Kamis, 23 April lalu diperingati sebagai Hari Buku Sedunia. Momentum mengulas kembali bagaimana pendidikan literasi berdampak bagi kehidupan masyarakat sehari-hari. Pertanyaannya adalah, apakah akses terhadap buku sudah banyak didapatkan masyarakat?
Di tengah keramaian Taman Sekartaji Jumat siang (24/4), Albert fokus membolak-balik halaman buku anak di tangannya. Seolah tak peduli sekitar, bocah 8 tahun itu duduk lesehan di lantai Pojok Baca. Di depan satu rak buku.
Tak terasa, hampir dua jam sang bocah itu asyik dengan ‘dunianya’.
“Anak saya punya hambatan berbicara. Tapi dia suka sekali pada buku,” ucap Cornelia, ibunda Albert. Perempuan itu dengan telaten menemani sang anak menghabiskan waktu di Pojok Baca, perpustakaan mini untuk umum yang berada di Taman Sekartaji.
Albert tak mengenal hari buku. Dia hanya ingin mengambil dan melihat semua buku anak yang ada. Pilihannya memang jatuh pada buku khusus untuk usia dirinya itu. Buku yang penuh warna dan gambar beragam.
Baca Juga: Hari Buku Sedunia, Ini 10 Rekomendasi Buku yang Wajib Kamu Baca Minimal Sekali Seumur Hidup
Dia juga lebih tertarik dengan gambar-gambar itu dibanding dengan deretan huruf yang juga tersaji. Wajar, sang bocah memang belum lancar membaca.
Beberapa kali Albert tersenyum sendiri. Atau, bersemangat kala mendapati permainan interaktif di buku yang dia buka.
“Meskipun belum lancar membaca tapi dia senang sekali sama buku,” sang ibu kembali menjelaskan tentang sang anak.
Saking sukanya dengan buku, ibu asal Kandat itu sampai mencari-cari informasi perpustakaan umum yang bisa diakses. Hal yang cukup sulit bagi dirinya. Akhirnya, demi memuaskan hobi sang putra dia lebih sering mengunjungi toko buku.
“Kemarin saya cari-cari perpustakaan umum di internet. Ada di Kota Kediri tapi ternyata sekarang lagi tutup. Terus baru ketemu ini (Pojok Baca Taman Sekartaji, Red) dan baru kali ini ke sini,” ucapnya, mengisahkan upaya kerasnya memuaskan hobi sang anak.
Keberadaan fasilitas perpustakaan di ruang publik itu menurutnya sangat membantu bagi orang tua sepertinya. Sebab, anaknya bisa menghabiskan waktu untuk kegiatan yang positif.
Alih-alih bermain gawai terus-terusan, anak bisa larut dalam buku dengan suasana yang santai seperti di taman kota.
Baca Juga: Tsundoku, Ketika Beli Buku Terasa Lebih Menyenangkan daripada Membacanya
“Inginnya semakin banyak difasilitasi perpustakaan seperti ini. Soalnya ada anak yang meskipun belum lancar membaca, tapi mereka suka melihat-lihat buku. Walaupun cuma buka-buka halaman saja, tapi kan bisa menambah ilmu pengetahuan anak,” ungkap Cornelia.
Kebutuhan memperbanyak ruang literasi publik itu juga menjadi usulan para pegiat literasi.
Relawan Literasi Masyarakat (Relima) Kota Kediri Kinan Esty mengatakan, sudah saatnya pemerintah memperbanyak ruang literasi publik yang rekreatif di setiap sudut kota.
Sehingga gema literasi tidak hanya dirayakan setahun sekali, melainkan harus membawa kebijakan yang berkelanjutan. Termasuk dukungan bagi komunitas lokal.
“Pemerintah juga harapannya bisa memberi ruang bagi pegiat literasi lokal dalam merumuskan kebijakan strategis daerah. Mungkin bisa dilibatkan untuk membuat program yang benar-benar bersifat bottom up dan menjawab kebutuhan nyata masyarakat Kota Kediri,” tandasnya.
Baca Juga: Kisah dari Rusunawa Kota Kediri: Mengubah Sudut Sempit Menjadi Pojok Baca yang Menghidupkan Mimpi
Menggaungkan budaya membaca di masyarakat saat ini juga dihadapkan dengan tren pergeseran budaya literasi. Utamanya di kalangan pelajar.
Perempuan yang akrab disapa Esty itu mengungkapkan, saat ini ada kecenderungan budaya literasi digital yang meningkat. Hanya saja, tidak dibarengi dengan kedalaman membaca.
Itu dapat terlihat dari banyaknya pelajar yang aktif menelusuri berbagai media informasi di internet, termasuk media sosial.
“Sehingga, pelajar kita yang sangat cepat menyerap informasi pendek di media sosial, itu pintar mereka. Tetapi tantangannya sekarang mengajak mereka menikmati kembali proses membaca buku yang mendalam atau istilahnya deep reading,” ungkap perempuan yang juga Wakil Ketua Forum Literasi Kediri itu.
Sebagai relawan literasi, Esty mengatakan pada dasarnya akses buku sekarang justru lebih luas dengan adanya buku digital. Yang menjadi kendala saat ini menurutnya justru keterbatasan koleksi buku yang berkualitas.
Baca Juga: Hari Buku Sedunia Diperingati 23 April, Ini Makna dan Peran Program World Book Capital oleh UNESCO
“Masih ada jarak yang renggang antara ketersediaan buku yang bagus dengan masyarakat di ruang publik maupun di lingkup keluarga sendiri,” tandasnya.
Tantangan lainnya adalah memberikan pemahaman bahwa literasi bukan lagi hal formal yang membosankan. Melainkan bisa dilakukan dengan menyenangkan bagi semua kalangan. Itu salah satunya dilakukan oleh komunitas pegiat literasi melalui kegiatan membaca yang disesuaikan dengan kebutuhan zaman.
“Kami meyakini literasi itu harus menjemput bola dengan cara yang kreatif dan inklusif. Dan langkah konkret yang kami lakukan di Kota Kediri utamanya itu membangun ekosistem komunitas,” sambung perempuan kelahiran 1993 itu. (ayu isma/fud)
Editor : Andhika Attar Anindita