Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Liputan Khusus: Dilema Pekerja Gen Z, Menurut Pengamat UMK Hanya Bisa Penuhi Kebutuhan Dasar  

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Senin, 29 Desember 2025 | 10:00 WIB

 

(ilustrasi Afrizal)
(ilustrasi Afrizal)

KEDIRI, JP Radar Kediri- Upah minimum, baik kota maupun kabupaten (UMK) ditujukan sebagai jaminan penghasilan terendah yang layak sebagai kebutuhan dasar.

Namun jika untuk kebutuhan sekunder, apalagi tersier, tentu saja masih kurang. Secara ekonomi cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar. Tapi belum mampu memenuhi gaya hidup Gen-Z.

“Karena gaya hidup modern yang dinamis,” kata pengamat ekonomi Dr Subagyo, MM.

Menurut dosen Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri ini, UMK bisa saja cukup untuk memenuhi kebutuhan dan gaya hidup gen Z.

Catatannya adalah  jika yang bersangkutan sebagian hidupnya masih ditanggung orang tua. Sehingga tidak menanggu biaya kebutuhan dasar yang banyak.

Berbeda jika mereka sudah lepas dari orang tua. Bahkan harus menyisihkan sebagian pendapatannya untuk orang tua,

“Kalau mereka mandiri (hidup sendiri) ya menurut saya hanya cukup untuk kebutuhan dasar minimum saja. Jadi hanya cukup untuk bertahan hidup. Seperti untuk kos, untuk makan,” jelas doktor ilmu ekonomi ini.

Walau sudah cukup untuk kebutuhan dasar yang minimum, UMK masih belum bisa mencukupi untuk bisa hidup yang nyaman.

Apalagi bisa punya tabungan yang cukup. Termasuk untuk memenuhi kebutuhan sosial seperti ngopi, nongkrongm dan sejenisnya.

Laki-laki berkumis tebal itu mengatakan, survei menunjukkan bahwa kebutuhan hidup layak (KHL) di Jawa Timur mencapai Rp 3,5 juta perbulan.

Sementara UMK Kediri masih jauh di bawah standar KHL Jawa Timur. Artinya, UMK Kediri belum bisa mencukupi agar bisa hidup nyaman.

Apalagi mencukupi gaya hidup yang dinamis.

Subagyo merinci, bagi pekerja gen Z yang hidup sendiri, untuk kebutuhan kos standar layak sekitar Rp 600 ribu. Itu belum termasuk biaya listrik.

“Berikutnya ada makan, katakanlah sekali makan Rp 15 ribu. Dikali tiga Rp 45 ribu. Dikali 30 hari sudah Rp 1.350.000,” rincinya.

Masih ada lagi kebutuhan bahan bakar kendaraan untuk bekerja dan kegiatan sehari-hari. Belum lagi kebutuhan internet.

“Dia ada kebutuhan sosial seperti nongkrong, ngopi, ya seminggu sekali lah. Sekitar Rp 50.000 misalnya. Kali empat (minggu) berapa? Apalagi yang perempuan harus ada skincare, bedak, lisptik. Otomatis uang gaji sebesar UMK habis. Bahkan untuk memenuhi semua itu tadi lebih dari UMK,” jelas dosen Prodi Magister Manajemen UNP Kediri ini.

karenanya, gaji dengan jumlah sebesar UMK akan kurang jika ada kebutuhan tidak terduga. Apalagi untuk menabung.

“Kalau dia kehidupan layak, kehidupan nyaman artinya punya tabungan juga. Nah paling enggak ya Rp 3,5 juta. Kalau idealnya minimal segitu,” terangnya.

Masalahnya, bila besaran gaji minimum Rp 3,5 juta per bulan, banyak perusahaan di Kediri yang tidak mampu membayar. Otomatis, UMK sebesar itu juga sulit diterapkan.

Solusi agar pekerja bisa hidup nyaman, menurut Subagyo, ada dua hal. yang pertama, adalah mengelola pengeluaran agar tidak melebihi gaji yang diterima.

“Jadi kalau menuruti keinginan enggak akan cukup. Jangan sampai lebih besar pasak daripada tiang ya,” jelasnya.

Alternatif lainnya, adalah mencari pekerjaan sampingan di luar pekerjaan utama. Tentu saja yang tidak mengganggu pekerjaan utama.

Pekerjaan sambilan ini didasari oleh talenta yang dimiliki. Contoh, menurut Subagyo, mengembangkan online shop. Atau mungkin jadi afiliator.

“Jadi memenuhi gaya hidup dengan mempunyai penghasilan kedua. Itu yang memungkinkan bisa meningkatkan kualitas hidupnya. Kalau hanya mengandalkan UMK akhirnya akan selalu pas-pasan.  Jadi kalau ingin lebih berkualitas, ya harus mampu meningkatkan kapasitas diri,” pesannya. 

 

Editor : rekian
#ekonomi #Gen Z #self reward #UMK (Upah Minimum Kabupaten) #self healing #generasi z