Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Luna Maya dan Bandara Dhoho

K
Catatan Awal Pekan
Catatan Awal Pekan

Advertisement

Artis papan atas Luna Maya suatu ketika nge-vlog di akun media sosialnya, menceritakan pengalamannya ketika mendarat di Bandara Dhoho Kediri. Dia memuji bandara tersebut. Keindahannya dan keunikannya. Bahkan, dia ternyata baru tahu, bahwa di Kediri ada bandara. 

Sebelumnya, salah satu tokoh nasional yang juga putri (alm) KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Zannuba Ariffah Chafsoh (Yenny Wahid) juga bikin konten di akun sosmed nya tentang Bandara Dhoho. Dia juga memuji keindahan Bandara Dhoho. Yang di dalamnya sarat dengan nilai-nilai filosofi sejarah dan budaya nusantara. 

Mungkin, konten-konten tentang indahnya Bandara Dhoho, cukup banyak bersliweran di media sosial. Namun, pertanyaannya, mengapa hingga kini, masih sulit mengkonversi ketenaran bandara Dhoho itu menjadi jumlah penumpang yang semakin meningkat? 

Advertisement

Dalam konteks marketing, ada kutipan yang cukup terkenal dan menurut saya relevan dengan pertanyaan di atas: “Awareness is not the same as purchase”. Orang boleh mengenal sebuah produk, tetapi belum tentu membelinya. 

Dalam konteks Bandara Dhoho, video-video TikTok yang dibuat oleh para artis terkenal dan figur nasional mungkin berhasil membangun brand awareness yang sangat tinggi. Orang menjadi banyak yang tahu, bahwa Kediri memiliki bandara yang modern, indah, dan nyaman. Namun  dalam industri penerbangan, ketenaran hanyalah langkah pertama. Keputusan seseorang membeli tiket pesawat, jauh lebih kompleks daripada sekadar rasa kagum terhadap bangunan bandara. 

Advertisement

Menurut Philip Kotler dan Kevin Lane Keller dalam “Marketing Management”, proses keputusan pembelian dipengaruhi oleh nilai yang dirasakan (perceived value). Ketika orang akan membeli tiket pesawat dari Bandara Dhoho maupun menuju Bandara Dhoho, maka di benak mereka akan muncul beberapa pertanyaan: apakah bandara ini memberikan pilihan penerbangan yang sesuai? Apakah jadwalnya fleksibel? Apakah harga tiketnya kompetitif? Jika jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut belum memuaskan, maka akan sulit rasanya mengubah dari kekaguman menjadi transaksi. 

Inilah tantangan yang sedang dihadapi Bandara Dhoho. Mungkin masyarakat sudah banyak yang mengenal Bandara Dhoho. Tetapi, secara fungsional, sebagian calon penumpang masih memiliki banyak pertimbangan. Di antara yang menjadi pertimbangan: Pertama, keterbatasan rute penerbangan. Semakin banyak pilihan rute, akan semakin besar pula peluang masyarakat menggunakan sebuah bandara. Sebaliknya, ketika pilihan tujuan masih terbatas (seperti Bandara Dhoho saat ini), maka sebagian calon penumpang akan tetap memilih bandara lain yang menawarkan konektivitas lebih luas. Teori Network Effect dalam ekonomi transportasi menjelaskan bahwa nilai sebuah jaringan akan meningkat seiring bertambahnya jumlah koneksi yang tersedia. 

Kedua, frekuensi penerbangan yang belum tinggi. Bagi pelaku bisnis maupun wisatawan, fleksibilitas waktu merupakan faktor penting. Mereka tidak hanya mempertimbangkan tujuan, tetapi juga pilihan jam keberangkatan dan kepulangan. Bandara dengan frekuensi penerbangan yang lebih banyak, memiliki daya tarik yang lebih tinggi, karena memberikan keleluasan kepada penumpang. 

Ketiga, perilaku masyarakat yang telah terbentuk selama bertahun-tahun. Selama puluhan tahun, masyarakat Kediri Raya terbiasa berangkat melalui Bandara Juanda, Surabaya. Kebiasaan seperti ini tidak mudah berubah hanya karena hadirnya bandara baru. Dalam teori perilaku konsumen, kebiasaan (habit) merupakan salah satu faktor yang paling sulit diubah. 

Keempat, ekosistem pariwisata dan bisnis yang masih terus berkembang. Bandara tidak dapat bekerja sendirian. Jumlah penumpang akan meningkat apabila di belakangnya terdapat aktivitas ekonomi yang juga meningkat. Festival, pameran nasional, konferensi, investasi baru, sport tourism, wisata budaya, hingga perjalanan ibadah, akan menciptakan permintaan yang berkelanjutan terhadap transportasi udara. 

Advertisement

Artikel Terkait

Lipsus Mengunjungi Kampung-Kampung Anyar di Sekitar Bandara Dhoho Kediri (2):  Upaya Pertahankan Modal Sosial tapi Tak Boleh Ini!

Lipsus Mengunjungi Kampung-Kampung Anyar di Sekitar Bandara Dhoho Kediri (2): Upaya Pertahankan Modal Sosial tapi Tak Boleh Ini!

Munculnya kampung-kampung baru di sekitar kawasan Bandara Dhoho bukan sekadar perpindahan rumah warga yang terdampak pembebasan lahan.

Lipsus Mengunjungi Kampung-Kampung Anyar di Sekitar Bandara Dhoho Kediri (1):  SHM Tak Kunjung Terbit karena Tempati Lahan Hijau

Lipsus Mengunjungi Kampung-Kampung Anyar di Sekitar Bandara Dhoho Kediri (1): SHM Tak Kunjung Terbit karena Tempati Lahan Hijau

Bandara Dhoho mengubah lanskap Kediri, terutama di bagian barat Sungai Brantas. Beberapa kampung baru pun terbentuk, lengkap geliat kehidupannya yang berbeda.

Kebut Persiapan Embarkasi Bandara Dhoho Kediri: Pemkab Usulkan 6,5 Hektare Tanah untuk Bangun Penginapan, Begini Progresnya

Kebut Persiapan Embarkasi Bandara Dhoho Kediri: Pemkab Usulkan 6,5 Hektare Tanah untuk Bangun Penginapan, Begini Progresnya

Pemkab Kediri juga menawarkan lahan seluas 6,5 hektare di dekat Bandara Dhoho. Tepatnya di dekat area lapangan golf di depan bandara.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer