Banjir Menerjang, Traumanya Belum Hilang
Sistem pertanian yang memadukan dengan budidaya ikan di sawah ini sempat tenar di Kediri pada akhir era 1990-an. Mengantarkan Desa Canggu, salah satu desa di Kecamatan Badas, Kabupaten Kediri, jadi juara nasional. Tapi, mengapa model pertanian yang berpotensi menghasilkan pendapatan ganda ini mulai ditinggalkan?
Topografi Desa Canggu menjadikan wilayah ini kaya akan lahan sawah basah. Keberadaan sumber-sumber air memunculkan lahan pertanian yang akan terus terisi air sepanjang tahun.
Kondisi alam seperti itu membuat persawahan di Canggu sangat pas untuk model mina padi, perpaduan antara menanam padi dengan budidaya ikan air tawar sekaligus.
Faktanya, memang benar. Pada akhir dekade 1990-an, desa ini mengembangkan model pertanian itu. Bahkan diakui di level nasional dengan mendapat penghargaan tertinggi.
“Dulu Desa Canggu juga pernah juara nasional,” cerita Saptonoko, pria yang saat ini menjadi kepala desa (kades).
Baca Juga: Liputan Khusus Bumdes vs Kopdes, Bersanding atau Bertanding? (2)
Sayang, cerita itu kini tak meninggalkan jejaknya. Memang, sepanjang mata memandang terlihat petak-petak sawah yang tergenang air. Tidak berisi tanaman padi. Petak-petak itu adalah kolam-kolam ikan.
“Sudah tidak ada lagi mina padi,” sebut Noko, panggilan akrab sang kades.
Noko menurutkan, warga desanya dulu memang terkenal menjalankan pertanian sistem mina padi. Menanam padi sekaligus menebar benih ikan di petak sawah yang sama. Mulai dari tombro, tawes, hingga mujair.
Namun, perlahan-lahan, warga desa beralih ke budidaya ikan air tawar. Alasannya, apa lagi kalau bukan faktor cuan.
“Jauh lebih menguntungkan (budidaya ikan air tawar),” aku Noko.
Berdasarkan cerita sang kades, perputaran uang pembibitan ikan lebih cepat dibanding mina padi. Pembudidaya bisa mendapatkan hasil dalam waktu tiga minggu. Jika menerapkan mina padi, panen baru bisa dilakukan setelah dua atau tiga bulan.
"Saat musim penghujan, itu puncaknya pembibitan ikan. Sehingga masyarakat beralih ke pembibitan," tambahnya.
Baca Juga: Liputan Khusus Bumdes vs Kopdes, Bersanding atau Bertanding?
Nyatanya, masyarakat di Desa Canggu kini memang berhasil menerjuni dunia budidaya ikan. Bahkan bukan hanya untuk ikan konsumsi saja. Juga berkembang ke sektor ikan hias seperti koi, cupang, molly, dan lainnya.
Sejatinya, pemerintah daerah pernah menawarkan program minapadi ke Desa Canggu. Namun, mayoritas warga sudah terlalu nyaman dengan usaha budidaya ikan. Bisa dibilang, masyarakat Desa Canggu tak punya alasan lagi untuk menerapkan sistem minapadi.
"Ya, pernah dari dinas dikasih program itu (minapadi, Red). tetapi rata-rata warga nggak mau," tandasnya.
Beralih dari Desa Canggu, pertanian dengan sistem mina padi juga pernah dilakukan Desa Putih, Kecamatan Gampengrejo. Mulanya dijalankan secara mandiri oleh sang kades, yaitu Moch. Basori, pada 2018.
Menurut pengalaman Basori, menerapkan sistem minapadi sebenarnya lebih ekonomis dibanding budidaya ikan. Pasalnya, pengeluaran biaya pakan ikan bisa ditekan. Nah, di saat yang bersamaan, kondisi padinya juga bagus lantaran kotoran dari ikan bisa menjadi pupuk alami.
"Saya mina padi itu panen dua kali. Sebelum ke minapadi, saya budidaya ikan juga panen dua kali," ceritanya sembari menyebut bahwa budidaya ikan dilakukan saat musim penghujan.
Basori pernah meraup hasil hingga Rp 20 juta untuk lahan 150 ru. Rinciannya, Rp 15 juta dari panen ikan, lalu Rp 5 juta dari panen padi. Berbekal hasil itu dirinya berani mengajukan permintaan bantuan ke Pemerintah.
Lalu, pada 2021, Desa Putih juga menjadi salah satu daerah percontohan sistem mina padi. Mereka mendapatkan bantuan dari Pemerintah. Baik dari Dinas Perikanan Kabupaten Kediri maupun dari Direktorat Jenderal Perikanan Budi Daya. Bantuan itu meliputi ikan dan beberapa perlengkapan budidaya lain.
"Bantuannya melalui pokdakan (kelompok pembudidaya ikan, Red). Bantuannya ada ikan, waring (jarring, Red), itu ada untuk pemanfaatan 10 hektare," bebernya.
Nahasnya, sistem mina padi hanya bertahan hingga 2022 saja. Pasalnya, bencana banjir melanda Desa Putih. Membuat para petani gagal panen. Baik untuk tanaman padi maupun ikan. Kerugian pun tak terhindarkan. Membuat pokdakan seakan trauma untuk memulai lagi.
"Jadi waktunya panen ketiga itu banjir, ikannya ya hilang karena airnya melebihi tanggul, jadi rugi besar. Setelah itu sudah nggak ada mina padi," jelasnya.
Secara pribadi Basori ingin memulai kembali penerapan sistem mina padi di desanya. Hanya saja, ada beberapa hal yang menjadi kendala. (*)
Pertama, kegagalan yang terjadi 2022 silam itu membuat Desa Putih sulit mendapat bantuan lagi dari Pemerintah. Padahal, bantuan modal menjadi aspek penting untuk memulai lagi. Selanjutnya, tantangan juga datang dari pokdakan yang masih trauma.
"Semangatnya masih ada, sekarang terbentur masalah modal. Terus kelompoknya itu sulit diajak tenanan (serius menggarap minapadi, Red), masih trauma itu lo. Kalau saya sendiri masih berminat sekali, sekarang malah sudah saya tembok, ini saya lakukan juga karena permintaan dari pokdakan," dalihnya. (emilia susanti/fud)