Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Ketika Kartu Tarot Jadi ‘Bagian Hidup’ Gen-Z Awalnya FOMO, Tak Hati-Hati Bisa Kecanduan

Diana Yunita Sari • Rabu, 4 Februari 2026 | 23:17 WIB

 

Ilustrasi kartu tarot yang tengah ramai digemari Gen-Z (Ilustrasi: Afrizal/JPRK)
Ilustrasi kartu tarot yang tengah ramai digemari Gen-Z (Ilustrasi: Afrizal/JPRK)

Wujudnya adalah tumpukan kartu berjumlah 78 lembar. Bagi penyukanya, kartu-kartu itu bisa ‘berdialog’, membantu memecahkan masalah. Bahayanya, ‘berdialog’ dengan tarot bisa menyebabkan kecanduan!

Sabtu pagi itu, di salah satu sudut Pecinan Kota Kediri. Suasananya lebih hidup dari biasanya. Aroma kopi dan makanan kekinian menyeruak. Muncul dari kerumunan pengunjung event Kopi Pagi Pecinan Ngangeni (Kopinang).

Kopinang, salah satu acara wisata kuliner. Berlangsungnya setiap Sabtu pagi. Mulai pukul 06.00 hingga 10.00. Tempatnya, di wilayah Kelurahan Pakelan, Kecamatan Kota. Tepatnya di sisi timur Jalan Dr Wahidin.

Saat acara itu berlangsung, suasananya dikemas seakan tempo dulu. Dengan dekoratif ala pecinan. Juga jajaran para pedagang jalanan. Mulai kopi hingga jajanan.

Namun, di salah satu sudut, ada pemandangan berbeda. Sekaligus mampu mencuri perhatian. Bukan stan kuliner, melainkan meja pendek kecil yang dilapisi taplak kain warna hitam.

Di meja itu ada sebaris kartu dan benda bulat berwarna putih laksana kristal. Ada juga kertas besar dengan posisi berdiri, lengkap simbol QR Code, sebagai sarana bertransaksi.

Ya, meja itu adalah tempat Raga membuka jasa ‘Bincang Tarot. Pria berkaos putih itu duduk di kursi pendek.

Sedangkan di seberang meja ada pelanggan yang tengah ‘dibaca’ nasibnya. Sedangkan di belakangnya, antrean panjang terjadi.

Wajah-wajah muda para generasi Z. Mereka sabar menunggu giliran untuk ‘berdialog’ dengan kartu. Bagi para gen-Z, termasuk di Kediri, membaca kartu tarot sedang naik daun.

Mereka memanfaatkan kartu permainan asal Italia itu untuk beragam keperluan. Bisa ramalan nasib, atau media berbagi dan memecahkan masalah kehidupan.

Ovie Sandy, 23, warga Kecamatan Pare, adalah salah satu gen-Z yang telah lama menggunakan jasa Tarot.

Awalnya hanya iseng saat hatinya galau akibat urusan asmara. Ketertarikannya muncul ketika konten Tarot melintas di FYP (for your page) akun TikTok-nya.

Baca Juga: LIPSUS: Modal Kreatif, BUMDes di Kabupaten Kediri Raup Pendapatan Puluhan Juta Saat Dana Desa Dipangkas

“Karena kalau pakai jasa pembaca tarot kan kita bisa bebas bercerita dan memberikan rasa aman tanpa perlu menjelaskan panjang lebar,” dalihnya.

Jasa tarif tarot online yang pernah dia coba harganya murah. Berkisar Rp 2 ribu hingga Rp 10 ribu.

Sangat terjangkau bagi anak muda seperti dirinya. Karena itu dia bisa rutin berkonsultasi hingga sebulan dua kali.

Tapi, pemuda ini berkilah tak memandang tarot sebagai ramalan nasib yang pasti. Dia menggunakan deretan kartu sebagai alat refleksi diri dan afirmasi.

Meskipun, hasil pembacaan kartu sudah pasti memengaruhi keputusan yang akan dia ambil. "Menurut saya, efeknya tenang dan menjawab rasa ingin tahu. Saya tidak ketergantungan sama sekali," kilahnya.

Putri, 22, warga Desa Jongbiru, juga mengatakan bahwa pertama kali ia mengenal dunia tarot yaitu saat mengunjungi pameran seni di kampusnya.

"Awalnya tentang percintaan, ditanya tanggal lahir dan muncul tiga kartu. Rasanya relate dan ternyata sangat membantu," aku Putri.

Baginya, daripada terjebak dalam bingung dan galau yang merusak kehidupan, ia lebih memilih menggunakan jasa tarot.

Meski begitu, ia tetap memiliki batasan tentang apa yang ia tanyakan. Yaitu ia tidak berani bertanya yang berkaitan dengan karir. Baginya karir adalah hal yang sakral dan menyerahkannya kepada Tuhan.

Di sisi lain, banyak juga Gen-Z yang mencoba tarot karena faktor FOMO (fear of Missing Out) atau sekadar seru-seruan.

Salah satunya adalah Hasan, 19, warga Kelurahan Banjaran. Dia mengaku baru pertama kali mencoba karena rekomendasi teman.

"Apalagi sedang viral di sosmed. Saya mau tanya tentang pendidikan karena mau daftar kuliah, siapa tahu bisa menemukan jawaban," harapnya.

Begitu pula dengan Ramadania Sandrafara, 19, dari Ngadiluwih. Baginya, tarot adalah media hiburan untuk seru-seruan saja dan tidak ia tanggapi secara serius "Terbawa arus TikTok saja buat seru-seruan. Soal percaya atau tidak, itu balik ke diri sendiri. Saya tetap berpasrah pada Tuhan," ujarnya.

Raga, pemilik stan "Bincang Tarot" juga menegaskan bahwa jasa yang dia berikan bukan sesuatu yang mistis.

Dia bahkan memandang bincang tarot sebagai rumah yang aman untuk bercerita. Sekaligus menemukan pengetahuan baru.

Sebab, dia sadar banyak orang butuh teman berbagi tapi tidak memiliki seseorang untuk diajak bicara.

“Saya tidak membawa ke arah mistis atau apapun itu. Jadi, tidak butuhlah itu sebut nama atau tanggal lahir,” ucap pria asal Kelurahan Banjaran, Kecamatan Kota ini sambil melengkapi dengan tawa lebar.

Raga sendiri menggeluti tarot sejak 2009. Ketika dia berkuliah di jurusan psikologi salah satu perguruan tinggi di Malang.

"Saya tertarik karena sejarah dan kebijakan di setiap kartunya. Di pengaplikasiannya, ternyata ini bisa membantu orang," aku Raga.

Bagaimana cara kerja berdialog dengan kartu tarot? Menurut Raga, misal seseorang mengambil satu kartu, ada quote atau kata-kata.

Misal, strenght itu berarti menjadi kuat. Sehingga dia akan memberi saran agar lebih kuat pada diri sendiri. Tentu saja dengan terlebih dulu membiarkan konsumennya bercerita.

“Jadi aku bukan membaca masalah mereka atau meramal mereka. Namun menanyakan pertanyaan yang tepat. Setelah itu saya beri mereka opsi yang terbaik,” jelasnya.

Jumlah kartu tarot sendiri ada 78 lembar. Setiap kartu memiliki dua arti.

Raga menjelaskan bahwa secara historis, tarot dibawa oleh kaum Gipsi yang nomaden. Mereka memiliki pengetahuan luas karena berpindah-pindah tempat.

Sehingga saat ditanya penduduk lokal soal masalah seperti kekeringan,  mereka mampu menjawab berdasarkan wawasan tersebut. Sayangnya, hal ini sering disalahartikan sebagai ramalan gaib.

Raga mengakui ada tantangan tersendiri membuka jasa di Kediri dibanding di Malang. Banyak warga Kediri yang masih awam dan menganggapnya klenik.

"Maka saya sampaikan, tarot itu bukan ramalan, tapi untuk mengenal diri sendiri."

Meski menawarkan ketenangan, para pengguna sadar akan adanya sisi negatif. Ovie Sandy mengingatkan pentingnya kontrol diri.

"Jika tidak mampu menahan diri, bisa kecanduan. Setiap keputusan kecil harus dijawab tarot, bahkan bisa membuat kita malah menghindar dari masalah yang sebenarnya karena terlalu bergantung pada hasil bacaan," tutupnya.

Editor : Andhika Attar Anindita
#kabupaten kediri #tarot reader #kediri #kartu tarot #tarot #Gen Z #Kelurahan Pakelan Kota Kediri #tarot reading #Kopinang Kota Kediri #kota kediri