Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Lipsus Menelisik Kasus Teror Pocong di Kediri, Terencana atau Sekadar FOMO? (2) Imbas Kecemasan akibat Tekanan Ekonomi dan Perubahan Sosial Cepat

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Selasa, 2 Juni 2026 | 07:49 WIB
Ilustrasi prank pocong di sosmed (Ilustrasi Afrizal)
Ilustrasi prank pocong di sosmed (Ilustrasi Afrizal)

Mengapa muncul ‘teror’ pocong seperti sekarang? Pengamat sosial Dr Taufik Alamin, MSi melihatnya tak sekadar kenakalan remaja.

Melainkan ada persoalan yang lebih dalam. Tidak bisa dilepaskan dari situasi sosial masyarakat saat ini. Serta pengaruh kuat media sosial dalam membentuk perilaku publik.

Masyarakat saat ini berada dalam situasi yang penuh kecemasan. Mobilitas yang tinggi, tekanan ekonomi, hingga perubahan sosial yang berlangsung cepat membuat mereka rentan terhadap berbagai isu yang memicu ketakutan.

“Ada kepanikan sosial yang sebenarnya sedang berlangsung,” tengara dosen UIN Syekh Wasil Kediri itu.

Dalam konteks itu, sosok pocong menjadi simbol yang mudah memantik respons masyarakat. Sebab, dalam budaya Jawa, pocong sejak lama identik dengan sesuatu yang menyeramkan dan menakutkan.

Ketika simbol tersebut muncul berulang-ulang di media sosial, masyarakat secara tidak sadar meresponsnya dengan rasa waswas yang sama.

“Pocong itu simbol ketakutan. Membuat orang tegang, membuat orang takut keluar rumah. Itu sebenarnya simbol dari masyarakat yang sedang panik,” jelasnya.

Karena itu, menurut Taufik, masyarakat yang langsung percaya atau panik saat melihat kemunculan pocong bukan semata-mata karena persoalan mistis.

Lebih jauh, hal tersebut berkaitan dengan kondisi psikologi sosial yang sedang berkembang.

Baca Juga: Lipsus Hari Buku Nasional (1) : Tren Kedai Kopi Sediakan Koleksi Buku, Tumbuhkan Gairah Literasi atau Cuma Pindahkan Ruang Baca?

Wakil Rektor 1 UIN Syekh Wasil Kediri itu menilai situasi ekonomi dan sosial yang tidak selalu stabil turut memengaruhi cara masyarakat menerima informasi.

Ketika kehidupan sehari-hari dipenuhi berbagai tekanan, masyarakat menjadi lebih mudah goyah dan bereaksi berlebihan terhadap sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu signifikan.

“Kita ini gampang panik. Padahal secara agama maupun rasional sebenarnya sudah selesai. Tapi kenapa menjadi geger? Karena situasi yang sedang kita hadapi juga tidak sedang baik-baik saja,” jelas Ketua Lembaha Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UIN Syekh Wasil Kediri itu.

Di sisi lain, fenomena itu juga bertemu dengan kebutuhan anak muda untuk menunjukkan eksistensi diri. Generasi muda saat ini tumbuh dalam lingkungan digital.

Sebagian besar aktivitas sosial mereka berlangsung di media sosial. Akibatnya, ukuran eksistensi sering kali ditentukan oleh seberapa banyak perhatian yang berhasil mereka dapatkan di dunia maya.

Menurut Taufik, kebutuhan untuk mendapatkan perhatian itulah yang mendorong sebagian anak muda membuat konten-konten yang tidak biasa. Termasuk aksi pocong yang belakangan marak bermunculan.

“Habitat mereka sekarang ada di media sosial. Di ruang virtual itu mereka ingin menunjukkan eksistensi diri,” ungkapnya.

Yang menarik, fenomena tersebut terjadi ketika kebutuhan eksistensi anak muda bertemu dengan kecemasan masyarakat.

Baca Juga: Lipsus Menelusuri Jejak Sejarah Peradaban Barat Sungai Era Kekuasaan Belanda (3), SDN Mojoroto 3 Merajut Pendidikan di Gedung Tua Era Kolonial Belanda

Saat anak-anak muda membuat konten yang dianggap unik atau menyeramkan, masyarakat meresponsnya secara serius. Pertemuan dua kondisi itu membuat fenomena tersebut semakin cepat menyebar.

Taufik menilai kemunculan aksi pocong di berbagai daerah bukan sesuatu yang terorganisasi. Dia lebih melihatnya sebagai efek dari sistem komunikasi digital yang saat ini didominasi algoritma media sosial.

“Ini bukan harus dilihat sebagai sesuatu yang direkayasa. Sistem algoritma itu sendiri sudah mampu menciptakan gelombang yang memunculkan reaksi di mana-mana,” jelasnya.

Akibatnya, ketika satu video pocong viral di suatu daerah, daerah lain berpotensi memunculkan aksi serupa.

 Bukan karena ada koordinasi, melainkan karena pengguna media sosial melihat, meniru, lalu memproduksi ulang konten yang sama.

Fenomena tersebut dalam kajian media dikenal sebagai hiperealitas. Yakni kondisi ketika sesuatu yang sebenarnya kecil atau tidak terlalu penting terus-menerus direproduksi sehingga tampak jauh lebih besar daripada kenyataan yang sesungguhnya.

Baca Juga: Lipsus Hari Buku Nasional (2) : Koleksi Jadul Milik Ibu pun Ikutan Dipajang

“Sesuatu yang sebenarnya tidak signifikan, karena terus disuarakan dan dikomentari, akhirnya terlihat lebih nyata daripada realitas itu sendiri,” terangnya.

Karena itu, Taufik mengingatkan agar fenomena pocong tidak semata-mata dipandang sebagai persoalan kriminalitas atau gangguan keamanan.

Menurutnya, yang lebih penting adalah membaca gejala sosial yang sedang berlangsung di balik fenomena tersebut.

Dia menilai pemerintah dan masyarakat perlu menyediakan lebih banyak ruang bagi anak muda untuk berekspresi secara positif.

Sebab, kebutuhan akan eksistensi tidak akan hilang. Yang bisa dilakukan adalah mengarahkan energi tersebut ke aktivitas yang lebih produktif.

Karena itu, dia menilai fenomena pocong yang belakangan viral seharusnya menjadi alarm bagi semua pihak.

 Bukan tentang keberadaan makhluk gaib yang menakutkan, melainkan tentang bagaimana kecemasan sosial, kebutuhan eksistensi, dan algoritma media sosial bertemu dalam satu ruang yang sama lalu melahirkan fenomena yang akhirnya dipercaya banyak orang sebagai sesuatu yang nyata.

Editor : Andhika Attar Anindita
#konten prank #hiperrealitas #video pocong viral #kenakalan remaja #teror