Puluhan gerai Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di Kediri mulai beroperasi. Sebagian bersuluk, omzetnya bisa tembus jutaan rupiah per hari. Benarkah?
Tak sulit menemukan gerai Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Semua bangunannya seragam. Dindingnya dicat warna merah dan putih. Panjang bangunannya pun sama, sekitar 10 meter. Lengkap dengan bagian garasi di salah satu sisinya.
Salah satu yang sudah beroperasi adalah gerai KDMP Desa Turus di Kecamatan Gurah. Tempatnya di Jalan Ahmad Yani. Tepat di tepi jalan raya. Bila dari Simpang Lima Gumul (SLG) jaraknya empat kilometer.
Begitu melangkah masuk, nuansa mirip minimarket langsung terasa. Ada rak-rak, atau juga disebut gondola, panjang tempat mendisplay barang. Barangnya juga beberapa jenis. Minyak, mi, snack, beras, air mineral dalam kemasan, serta beberapa lain.
Tapi, tak banyak jumlah yang dipajang. Paling, dalam satu bagian rak hanya satu baris. Banyak bagian yang belum ada barangnya. Toh, si penjaga gerai berkilah bahwa antusiasme warga sangat bagus.
"Antusiasnya baik, disambut baik masyarakat. Kalau di sini, paling banyak dicari beras, beras SPHP itu. Terus yang rutin dibeli itu kayak minyak dan mi," ucap Zahwa, sang penjaga gerai.
Untuk memperkuat pernyataannya itu, Zahwa menyebut gerainya pernah mencatat omzet hingga Rp 1,8 juta sehari. Tapi, itu tidak terjadi setiap hari.
"Pernah satu juta delapan ratus, baru beberapa hari yang lalu, (belanjanya) beras, minyak," terang Zahwa saat ditemui Jumat (3/11).
Zahwa boleh saja mengatakan KDMP-nya disambut antusias. Namun, bila berdasarkan pengamatan Jawa Pos Radar Kediri, situasi gerai itu belum bisa dikatakan ramai. Seperempat jam lebih berada di situ hanya terjadi satu transaksi. Itupun nilanya tak seberapa. Beberapa bungkus mi dan minuman kemasan.
Sepertinya, sulit untuk menembus omzet harian hingga jutaan rupiah. Apalagi jam operasionalnya sangat singkat untuk usaha sejenis minimarket. Hanya buka mulai pukul 08.00 dan tutup 17.00. Padahal, minimarket lain bisa hingga pukul 22.00. Bahkan ada yang beroperasi 24 jam.
Keterangan yang lebih realistis dikatakan karyawan gerai KDMP di Kecamatan Gurah. Dia mengaku omzet harian tak menembus Rp 500 ribu. Bila mencapai Rp 1 juta bila ada yang memborong minyak atau beras.
"Paling ramai itu kalau ada yang borong minyak dan beras. Itu bisa tujuh ratus ke satu juta. Kalau sehari-hari gini ya biasa, nggak bisa banyak. Karena barangnya kan juga masih sedikit," dalih pegawai yang tak mau disebutkan namanya itu.
Hampir sama dengan gerai KDMP lain, rak-rak di tempat ini juga masih banyak yang kosong. Konon, kabarnya, karyawan KDMP maupun pihak desa tidak bisa menentukan jenis barang yang dijual. Termasuk tak berwenang menentukan harga. Semuanya diatur oleh PT Agrinas Pangan Persero.
"Produknya dari Agrinas. Semua stok dari Agrinas. Kami nggak bisa beli sendiri kan," kilah Kepala Desa Bogem Moh. Samsodin.
Selain stok dan harga, ada tidaknya promo juga ditentukan oleh perusahaan berpelat merah itu. Bila memang ada promo, PT Agrinas akan menginformasikan ke setiap KDMP. Biasanya, karyawan toko akan mengumumkan promo tersebut melalui media sosial.
"Selama dua tahun dalam pendampingan Agrinas. Pengelolaan operasionalnya dari Agrinas," jelas Samsodin.
Lebih dari itu, omzet dari KDMP juga akan dilaporkan langsung ke PT Agrinas Pangan Persero. Pun penggajian karyawan juga dilakukan oleh PT Agrinas.
Lantas, bagaimana peran desa? Apakah nantinya desa juga akan turut menikmati keuntungan dari KDMP?
"Belum tahu, omzetnya masih disetor ke Agrinas. Karena memang pengelolaannya dari Agrinas. Artinya gini, pegawai itu kan yang menggaji kan dari Agrinas. Terus yang mendampingi juga dari Agrinas. Jadi yang ada di desa hanya mengawasi," aku sang kades.
Berbicara mengenai omzet, dia mengatakan penjualan di KDMP Bogem sedang menurun. Hanya saja, dia tak mengungkapkan berapa besar penurunannya ataupun besaran omzet yang didapat saat omzet turun. Menurutnya, penurunan omzet itu berkaitan dengan kebutuhan ekonomi masyarakat di bulan Sura yang tidak besar.
"Ketika habis Sura, itu Sapar. Biasanya orang nikahan banyak, itu berpengaruh," terang Samsodin.
Situasi di KDMP Bogem juga sama sepinya saat didatangi wartawan koran ini sekitar pukul 11.00. Hanya ada dua kali transaksi selama kurang lebih setengah jam. Sama seperti halnya di KDMP Turus, beberapa rak masih kosong. Fakta menarik lainnya, penataan barangnya juga terbilang 'spesial'. Yang mana, satu merek produk minyak goreng bisa memenuhi rak bertingkat empat sekaligus. (emilia susanti/fud)
Editor : Mahfud