Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Liputan Khusus : Soal Cabor-Cabor Tak Aktif, Beda Masalah, Beda Pula Treatmentnya

Emilia Susanti • Senin, 6 Juli 2026 | 08:01 WIB
Ilustrasi cabang olahraga sepak takraw. (Ilustrasi: Afrizal/JPRK)
Ilustrasi cabang olahraga sepak takraw. (Ilustrasi: Afrizal/JPRK)

JP Radar Kediri - Ketua KONI Kota Kediri Eko Agus Koko menyebut, persoalan di cabor yang vakum memang kompleks. Masing-masing punya masalah berbeda. Karena itu,  penanganannya juga harus berbeda.

Berdasarkan data mereka, ada sembilan cabor terbelit masalah kepengurusan. Yaitu sepatu roda, anggar, drum band, menembak, dayung, dan berkuda. Juga organisasi olahraga wanita, olahraga mahasiswa, serta olahraga pelajar.

"Sebelumnya ada voli, tetapi kemarin sudah muskot kan," kata Koko-sapaan akrabnya-yang mengaku gembira dengan aktifnya kembali PBVSI Kota Kediri.

Karena persoalan di setiap cabor berbeda-beda, treatment yang diberikan juga berbeda. Misal, Persatuan Menembak Indonesia (Perbakin) yang kepengurusannya berakhir sejak 2022. Vakumnya kepengurusan dipicu oleh meninggalnya salah seorang pengurus.

"Saya sudah coba komunikasi. Sudah ada yang sanggup. Kebetulan yang saya tawari juga orang-orang yang suka dengan menembak. Juga punya komunitas. Tetapi ini masing merancang karena Perbakin, mohon maaf, tidak semua orang bisa (bergelut dengan olahraga menembak, Red)," katanya.

Bila soal Perbakin optimistis, Koko bersikap sebaliknyta untuk cabor dayung dan berkuda. Dua cabor itu membutuhkan anggaran yang besar. Kemudian, tempat latihan di Kota Kediri juga tidak ada. Demikian pula peralatan dan perlengkapan latihannya.

"Latihan berkuda di Kota Kediri ini maaf belum ada. Kedua, beli kudanya kalau bukan dari orang yang berduit juga nggak bisa. Dulu itu memang ada cuman saya belum di KONI (sebagai pengurus, Red)," katanya.

Untuk cabor dayung, Koko menyebut latihan para atlet sebelumnya dilakukan di Karangkates, Malang. Itu pun, peralatannya memang meminjam ke pengurus provinsi (pengprov). Seandainya latihan bisa digeser ke Kota Kediri, misalnya berlatih di Sungai Brantas, peralatan mendayung belum ada.

"Kalaupun bisa di bendungan, anggarannya juga besar. Harus beli perahunya dan peralatan lainnya. Selain itu mencari figur dayung di Kota Kediri juga sulit. Tetapi untuk ini kami tetap usaha," akunya.
Untuk sepak takraw, Koko mengatakan akan segera memanggil pengurus PSTI. Menanyakan apa kendalanya. Sedangkan yang PDBI, mereka tak bisa terlalu ikut campur dalam pembentukan kepengurusan yang baru.

Koko menekankan bahwa pihaknya akan terus berupaya untuk menghidupkan cabor-cabor yang vakum. Entah karena pengurusannya yang mati ataukan karena pembinaannya yang tidak berjalan. 
Pasalnya, KONI Kota Kediri punya target yang besar untuk prestasi porprov kedepan. Khusus 2027, pihaknya ingin membawa pulang 85 medali emas!

Lalu pada 2029 mendatang, lantaran pihaknya yakin akan menjadi tuan rumah porprov, maka targetnya adalah menjadi runner-up. Yakni menjadi juara umum kedua se-Jawa Timur.

"Kami harus kerja keras, dengan cabor-cabor yang hidup itu, kami bisa menambah poin dari medali perak atau perunggu. Saya sudah bilang ke cabor, kalau misalnya di kejurprov bisa mendapatkan minimal perunggu, saya akan ikutsertakan untuk porprov, bagaimana pun caranya," tandasnya. (emilia susanti/fud)

Editor : Mahfud
#liputan khusus radar kediri #cabor vakum kota kediri #anggaran kota kediri #masalah cabor kota kediri #koni kota kediri