non-Tionghoa.
“Jadi anak-anak Tionghoa malah sedikit sekali atau bahkan tidak ada yang menjadi subjek dari kebudayaan wayang potehi itu,” ungkapnya.
Padahal, menurutnya, keberlangsungan sebuah tradisi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mempertahankan pertunjukannya. Regenerasi menjadi bagian penting agar pengetahuan, nilai, dan roh kebudayaan tersebut tidak terputus.
Baca Juga: Jelang Imlek 2026, Umat Kelenteng Tjoe Hwie Kiong Mulai Tradisi Cuci Patung Dewa
Fachris sendiri pernah meneliti wayang potehi pada sekitar 2009 lalu. Pada dekade 2000-an hingga 2010-an, upaya pelestarian mulai mendapat perhatian lebih luas dengan terbentuknya Paguyuban Pelestari Wayang Potehi.
“Pusatnya potehi se-Indonesia itu berada di kelenteng Gudo, Jombang. Jadi sering kumpul seluruh pelestari wayang potehi se-Indonesia di sana,” tandasnya.
Kini, wayang potehi berada di antara dua tuntutan. Yakni, menjaga akar tradisi sekaligus menemukan cara agar tetap relevan bagi masyarakat yang terus berubah.
Di tengah minimnya regenerasi, keberadaannya bukan hanya soal mempertahankan sebuah bentuk kesenian.
Baca Juga: Puncak Imlek, Kelenteng Tjoe Hwie Kiong di Kediri Siapkan 500 Porsi Menu Lontong Cap Go Meh
Melainkan, setiap pertunjukannya menjadi ruang merawat ingatan tentang leluhur. Termasuk nilai-nilai kehidupan serta perjalanan panjang kebudayaan Tionghoa yang telah eksis dan berbaur dengan kehidupan masyarakat Nusantara. (ayu isma/fud)
Editor : MahfudSumber : Radar Kediri