Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Lipsus HUT JP Radar Kediri ke-27 (1) Literasi, Gen-Z, dan Budaya Scroll: Baca pun Butuh di Tempat Nyaman dan Instagramable

Ayu Ismawati • Minggu, 12 Juli 2026 | 05:30 WIB
Anak muda dan literasi. (Ilustrator: Afrizal)
Anak muda dan literasi. (Ilustrator: Afrizal)

 

Generasi Z, juga Alpha dan Betha, lahir ketika teknologi digital ‘merajalela’. Mereka mulai ‘tak kenal’ ruang pustaka yang hening dan tenang. Beralih ke ruang-ruang yang lebih comfort dan Instagramable. Dalam situasi dan kondisi seperti itulah Jawa Pos Radar Kediri-yang hari ini tepat berulang tahun yang ke-27- berjuang untuk going concern, tentu dengan segala adaptasinya. 

 

Selama liburan sekolah, Melisa Putri lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah. Kegiatan sehari-hari pelajar SMP itu tak lepas dari scroll media sosial. Atau bermain game di ponselnya.

Rutinitas itu terus berulang hampir setiap hari. Menyita waktunya yang relatif sangat longgar di momen pergantian semester tersebut.

“Sebenarnya setiap hari tetap membaca. Biasanya baca cerita-cerita fiksi singkat di TikTok,” dalihnya polos.

Cerita fiksi singkat di media sosial, baik TikTok dan Instagram, trend di kalangan remaja putri. Hanya butuh kurang dari dua menit untuk menyelesaikan satu cerita di satu unggahan.

Baca Juga: Cara Unik Syndicate Barber Ajak Anak-Anak di Kediri Kembali Akrab dengan Literasi: Cukurnya Gratis, yang Penting Baca Buku

Pertanyaannya adalah, apakah aktivitas membaca seperti itu sepadan dengan kebutuhan membaca yang layak untuk memperkuat literasi masyarakat? Khususnya bagi anak muda?

“Pernah baca buku waktu HP-nya disita di sekolah tiga hari karena ketahuan main HP di kelas. Karena bosen nggak ada kegiatan lain,” aku remaja 15 tahun itu.

Selebihnya, inisiatifnya membaca buku masih terbilang rendah. Bagi Melisa, membaca buku sesuatu yang membosankan dan bikin ngantuk. Karena itu pula dia tak begitu suka membaca bacaan ‘serius’. Termasuk membaca berita di media massa.

“Kalau buka website berita itu sepertinya nggak pernah. Paling baca berita kalau cuma lewat di beranda medsos. Jadi tahunya selalu dari medsos,” ungkapnya.

Namun demikian, generasi Z ini mengaku tak asing dengan bentuk-bentuk media massa. Salah satunya media cetak koran. Meski sangat jarang mengakses koran untuk kebutuhan mencari informasi.

Baca Juga: Perlu Perluas Literasi Hukum ke Masyarakat, Pengadilan Negeri Kabupaten Kediri menggelar Forum Konsultasi Publik

“Setahu aku koran itu media berita cetak yang punya banyak berita di dalamnya. Misalnya kayak berita korupsi atau berita bencana. Tapi kalau baca koran cuma pernah waktu ada tugas bahasa Indonesia mencari berita di koran,” ujarnya.

Mario, pelajar SMA di Kota Kediri, juga tak jauh beda. Generasi Z ini termasuk masih gemar membaca. Bahkan, dia menyebut dirinya sebagai ‘penghuni perpustakaan’ di sekolah. Akses bacaan pun terbilang lengkap di sekolahnya.

“Hampir setiap hari kalau di sekolah selalu ke perpustakaan. Biasanya baca-baca buku karena adem juga tempatnya,” kelakarnya.

Di tempat itu pula dia masih sering menemui koran. Hanya saja, dia tak sesering itu membaca koran. Baginya, membaca berita juga bukan hal yang terlalu menyenangkan.

“Mungkin cuma tertarik baca koran hanya kalau menemukan berita yang disukai saja. Misalnya kalau ada berita soal yang lagi happening,” katanya.

Baca Juga: Kepala OJK Kediri Ismirani Saputri Berbagi Kisah Inspirasi di SDN Burengan 2: Beri Motivasi Siswa Kenali Literasi Keuangan Sejak Dini

Rendahnya minat baca itu juga sejalan dengan angka tingkat gemar membaca (TGM) warga Kota Kediri yang juga sangat rendah. Fakta yang jadi pekerjaan rumah (PR)  yang harus mulai diselesaikan di Kota Tahu.

Faktanya, TGM Kota Kediri nyaris di dasar ‘klasemen’. Memiliki angka 55,97 Kota Tahu ada di peringkat 34 dan 38 daerah se-Jawa Timur!

“Itu tantangan besar bagi kami. Makanya di tahun 2026 ini kami berupaya dengan beberapa program baru yang pada intinya mendekatkan buku ke masyarakat. Artinya layanan tidak lagi terpusat di perpustakaan,” kata Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Disarpus) Kota Kediri Chevy Ning Suyudi.

Baca Juga: Tingkat Kegemaran Membaca Kota Kediri 2025 Hanya 55,97 Persen, Pemkot Bikin Banyak Perpustakaan di Kafe untuk Ikuti Hobi Anak Muda

Melalui terobosan itu, dia berharap budaya membaca semakin tertanam di masyarakat. Khususnya anak-anak muda, yang kini tantangannya juga semakin bertambah.

Pesatnya perkembangan zaman menuntut masyarakat–khususnya pengguna aktif media sosial– untuk meningkatkan literasi digital mereka. 

“Sekarang trennya juga sudah bergeser. Anak-anak muda sekarang butuh tempat yang nyaman, instagramable. Selain itu juga butuh ruang untuk diskusi atau berdialog. Tidak lagi sendiri di perpustakaan. Jadi kami ikut menyesuaikan,” jelas Chevy.

Karena itu, buku kini tak lagi hanya bisa ditemui di ruang-ruang tertutup seperti perpustakaan atau gedung pendidikan.

Baca Juga: Tahun Ini Disarpus Kota Kediri Akan Perluas Target Restorasi Arsip Kuno, Ini Sasarannya

Melainkan mulai dihadirkan di taman kota, car free day (CFD), hingga kafe. Inovasi itu juga bentuk penyesuaian pemerintah terhadap gaya hidup masyarakat zaman sekarang. (ayu isma/fud)

 

Editor : Andhika Attar Anindita
#literasi #hut #media sosial #DISARPUS #generasi z