Perkembangan digitalisasi yang semakin masif membuat industri media menghadapi perubahan besar. Media cetak yang selama puluhan tahun menjadi rujukan utama masyarakat kini harus bersaing dengan derasnya informasi yang mengalir melalui internet dan media sosial.
Dengan berbagai tantangan di tengah kondisi itu, transformasi dinilai menjadi satu-satunya jalan agar media cetak tetap bertahan.
Pakar komunikasi media Abdul Wahid mengatakan, media cetak tidak bisa lagi mengandalkan cara lama dalam menyampaikan informasi. Gejala yang mengarah pada kematian media cetak itu juga sudah diprediksi banyak orang.
Misalnya, Rupert Murdoch, taipan media tersohor di dunia, pernah menyebut pada 2024 lalu, media cetak akan mati sepenuhnya dalam 15 tahun yang akan datang. Dan, berkaca dari beberapa media cetak besar di Indonesia yang juga tutup, seolah membenarkan prediksi itu.
“Kalau misalkan melihat tren ini, itu menunjukkan bahwa ini gejala. Kalau memang tidak berupaya untuk beradaptasi, atau bahkan secara mendasar bertransformasi, menyesuaikan atau memanfaatkan platform media baru, ya nggak akan bisa (bertahan). Jadi mau nggak mau harus bernegosiasi,” kata dosen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya itu.
Menurutnya, koran pada dasarnya hanyalah salah satu saluran penyampaian informasi. Yang terpenting adalah bagaimana informasi yang berkualitas tetap dapat diterima publik melalui platform yang sesuai dengan perkembangan zaman.
Pria yang akrab disapa Wahid itu menilai, tantangan terbesar media cetak saat ini bukan semata-mata berkurangnya minat membaca masyarakat. Sebaliknya, budaya membaca masih ada.
Bahkan tingkat literasi masyarakat terus meningkat. Yang berubah adalah cara masyarakat mengakses informasi.
“Masyarakat bukan lagi menjadikan media cetak sebagai sumber bacaan satu-satunya. Jadi ada media diet di situ. Orang berupaya mencari informasi dari berbagai macam sumber untuk mempertajam pengetahuan atau cara pandangnya terhadap dunia,” sambungnya.
Dulu masyarakat cenderung mengandalkan satu media sebagai sumber informasi. Kini, mereka memperoleh informasi dari berbagai platform sekaligus, mulai media daring, media sosial, hingga konten yang diproduksi pengguna internet.
Perubahan pola konsumsi informasi itulah yang berdampak langsung terhadap penurunan oplah media cetak. Artinya, kiamat bagi perusahaan media cetak.
“Kalau misalkan audiens sudah hilang, maka pengiklan otomatis akan hilang. Sedangkan di saat bersamaan, cost yang dikeluarkan oleh media cetak untuk memproduksi koran atau lainnya itu sangat tinggi. Sedangkan revenue-nya itu kecil,” terang Wahid.
Baca Juga: OJK Ajak Media Kawal Pengembangan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Begini Strateginya
Akademisi dengan bidang keilmuan media and cultural studies itu mengutip data Serikat Perusahaan Pers (SPS) yang menunjukkan penurunan drastis oplah surat kabar nasional pada 2024 lalu.
Oplah saat itu hanya 4,5 juta eksemplar. Sedangkan pada 2014 lalu masih mencapai sekitar 24 juta eksemplar.
Perubahan tersebut juga berimbas pada pendapatan industri media. Ketika pembaca beralih ke platform digital, belanja iklan pun ikut bergeser.
Saat ini, lebih dari separuh belanja iklan nasional mengalir ke platform digital dan media sosial. Sementara itu, media konvensional–baik cetak, televisi, dan radio– harus berbagi porsi yang semakin kecil. Padahal biaya produksi media cetak relatif tinggi.
“Jadi kalau kita lihat tren bagaimana penetrasi teknologi, terutama media sosial, itu digunakan sudah 81 persen di tahun 2026 ini. Dan tren itu terus meningkat. Sebaliknya, penetrasi media cetak justru menurun, ditunjukkan dari oplah itu tadi. Ini satu gejala,” tandasnya.
Menurutnya, kondisi tersebut jadi tantangan besar bagi seluruh industri media konvensional, tidak hanya surat kabar. Televisi dan radio juga menghadapi persoalan serupa apabila tidak mampu mengikuti perubahan perilaku audiens.
"Logika industri selalu sama. Sepanjang dia tidak beradaptasi, media apa pun tidak akan survive," katanya.
Meski demikian, dia menilai media cetak masih memiliki modal besar untuk tetap eksis. Bagi perusahaan media cetak, menurutnya penggunaan media sosial yang sudah sangat masif sekarang ini bisa dianggap sebagai ancaman karena mematikan. Tetapi bisa juga sekaligus jadi peluang.
“Karena di situ ada pasar yang sangat besar sekali dan masih terbuka. Jadi harus ditangkap,” pesannya.
Sudah banyak contoh media cetak yang menangkap peluang itu. Seperti Jawa Pos dan anak perusahaannya, Radar, yang menurutnya sudah mulai ada kesadaran untuk mulai memproduksi konten sendiri. Dengan revenue stream yang diaktifkan melalui media online. Itu menurutnya salah satu bentuk adaptasi.
Dan dengan jejak sejarah di industri media massa, menurutnya media cetak punya modal kuat dalam bersaing di segmen digital. Salah satunya adalah kredibilitas yang dibangun melalui tradisi jurnalistik selama bertahun-tahun.
Proses verifikasi yang ketat, keberimbangan informasi, dan akurasi berita menjadi keunggulan yang belum tentu dimiliki semua media digital.
"Memang menjadi ambivalen atau kontradiktif ketika media cetak itu mengikuti logic media online, terutama medsos, tanpa ada verifikasi, itu persoalan lain. Itu dampak yang diakibatkan karena kemalasan beberapa wartawan di beberapa media. Tapi yang perlu di-highlight di sini adalah ketika kita sama-sama menjunjung tinggi aspek kepublikan," tegasnya.
Atau, hak dasar atas informasi oleh publik yang masih dijunjung media cetak. Itu termasuk bentuk pertanggungjawaban utama yang dilakukan media cetak.
Baca Juga: DPRD Kabupaten Kediri Dorong Media dan Jurnalis Jaga Kredibilitas
Dan jurnalis media cetak menurutnya sudah terbiasa dengan pola verifikasi yang sangat tinggi seperti itu, sehingga dapat menjadi modal yang sangat baik.
“Belum tentu media online yang lahir belakangan, yang hanya mengandalkan clickbait, belum tentu memiliki itu. Jadi manfaatkan,” tandasnya.
Selain itu, media cetak juga memiliki kekayaan arsip pemberitaan yang dapat dikembangkan menjadi produk digital bernilai ekonomi. Digitalisasi arsip, layanan e-paper, sistem berlangganan, hingga monetisasi data menjadi beberapa peluang yang dapat dikembangkan untuk memperluas sumber pendapatan.
Baca Juga: Langsung Menulis Berita dan Memotret Safari Jurnalistik Ramadan di MAN 2 Nganjuk Semarak
Menurut Wahid, transformasi digital bukan berarti meninggalkan prinsip-prinsip jurnalistik yang selama ini menjadi kekuatan media massa. Sebaliknya, media perlu memadukan kredibilitas dengan cara penyajian yang lebih sesuai dengan karakter audiens digital.
"Media boleh mengikuti logic platform digital, misalnya membuat judul yang menarik atau memanfaatkan algoritma media sosial. Tetapi tanpa mengorbankan aspek kredibilitas, tanpa mengorbankan informasi di situ. Sesuatu yang menyadarkan publik di situ harus ada, cuma kemasannya saja yang disesuaikan," pungkasnya.(ayu isma/fud)
Editor : Ayu IsmawatiSumber : Radar Kediri