Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Lipsus Tantangan Menjaga Kebersihan Kawasan Sumpang Lima Gumul KediriBegini Kata Pengamat

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Jumat, 2 Januari 2026 | 22:36 WIB
Sampah yang berserakan di area SLG sampai menggunung dan sebabkan bau (Foto Asad MS)
Sampah yang berserakan di area SLG sampai menggunung dan sebabkan bau (Foto Asad MS)

Kondisi area SLG yang kotor merupakan dampak dari kesadaran masyarakat terhadap lingkungan yang masih rendah.

Terutama dalam hal membuang sampah pada tempatnya. Tak hanya lebih konsen dengan kesehatan, lingkungan, dan kebersihan.

Sebaliknya, masyarakat yang ekonominya masih berat sering kali fokusnya hanya bagaimana bisa makan hari ini. "Lingkungan dan kesehatan akhirnya jadi nomor sekian," ujar Endang Pertiwi, aktivis lingkungan.

Endang kembali menegaskan, perilaku seseorang dalam menyikapi sampah dipengaruhi oleh banyak hal. Faktor karakter menjadi dasar, disusul tingkat pendidikan atau SDM, serta kondisi ekonomi.

Menurutnya, masyarakat dengan kondisi ekonomi yang lebih mapan cenderung memiliki kepedulian lebih tinggi terhadap kebersihan, kesehatan, dan lingkungan sekitar.qu1

Ia mencontohkan, masih banyak warga yang enggan membayar iuran pengelolaan sampah bulanan yang nilainya relatif kecil, berkisar Rp 25 ribu hingga Rp 50 ribu.

Alih-alih mengikuti sistem pengelolaan sampah, sebagian memilih membuang sampah ke sungai atau membakarnya sendiri.

Seperti Simpang Lima Gumul (SLG) misalnya. Terutama pada akhir pekan dan hari libur, menghasilkan volume sampah yang jauh lebih tinggi dibanding hari biasa.

Dalam beberapa kegiatan pemantauan dan sosialisasi yang pernah dilakukan bersama pegiat bank sampah dan DLH, Endang melihat langsung kebiasaan pedagang dan pengunjung.

Banyak pedagang menyajikan makanan panas langsung dalam kemasan plastik sekali pakai, mulai dari sempol, sate, hingga makanan kekinian. Pembeli pun kerap mengonsumsi makanan sambil berjalan atau berkeliling.

“Sebagian memang membuang sampah ke tempat sampah, tapi banyak juga yang asal menaruh. Kadang diletakkan di bawah bangku, atau tertiup angin ke mana-mana. Padahal tempat sampah itu ada, jaraknya hanya beberapa langkah,” katanya.

Meski sudah dilakukan edukasi kepada pedagang agar mengingatkan pembeli membuang sampah pada tempatnya, kenyataannya masih banyak yang abai.

Endang menilai, kesadaran yang setengah-setengah menjadi persoalan utama. Banyak orang sebenarnya tahu bahwa membuang sampah sembarangan itu salah, namun tetap dilakukan karena tidak adanya rasa peduli.

“Ini yang sering terjadi. Sadar itu salah, tapi tetap dilakukan. Artinya bukan tidak tahu, tapi tidak peduli,” tegasnya.

Endang juga menyoroti penggunaan plastik untuk makanan panas yang berpotensi membahayakan kesehatan karena mikroplastik.

Menurutnya, masyarakat dengan wawasan dan pendidikan yang lebih baik biasanya akan menghindari kemasan plastik untuk makanan panas, bahkan memilih membawa wadah sendiri dari rumah.

Terkait regulasi, Endang menilai aturan pembatasan sampah plastik sebenarnya sudah ada, termasuk sanksi bertahap hingga penghentian aktivitas usaha.

Namun, tantangan terbesarnya adalah pemerataan sosialisasi. Kabupaten Kediri yang memiliki wilayah luas dengan ratusan desa membuat upaya edukasi tidak bisa hanya terpusat di kawasan perkotaan.

“Sosialisasi harus terus berjalan dan merata. Tidak hanya di pusat kota. Wilayah Kabupaten Kediri luas, jarak antarwilayah jauh. Ini butuh kerja bersama dan berkelanjutan,” ujarnya.

Menurut Endang, solusi utama tetap kembali pada kesadaran individu.

Fasilitas tempat sampah sudah tersedia, aturan sudah ada, tinggal kemauan masyarakat untuk peduli dan disiplin.

Ia berharap, kesadaran lingkungan bisa tumbuh seiring meningkatnya wawasan dan kepedulian masyarakat terhadap kesehatan dan masa depan lingkungan.

“Kalau kita ingin sehat dan lingkungannya lestari, ya mulai dari diri sendiri. Batasi penggunaan plastik, kelola sampah dengan benar, dan jangan buang sembarangan. Itu saja kuncinya,” pungkasnya.

Sebab, kalau kebiasaan itu terus dilakukan, otomatis citra SLG akan terkena dampak.

Karena masyarakat yang abai membuang sampah pada tempatnya, akhirnya. Sampah berserakan.

Masyarakat dari luar. Daerah yang datang pun jadi punya persepsi baru. Bahwa SLG tempat yang kumuh. (muhamd asad muhamiyus sidqi/fud)

Editor : Andhika Attar Anindita
#kebersihan #slg kediri #dlh #kawasan slg #sampah