Mencari pasar baru. Itulah yang tengah dimitigasi oleh Disperindag Kabupaten Kediri. Mencari negara yang bisa menjadi tujuan ekspor bagi industri arang kayu. Misal ke Vietnam, Thailand, Korea Selatan, hingga Jepang.
“Sebenarnya juga bisa digeser ke permintaan domestik. Sebenarnya arang di Gadungan ini kan juga bisa diserap untuk permintaan lokal di sekitar sini. Misal Mojokerto, Sidoarjo, Surabaya, Pasuruan, itu sebenarnya masih bisa,” terang Roni Jatmiko.
Diversifikasi tujuan ekspor perlu dilakukan agar industri arang tetap berjalan. Menjadi salah satu solusi menghadapi situasi sekarang ini. Solusi lainnya adalah business matching dengan jenis usaha lain yang memerlukan arang.
“Misalnya hotel dan restoran kan sekarang ada gerakan kembali ke alam. Atau untuk arang itu kan taste-nya punya khas gitu ya, mungkin itu juga yang bisa dipromosikan,” lanjutnya.
Roni menegaskan, pemkab akan berkoordinasi dengan Pemerintah Pusat. Baik dari Kementerian Perdagangan maupun Kementerian Perindustrian. Mengingat kebijakan perdagangan antar-negara adalah ranah Pusat.
“Artinya kami butuh koordinasi terus dengan Pemerintah Pusat, nanti arahannya seperti apa? Nanti kami bantu supaya turun ke pelaku industri ekspor,” jelasnya.
Terpisah, pengamat ekonomi di Kediri Raya Subagyo menuturkan, produk-produk yang memiliki tujuan ekspor ke wilayah Timur Tengah pasti merasakan dampak secara langsung. Karena ada gangguan logistik yang akhirnya membuat biaya pengiriman menjadi tinggi. Alasa tersebutlah yang membuat pembeli atau pengimpor menunda permintaan atau bahkan membatalkannya.
“Atau bisa jadi importir memilih supplier yang lebih dekat misalnya. Tapi bisa pula karena arang Indonesia kurang kompetitif, tapi ini harus dibandingkan ya, sehingga importir mencari alternatif yang lebih murah,” terangnya.
Di sisi lain, negera di Timur Tengah dan sekitarnya juga akan mengutamakan stabilitas ekonomi negaranya terlebih dahulu. Ada kemungkinan negara-negara tersebut mengurangi aktivitasnya impornya. Utamanya pada barang-barang yang bukan prioritas utama.
Subagyo menyarankan agar pemerintah turun membantu pelaku usaha mencari negara tujuan ekspor yang baru. Alias melakukan diversifikasi pasar ekspor.
“Jangan hanya ke Timur Tengah. Misalnya ke Eropa Timur, ke Asia Selatan, atau mungkin Afrika. Nah itukan mungkin negara yang belum menjadi prioritas ekspor. Jadi bisa menjajaki peluang ke situ,” ujarnya.
Di samping itu, melakukan program business-to-business (B2B) juga bisa menjadi opsi untuk mengembangkan industri arang. Melalui program ini, pelaku usaha bisa melakukan rebranding terhadap produk arang. Misalnya membuat arang premium, membuat arang bersertifikat, dan lain sebagainya.
“Itu kan bisa mempromosikan produk tapi kan juga perlu dikemas dengan baik. Nah itu perlu ada pelatihan-pelatihan. Pemerintah bisa memfasilitasi di situ,” ujarnya.
Sementara, Deputi Kepala Perwakilan BI Kediri Deasi Surya Andarina juga berpendapat serupa. Dia menyarankan agar adanya diversifikasi pasar ekspor. Intinya, para pelaku usaha harus bisa mencari celah untuk mendapat peluang pasar yang baru.
“Katakanlah kalau dulu tujuan ekspornya hanya ke Arab saja, sekarang harus penjajakan lagi yang baru. Oh misalnya ada di Asia yang lain. Atau juga bisa juga di dalam negeri, oh ternyata ada lo kebutuhan arang di Sumatera atau di Kalimantan. Jadi mungkin akan tercipta perdangan-perdangan baru,” tandasnya. (emilia susanti/fud)
Editor : Andhika Attar Anindita